Syamsuryanita, Syamsuryanita
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP DENGAN PERILAKU SEKS PRANIKAH PADA REMAJA PUTRI S, IRMAWATI; SYAMSURYANITA, SYAMSURYANITA; IKAWATI, NURUL
Journal Of Midwifery Vol 13 No 1 (2025)
Publisher : UNIVED PRESS, Universitas Dehasen Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Perilaku seks pranikah pada remaja putri meningkatkan risiko kehamilan tidak diinginkan dan penularan penyakit menular seksual. Pengetahuan dan sikap dianggap faktor utama yang memengaruhi perilaku tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara pengetahuan dan sikap dengan perilaku seks pranikah pada remaja putri. Metode: Desain penelitian ini adalah cross-sectional. Populasi terdiri dari seluruh remaja putri di SMAN 4 Kota Bandung dengan jumlah sampel sebanyak 60 responden yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang mengukur pengetahuan, sikap, dan perilaku seks pranikah. Analisis data menggunakan statistik deskriptif dan uji chi-square dengan tingkat signifikansi 5%. Hasil dan Pembahasan: Mayoritas responden memiliki pengetahuan rendah (58,3%) dan sikap positif (61,7%), dengan 65% tidak melakukan perilaku seks pranikah. Terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan rendah dan perilaku seks pranikah (p=0,013; OR=4,958) serta antara sikap negatif dan perilaku tersebut (p=0,011; OR=4,713). Hasil ini menegaskan pentingnya peningkatan pengetahuan dan pembentukan sikap positif dalam pencegahan perilaku seks pranikah. Kesimpulan: Pengetahuan dan sikap berperan signifikan dalam perilaku seks pranikah remaja putri. Disarankan pengembangan program pendidikan seks komprehensif untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap positif.
HUBUNGAN TINGKAT STRESS TERHADAP HIPERMESIS GRAVIDARIUM PADA IBU HAMIL Syamsuryanita, Syamsuryanita; Ikawati, Nurul
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 4 No. 4 (2023): DESEMBER 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i1.17163

Abstract

Pada awal kehamilan, sering terjadi keluhan berupa mual dan muntah, namun beberapa kondisi mual dan muntah terjadi secara berlebihan dan menganggu aktivitas ibu di sebut hiperemesis gravidarum. Banyak faktor yang dapat menyebabkan kondisi ini yaitu salah satu nya psikologis. Faktor psikologis berupa stres dianggap berperan penting sebagai penyebab terjadinya hiperemesis gravidarum. Faktor tersebut dapat datang baik dari luar maupun dalam ibu itu sendiri. Hiperemesis gravidarum juga rentan terjadi pada ibu yang baru pertama mengalami kehamilan atau yang biasa disebut primigravida. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat stres dengan kejadian hiperemesis gravidarum. Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja puskesmas kassi - kassi makassar. Metode penelitian yang di gunakan adalah metode cross sectional. Popolasi penelitian yaitu ibu hamil yang bertempat tinggal di wilayah kerja puskesmas kassi - kassi makassar sebanyak 54 responden. Sampel penelitian yang di dapatkan sebanyak 30 responden. Sampel tersebut di tentukan dengan metode purposive sampling. Hasil penelitian menggunakan uji Mann-Whitney, dan di peroleh ada hubungan yang signifikan antara tingkat stress dengan kejadian hiperemesis gravidarum pada primigravida ( p-value=0,001). berdasarkan hasil ini maka di perluhkan adanya konseling untuk primigravida, agar mampu beradaptasi serta dapat mempersiapkan kehamilannya.
Optimasi Dosis Madu Kelor Pada Ibu Menyusui Terhadap Keberhasilan Menyusui dan Pertumbuhan Bayi Usia 1-5 Bulan A Sukara, Muhammad Akmal; Syamsuryanita, Syamsuryanita; Irmasari, Irmasari; Faisal , Farasmawati
Al GIZZAI: PUBLIC HEALTH NUTRITION JOURNAL Vol 6 No 1 (2026)
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/algizzai.v6i1.63615

Abstract

Introduction: Honey has long been recognized as a herbal substance with substantial health benefits, including its potential role in supporting successful breastfeeding and infant growth. One type of honey that has recently gained attention is Moringa oleifera honey (moringa honey), which is rich in essential nutrients and bioactive compounds that may contribute to improving both the quality and quantity of breast milk and potentially preventing stunting. This study was conducted in Maros Regency, an area characterized by a high prevalence of stunting and low coverage of exclusive breastfeeding. Previous studies primarily focused on the benefits of moringa honey supplementation among pregnant women at a dose of 15 ml/day for eight weeks. However, no studies have specifically examined the effects of moringa honey supplementation on breastfeeding success and infant growth, nor have they explored optimal dosing in lactating mothers. Therefore, this study aimed to determine the optimal dose of moringa honey for enhancing breastfeeding success and promoting growth among infants aged 1–5 months Methods: This study employed a Randomized Controlled Trial (RCT) design with three intervention groups receiving moringa honey at doses of 10 ml/day, 15 ml/day, and 20 ml/day, respectively. Lactating mothers with infants aged 1–5 months were randomly assigned to the intervention groups and received supplementation for four weeks. Breastfeeding success was assessed using a validated breastfeeding success questionnaire, while infant growth was evaluated through measurements of body weight and body length. Data were analyzed using appropriate statistical tests to identify the effective and optimal dose of moringa honey. Differences between intervention and control groups were analyzed using the Independent t-test and Mann–Whitney U test. Within-group pre–post differences were assessed using the Paired t-testand Wilcoxon signed-rank test. Comparisons across all intervention groups were conducted using one-way ANOVA and the Kruskal–Wallis test. Results: Overall, the findings reinforce the potential of moringa honey as a safe and beneficial herbal intervention for supporting breastfeeding success and infant growth. Comparable effects were observed across all dosage groups, indicating that a lower dose of 10 ml/day is sufficient to confer measurable benefits. This has important practical implications, as lower doses are more feasible, safer, and more affordable for community-level implementation. Given the persistently high prevalence of stunting and low rates of exclusive breastfeeding in many regions, moringa honey may serve as a complementary nutritional intervention that is readily acceptable to lactating mothers. Although no statistically significant differences were observed between dosage groups, the results demonstrate the clinical relevance of moringa honey in supporting lactation and infant growth. Conclusion: Supplementation with moringa honey at doses of 10 ml, 15 ml, and 20 ml per day for one month significantly improved breastfeeding success scores and infant growth, with no significant differences among the dosage levels. The similar magnitude of improvement across all groups suggests that the beneficial effects of moringa honey on lactation and infant growth can be achieved even at lower doses. These findings indicate that moringa honey is a safe herbal intervention with promising potential to support maternal and infant health.