Mujahidin, Saekul
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengamalan Al-Qur`an Perspektif Post-Feminisme Simone De Beauvoir Mujahidin, Saekul
HERMENEUTIK Vol 15, No 2 (2021): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v15i2.10498

Abstract

Kesetaraan gender merupakan diskursus yang masih tetap hangat diperbincangkan bahkan menjadi perdebatan para feminis Muslim sampai sekarang. Penggagas dan pendukung kesetaraan gender tidak jarang mempersoalkan hukum Islam yang dianggap kurang adil dalam memposisikan laki-laki dan perempuan. Bermula dari kesadaran akan ketertindasan perempuan oleh sistem yang patriakis inilah muncul kajian tentang perempuan yang kemudian diistilahkan “feminisme” salah satu gagasannya adalah pembebasan yang mengkonsentrasikan pada upaya pengangkatan drajat perempuan agar bisa setara dengan kaum laki-laki dan bebas dari eksploitasi dan tidak mengenal adanya diskriminasi jenis kelamin. Simone De Beauvoir adalah salah satu tokokh feminis yang menyuarakan kebebasan perempuan akan kedudukan mereka yang berbeda dari laki-laki. kebebasan perempuan haruslah didukung oleh semua pihak dan membuat mereka mampu untuk menjadi dirinya sendiri, mampu untuk memilih dan menentukan sikap Menurut Simone de Beauvoir, perempuan dikonstruksikan oleh laki-laki melalui struktur dan lembaga laki-laki. Karena perempuan tidak memiliki esensi seperti juga laki-laki, jadi perempuan tidak harus menjadi apa yang diinginkan oleh laki-laki. Perempuan dapat menjadi subjek dengan terlibat dalam kegiatan positif dalam masyarakat. Hal ini juga sejalan dengan semangat Q.S an-Nisa/4: 32 adanya hak bagi laki-laki dan perempuan untuk terlibat di wilayah publik. Menurut de Beauvoir, strategi yang dapat dilakukan perempuan untuk tidak tertindas dari laki-laki, adalah : Pertama, perempuan dapat bekerja. Kedua, perempuan menjadi seorang intelektual. Ketiga, perempuan mampu mandiri. Gagasan ini juga sejalan dengan semangat Q.S at-Taubah/9: 71 bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai hak dan derajat  yang sama dalam setiap aspek kehidupan seperti berbuat yang ma’ruf dan menjauhi yang munkar. Konsep yang digagas de Beauvoir ini disebutnya sebagai post-feminisme. 
The Politics of the Transition of the Hagia Sophia to a Mosque by President Recep Tayyip Erdogan Mujahidin, Saekul
Politea : Jurnal Pemikiran Politik Islam Vol 5, No 2 (2022): Politea : Jurnal Pemikiran Politik Islam
Publisher : State Islamic Institute of Kudus (IAIN Kudus)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/politea.v5i2.15321

Abstract

Hagia Sophia is one of the UNESCO world heritage sites built by Emperor Justinian I which is a Basilica building in Istanbul Turkiye and is a conflict between two religions, namely Christianity and Islam. In 2020 a decision that shocked the world came from President Recep Tayyip Erdogan who turned the Hagia Sophia into a mosque that was previously a museum during the time of Mustafa Kemal Ataturk. This paper uses library research, which identifies data including books, journals, articles, and more. The results of the study explain that the status of Hagia Sophia in Istanbul belongs to Turkish state law, not international law, so the Turkish president has the right to change the status of Hagia Sophia into a mosque that was once a museum during the secular regime. Mustafa Kemal Ataturk and other countries should not protest the decision. that. that. According to research from the Istanbul Economic Research Institute last June, 46.9% of respondents agreed with the transformation of the Hagia Sophia into a mosque, while 38.8% of respondents refused and wanted the Hagia Sophia to remain a museum.