Kamaruddin Amin
UIN Alauddin Makassar

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Muslim Western Scholarship of Hadith and Western Scholar Reaction: A Study on Fuat Sezgin’s Approach to Hadith Scholarship Amin, Kamaruddin
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 46, No 2 (2008)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre, Sunan Kalijaga State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2008.462.253-277

Abstract

The following article is analyzing both Fuat Sezgin’s approach to Western scholarship of hadith and the views of some non-muslim scholars, which give either support or criticism against him. Some questions have been discussed; to what extent is Fuat Sezgin influenced by Western methods of hadith research and to what extent does he argue against the methods of non-Muslims? To what extent does he persist on arguing the reliability of hadith literature? To what extent does he base his argument on muslim hadith literature? To what extent does he digress from the classical methodology of hadith research? The following pages show that Sezgin has been familiar with non-Muslim scholarship of hadith research. Yet instead of following Western scholars’ approaches and premises on the early hadith literature, he severely criticized them and decided to follow the mainstream of Muslim scholars’ belief in the historicity of hadith transmission and collection. Fuat Sezgin focused his criticism on Goldziher’s historical claims. If one classifies Western discourse of hadith literature, Sezgin and Azmi can be located in the same line for their similar approach and way of handling the early literature of Islam. Both Sezgin and Azmi have been involved in the discussion on the reliability of early Islamic transmission. However, in contrast to Muslim scholars, who generally believe that the process of hadith transmission during the first century was mainly oral, they insist on arguing that many hadiths were, in fact, recorded in writing from the earliest times.
The Reliability of the Traditional Science of Hadith: A Critical Reconsideration Amin, Kamaruddin
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 43, No 2 (2005)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre, Sunan Kalijaga State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2005.432.255-281

Abstract

Satu hal yang begitu krusial dalam studi hadis adalah adanya fakta bahwa kodifikasi hadis dilakukan pada waktu yang cukup jauh dari peristiwa-peristiwa yang dinarasikannya. Untuk itu, tulisan ini memfokuskan pada metode-metode yang digunakan untuk menenetukan keotentikan hadis. Dengan demikian, riset ini dapat menjadi pertimbangan untuk menempatkan hadis dalam studi Islam. Riset ini menggunakan pendekatan isnad yang didukung dengan metode komparatif, pendekatan Barat dan Timur. Metode ini diperkuat dengan karya-karya dan literaturliteratur para ahli hadis Barat dan Timur. Tulisan ini akhirnya menegaskan bahwa dasar-dasar kritreria dalam menentukan keotentikan hadis dan evaluasi kritis terhadap bentuk-bentuk dalam mentransmisikan hadis merupakan hal yang fundamental untuk dipertimbangkan. Walaupun demikian, bentuk-bentuk itu tidak mudah diinvestigasi karena mereka dapat digunakan secara bergantian. Begitu juga dengan ulumul hadis yang masih perlu dipertanyakan tentang keselarasannya dengan praktek pentransmisian dan kritik terhadap hadis pada masanya.
Muslim Western Scholarship of Hadith and Western Scholar Reaction: A Study on Fuat Sezgin’s Approach to Hadith Scholarship Amin, Kamaruddin
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 46, No 2 (2008)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre, Sunan Kalijaga State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2008.462.253-277

