Rewasan, Ruben
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Implementasi Program Bina Keluarga Di Jemaat Gpi Papua Imanuel Danaweria Fakfak Ohoiner, Holly Desemrine; Ngabalin, Ngabalin; Rewasan, Ruben; Camerling, Lindra Yolanda
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 3, No 2 (2023): Pendidikan Agama Kristen dan Teologi - Oktober 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/didasko.v3i2.91

Abstract

The family development program is a form of formation for church members. This formation starts from the family where parents provide spiritual formation for their children in the form of family worship. Within the scope of GPI Papua's services in general and the GPI Papua Imanuel Werba congregation in particular, family development is not a congregational service program but rather was born from the awareness of the congregation to do so.This research aims to describe the congregation members' understanding of the family development program at the GPI Papua Imanuel Danaweria congregation; Describe the Implementation of Family Development in the GPI Papua Congregation Imanuel Danaweria; Mention factors inhibiting the progress of family development in the family;Describes the impact of the family development program in the GPI Papua Congregation Imanuel Danaweria.The research results show that family development is development that is centered on family development. Providing knowledge of the Christian faith for children, forming and developing the attitudes and character of family members to live according to their faith and the family to live happily and in harmony. Family formation is carried out in the form of family worship on Saturdays in every Christian family in the congregation or known as family worship. Where the father is the leader and main person responsible for the service because it includes not only the ministry of the word but also advice and upbringing given by the head of the family to both wife and children or parents to children. Family formation is carried out in the form of family worship on Saturdays in every Christian family in the congregation or is known as the key family service. Where the father is the leader and main person responsible for the service because it includes not only the ministry of the word but also advice and upbringing given by the head of the family to both wife and children or parents to children. This family development does not run completely because there are factors that hinder the progress of the Binakel worship, namely the work factor of each family member, social factors so that some children are not actively involved in worship and the factor of laziness from within. family members to perform the prayer. The impact of family development shapes the character of family members so they are better able to implement their faith in God in the realities of everyday lifeAbstrakProgram bina keluarga merupakan salah satu bentuk pembinaan warga gereja. Pembinaan tersebut dimulai dari keluarga di mana orang tua melakukan pembinaan spiritual bagi anak-anak dalam bentuk ibadah keluarga. Dalam lingkup pelayanan GPI Papua secara umum dan jemaat GPI Papua Imanuel Danaweria secara khusus bina keluarga tersebut tidak menjadi program pelayanan jemaat melainkan lahir dari kesadaran umat untuk melakukannya. Penelitian ini bertujuan untuk Mendeskripsikan pemahaman warga jemaat tentang program Bina keluarga di Jemaat GPI Papua Imanuel Danaweria; Mendeskripsikan Implementasi Bina keluarga di Jemaat GPI Papua Imanuel Danaweria; Menyebutkan faktor penghambat jalannya Bina keluarga dalam keluarga; Menguraikan dampak program Bina keluarga di Jemaat GPI Papua Imanuel Danaweria. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bina keluarga merupakan pembinaan yang berpusat pada pembinaan keluarga. Memberi pengetahuan iman Kristen bagi anak, membentuk dan membina sikap dan karakter anggota keluarga untuk hidup sesuai dengan imannya dan keluarga hidup Bahagia dan rukun. Bina keluarga yang dilakukan dalam bentuk ibadah keluarga pada hari sabtu di setiap keluarga Kristen di jemaat atau dikenal ibadah kunci usbuh keluarga. Di mana bapak menjadi pemimpin dan penanggung jawab utama dalam ibadah tersebut sebab di dalamnya tidak hanya ada pelayanan firman tetapi juga nasihat dan didikan yang diberikan oleh kepala keluarga baik bagi istri dan anak-anak atau orang tua kepada anak. Bina keluarga ini tidak berjalan sepenuhnya dikarenakan ada faktor yang menghambat jalannya ibadah Binakel yaitu faktor pekerjaan dari masing-masing anggota keluarga itu sendiri, faktor pergaulan sehingga anak ada yang tidak terlibat secara aktif dalam ibadah serta faktor kemalasan dari dalam diri anggota keluarga untuk melakukan ibadah tersebut. Dampak dari bina keluarga tersebut membentuk karakter anggota keluarga menjadi lebih dapat mengimplementasikan iman percayakan kepada Tuhan dalam realitas hidup setiap hari. 
Implementasi Pendidikan Karakter Kristiani dalam Merawat Kemajemukan Rewasan, Ruben
Mitra Sriwijaya: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 2 No. 2 (2022): Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (536.619 KB) | DOI: 10.46974/ms.v2i2.32

Abstract

Abstract: The problem of pluralism in Indonesia is still a hot topic of discussion in society. Even though in formal meetings, most accept pluralism in Indonesia as a gift. However, in reality, in grassroots society, pluralism still faces serious challenges. Perhaps because of this condition, conflicts with a plurality background are still common in Indonesia. In this situation, many people say that the conflicts were triggered by various provocations of elite interests. However, the main problem of various conflicts that occur at the grassroots is because the religious character that characterizes the spirit of pluralism is not well understood. As a result, many people are easily caught up in provocations that tear tolerance. Starting from this fact, instilling a character that accepts and appreciates and implements the spirit of accepting pluralism through a religious education approach is a priority. This is because strengthening a character that is loyal to pluralism is a solid foundation to fend off all forms of provocation that divides the nation. It is also in this interest that character education that is oriented to self-integrity that lives pluralism is the main goal. In this connection, the role of Christian Religious Education is needed in its implementation.  Abstrak: Masalah kemajemukan di Indonesia masih menjadi perbincangan hangat dalam masyarakat. Walau pun dalam pertemuan-pertemuan formal sebagian besar menerima kemajemukan di Indonesia sebagai anugerah. Akan tetapi dalam kenyataannya pada masyarakat akar rumput, kemajemukan masih mendapat tantangan yang berat. Mungkin karena kondisi ini, konflik-konflik yang berlatar belakang masalah kemajemukan masih sering dijumpai di Indonesia. dalam situasi ini, banyak orang menyebutkan bahwa berbagai konflik itu dipicu oleh berbagai provokasi kepentingan para elit. Namun masalah utama dari berbagai konflik yang terjadi pada akar rumput lebih disebabkan karena karakter keagamaan yang mencirikan spirit kemajemukan tidak dihayati dengan baik. Akibatnya banyak orang dengan mudah terjebak dalam provokasi yang mengoyak toleransi. Bertolak dari kenyataan ini maka menanamkan karakter yang menerima dan menghayati serta mengimplementasikan spirit menerima kemajemukan melalui pendekatan pendidikan agama merupakan prioritasnya. Hal ini disebabkan karena dengan mengokohkan karakter yang loyal terhadap kemajemukan merupakan fondasi kokoh guna menangkis segala bentuk provokasi yang memecah-belah bangsa. Dalam kepentingan ini pula maka pendidikan karakter yang berorientasi pada integritas diri yang menghayati kemajemukan adalah tujuan utamanya. Dalam hubungan ini, peran Pendidikan Agama Kristen sangat dibutuhkan dalam implementasinya. Ini juga yang menjadi tujuan penulisan ini, yaitu sebagai sumbangan untuk menegaskan karakter kristiani yang bercirikan spirit toleran terhadap kemajemukan.