Eko Agoes Setiawan
Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten Indonesia

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

SIKAP MUSLIM SEBAGAI MINORITAS: ANALISIS WACANA PESAN DAKWAH FILM AYATAYAT CINTA 2 Eko Agoes Setiawan
INTELEKSIA - Jurnal Pengembangan Ilmu Dakwah Vol 1 No 1 (2019)
Publisher : STID Al-Hadid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (975.326 KB) | DOI: 10.55372/inteleksiajpid.v1i1.14

Abstract

Dakwah memerlukan media penyampaian, salah satunya adalah film. Filmmemiliki kemampuan untuk memengaruhi penonton sesuai pesan dakwah yangdiinginkan. Salah satu pesan dakwah yang diangkat adalah kehidupan kaum muslimminoritas. Isu mengenai kehidupan muslim di Eropa yang menunjukkan posisi muslimsebagai minoritas menarik untuk diulas. Faktanya tidak sedikit kaum muslimminoritas yang keliru dalam bersikap di tengah lingkungan nonmuslim. Film AyatAyat Cinta 2 salah satunya menampilkan wacana cerita kehidupan kaum muslimsebagai minoritas. Tulisan ini hendak menganalisis wacana pesan dakwahkehidupan kaum muslim minoritas yang ditampilkan dalam adegan dan dialog film.Proses pengambilan data dilakukan pada adegan film yang menggambarkanbagaimana kehidupan kaum muslim dalam lingkungan yang minoritas. Studimenggunakan riset kualitatif, untuk analisis wacana menggunakan pendekatanRoger Fowler, dkk. Kesimpulannya wacana pesan dakwah yang ditampilkan adalahmuslim sekalipun minoritas harus mau membantu tetangganya tanpa melihatidentitas agamanya, kaum muslim bisa memberikan maaf jika ada tindakanlingkungan yang merugikan, tetangga dianggap sebagai keluarga, dan menjauhisuatu kaum tidak didasarkan kepada identitas agama melainkan karena sikapmerugikan yang dimunculkan.
ANALISIS WACANA PESAN DAKWAH DI MEDIA TELEVISI: STUDI PADA CERAMAH MAMAH DEDEH “POLIGAMI BISAKAH ADIL?” Eko Agoes Setiawan
INTELEKSIA - Jurnal Pengembangan Ilmu Dakwah Vol 7 No 2 (2017): Jurnal Kajian & Pengembangan Manajemen Dakwah
Publisher : STID Al-Hadid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1070.762 KB) | DOI: 10.55372/inteleksiajpid.v7i2.164

Abstract

Wacana dan media tidak dapat dipisahkan. Setiap berita yang disampaikan oleh media selalu memiliki wacana untuk para pembacanya. Salah satu wacana yang seringkali menuai pro dan kontra adalah poligami. Banyak bentuk dukungan dan penolakan yang dilakukan yakni melalui media sosial, pembuatan komunitas pro maupun kontra poligami, aksi demo maupun sampai dengan debat terbuka mengenai poligami. Studi ini hendak menganalisis posisi perempuan dalam wacana poligami Mamah Dedeh yang ditayangkan di televisi dalam acara “Mamah dan Aa Beraksi” dengan tema “Poligami Bisakah Adil.” Pengamatan dilakukan dalam ceramah maupun dialog interaktif dengan penonton dalam acara tersebut dengan tujuan ingin mengetahui apakah perempuan menurut Mamah Dedeh memiliki kebebasan untuk menolak/menerima dipoligami oleh laki-laki. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan kerangka teori analisis wacana Sara Mills. Kesimpulan yang didapatkan bahwa perempuan tidak memiliki kebebasan untuk menolak dipoligami oleh laki-laki, ia harus menuruti dan ikhlas jika dipoligami oleh suaminya karena perempuan memiliki kewajiban untuk taat dan melayani suaminya.
GAYA BAHASA MAMAH DEDEH PADA CERAMAH BERJUDUL “ISLAM DAN GAYA HIDUP” Setiawan, Eko Agoes
INTELEKSIA: Jurnal Pengembangan Ilmu Dakwah Vol 3 No 1 (2021)
Publisher : STID Al-Hadid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1041.463 KB) | DOI: 10.55372/inteleksiajpid.v3i1.131

Abstract

This research describes figurative language used by Mamah Dedeh, an Islamic preacher, in her sermon titled “Islam dan Gaya Hidup” under the approach of Gorys Keraf’s figurative language theory. A preacher needs to pay attention on his/her figurative language when s/he conveys da’wah messages. Figurative language is considered as the one which can amplify a meaning to someone’s subconscious. Types of figurative language used should be able to make messages which strongly attach to the mind of congregation. This study uses qualitative approach applying analysis technique of figurative language. Its data was collected from the sermon transcript in YouTube. It indicates that personification and repetition were applied during her introduction to build a common understanding, simile was used during the content to simplify realities, paradox was for amplifying the meaning, and erotesis-elipsis-inuendo was applied to emphasize and deepen on the world and hereafter’s lives. At the end of her sermon, she used personification to remind her messages. The usage of figurative language used by Mamah Dedeh was so related to her theme of the lifestyle in Islam such as the way a woman dresses, the way a woman accessorizes, and lives in luxury.
Analisis Framing model Entman pada Berita Republika tentang Gua Safarwadi: Antara Mitos Dan Rasionalitas Eko Agoes Setiawan
Ulumuddin: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 16 No 1 (2026): Ulumuddin: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman
Publisher : Universitas Cokroaminoto Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47200/ulumuddin.v16i1.3376

Abstract

This study examines media framing of Muslim public belief in Safarwadi Cave, which is claimed to be able to “connect to Mecca,” as reported by Republika. Employing a qualitative approach and Robert Entman’s framing analysis model, the study explores how the media define the problem, diagnose its causes, make moral judgments, and propose remedies regarding this religious phenomenon. The primary data consist of a Republika news article. The findings indicate that Republika frames the belief in Safarwadi Cave as a socio-religious problem related to collective irrationality, attributing its persistence mainly to social conformity. The media emphasizes the value of rationality as an ideal standard, as well as critical awareness of unverified claims. This framing reveals an underlying tension between local religious traditions and modern scientific perspectives within Islamic media discourse, highlighting the influential role of the media in shaping public perceptions of spiritual myths.