Abstract

The following article is analyzing both Fuat Sezgin’s approach to Western scholarship of hadith and the views of some non-muslim scholars, which give either support or criticism against him. Some questions have been discussed; to what extent is Fuat Sezgin influenced by Western methods of hadith research and to what extent does he argue against the methods of non-Muslims? To what extent does he persist on arguing the reliability of hadith literature? To what extent does he base his argument on muslim hadith literature? To what extent does he digress from the classical methodology of hadith research? The following pages show that Sezgin has been familiar with non-Muslim scholarship of hadith research. Yet instead of following Western scholars’ approaches and premises on the early hadith literature, he severely criticized them and decided to follow the mainstream of Muslim scholars’ belief in the historicity of hadith transmission and collection. Fuat Sezgin focused his criticism on Goldziher’s historical claims. If one classifies Western discourse of hadith literature, Sezgin and Azmi can be located in the same line for their similar approach and way of handling the early literature of Islam. Both Sezgin and Azmi have been involved in the discussion on the reliability of early Islamic transmission. However, in contrast to Muslim scholars, who generally believe that the process of hadith transmission during the first century was mainly oral, they insist on arguing that many hadiths were, in fact, recorded in writing from the earliest times.
Book Review Amin, Kamaruddin
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 41, No 1 (2003)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2003.411.201-220

Abstract

Harald Motzki, The Origins of Islamic Jurisprudence:  Meccan fiqh before the Classical Schools, Leiden: Brill, 2002
The Reliability of the Traditional Science of Hadith: A Critical Reconsideration Amin, Kamaruddin
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 43, No 2 (2005)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2005.432.255-281

Abstract

Satu hal yang begitu krusial dalam studi hadis adalah adanya fakta bahwa kodifikasi hadis dilakukan pada waktu yang cukup jauh dari peristiwa-peristiwa yang dinarasikannya. Untuk itu, tulisan ini memfokuskan pada metode-metode yang digunakan untuk menenetukan keotentikan hadis. Dengan demikian, riset ini dapat menjadi pertimbangan untuk menempatkan hadis dalam studi Islam. Riset ini menggunakan pendekatan isnad yang didukung dengan metode komparatif, pendekatan Barat dan Timur. Metode ini diperkuat dengan karya-karya dan literaturliteratur para ahli hadis Barat dan Timur. Tulisan ini akhirnya menegaskan bahwa dasar-dasar kritreria dalam menentukan keotentikan hadis dan evaluasi kritis terhadap bentuk-bentuk dalam mentransmisikan hadis merupakan hal yang fundamental untuk dipertimbangkan. Walaupun demikian, bentuk-bentuk itu tidak mudah diinvestigasi karena mereka dapat digunakan secara bergantian. Begitu juga dengan ulumul hadis yang masih perlu dipertanyakan tentang keselarasannya dengan praktek pentransmisian dan kritik terhadap hadis pada masanya.
The Reliability of the Traditional Science of Hadith: A Critical Reconsideration Kamaruddin Amin
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 43, No 2 (2005)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2005.432.255-281

Abstract

Satu hal yang begitu krusial dalam studi hadis adalah adanya fakta bahwa kodifikasi hadis dilakukan pada waktu yang cukup jauh dari peristiwa-peristiwa yang dinarasikannya. Untuk itu, tulisan ini memfokuskan pada metode-metode yang digunakan untuk menenetukan keotentikan hadis. Dengan demikian, riset ini dapat menjadi pertimbangan untuk menempatkan hadis dalam studi Islam. Riset ini menggunakan pendekatan isnad yang didukung dengan metode komparatif, pendekatan Barat dan Timur. Metode ini diperkuat dengan karya-karya dan literaturliteratur para ahli hadis Barat dan Timur. Tulisan ini akhirnya menegaskan bahwa dasar-dasar kritreria dalam menentukan keotentikan hadis dan evaluasi kritis terhadap bentuk-bentuk dalam mentransmisikan hadis merupakan hal yang fundamental untuk dipertimbangkan. Walaupun demikian, bentuk-bentuk itu tidak mudah diinvestigasi karena mereka dapat digunakan secara bergantian. Begitu juga dengan ulumul hadis yang masih perlu dipertanyakan tentang keselarasannya dengan praktek pentransmisian dan kritik terhadap hadis pada masanya.
Muslim Western Scholarship of Hadith and Western Scholar Reaction: A Study on Fuat Sezgin’s Approach to Hadith Scholarship Kamaruddin Amin
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 46, No 2 (2008)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2008.462.253-277

Abstract

The following article is analyzing both Fuat Sezgin’s approach to Western scholarship of hadith and the views of some non-muslim scholars, which give either support or criticism against him. Some questions have been discussed; to what extent is Fuat Sezgin influenced by Western methods of hadith research and to what extent does he argue against the methods of non-Muslims? To what extent does he persist on arguing the reliability of hadith literature? To what extent does he base his argument on muslim hadith literature? To what extent does he digress from the classical methodology of hadith research? The following pages show that Sezgin has been familiar with non-Muslim scholarship of hadith research. Yet instead of following Western scholars’ approaches and premises on the early hadith literature, he severely criticized them and decided to follow the mainstream of Muslim scholars’ belief in the historicity of hadith transmission and collection. Fuat Sezgin focused his criticism on Goldziher’s historical claims. If one classifies Western discourse of hadith literature, Sezgin and Azmi can be located in the same line for their similar approach and way of handling the early literature of Islam. Both Sezgin and Azmi have been involved in the discussion on the reliability of early Islamic transmission. However, in contrast to Muslim scholars, who generally believe that the process of hadith transmission during the first century was mainly oral, they insist on arguing that many hadiths were, in fact, recorded in writing from the earliest times.
Non-Muslim (Western) Scholars' Approach to Hadith. An Analytical Study on the Theory of “Common Link and Single Strand” Kamaruddin Amin
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 40, No 1 (2002)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2002.11.34-55

Abstract

UIN Alauddin MakassarDalam studi hadith, ada perbedaan fundamental antara metode yang dikembangkan oleh sarjana-sarjana Muslim dengan metode yang dikembangkan oleh sarjana-sarjana Barat. Sarjana-sarjana Muslim menekankan pada penelitian tentang bagaimana memilah hadith sahih dari yang palsu, sedangkan penelitiaan hadith di barat adalah how to date a particular hadith ( bagaimana menentukan tanggal atau umur) hadith tertentu untuk menaksir asal-usulnya. Hal ini disebabkan karena Sebagian besar, untuk tidak mengatakan semuanya, sarjana-sarjana barat percaya bahwa sangat sedikit, kalaupun ada, hadith yang bisa disandarkan secara historis kepada Nabi. Oleh karena itu, penelitian tentang kapan, siapa dan dimana hadith yang sedang diteliti dibuat harus dilakukan. Untuk menjawab pertanyaan sentral tersebut sejumlah metode telah dikembangkan dalam kesarjanaan barat ( Westem scholarship). Diantara metode tersebut dikenal teori common link yang telah menelorkan sejumlah konsep seperti single strand, partial common Iink, spider, driving dll.Teoi common link  pertama kali diperkenalkan oleh Joseph Schacht dalam bukunya The Origins of Muhammadan Jurisprudence (1950) yang mendapat inspirasi dari Ignaz Goldzther dalam bukunya Muhammadan Studien. Teori tersebut secara umum telah menginspirasi sariana Barat yang datang sesudahnya. Diantara yang paling setia, yang bukan hanya mengadopsi teori Schacht tapi telah mengembangkannya secara signifikan dalam skala besar, meskipun berbeda dari Schacht dalam sejumlah point penting, adalah G.H.A. Juynboll. Sebaliknya kritik tajam terhadap sejumlah premis dan methodologi Schacht dan Juynboll diartikulasikan oleh Harald Motzki dalam karya monumentalnya Die Anfange der Islamischen Jurisprudence. Ihre Entwicklung in Mekka bis zur Mitte  des 2./8. Jahrhundert 1991, meskipun kemudian dikritik oleh Irene Schneider. Polemik tentang akurasi teort common link dan implikasi metodologis yang ditimbulkannya sampai hari ini masih terus berlangsung dalam journal international studi Islam seperti Der Islam. Bagaimana teori tersebut bekerja dan sejauh mana akurasi teori tersebut dapat menyajikan taksiran historis untuk menentukan kualitas hadith akan dibahas dalam artikel ini.