Pembangunan infrastruktur di Indonesia membutuhkan ketersediaan aspal yang tinggi, tapi pasokan nasional masih sangat bergantung pada impor meskipun terdapat potensi besar asbuton di Provinsi Sulawesi Tenggara. Salah satu tantangan utama pemanfaatan asbuton adalah biaya penambangan yang relatif lebih tinggi dibanding aspal minyak impor. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi unit-cost penambangan asbuton sekaligus mengevaluasi pengaruh dari kapasitas produksi (X1) dan stripping ratio (X2) menggunakan pendekatan statistika. Data dikumpulkan dari tujuh perusahaan tambang asbuton pada tahun 2024 yang mencakup volume overburden, jumlah produksi, Harga Pokok Penjualan (HPP), royalti, dan jumlah beban operasi. Selanjutnya, dilakukan analisis data dengan menerapkan metode regresi linier berganda yang telah divalidasi melalui uji asumsi klasik. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa secara parsial maupun simultan, variabel kapasitas produksi dan stripping ratio berpengaruh signifikan terhadap unit-cost. Hal tersebut dibuktikan dengan tingkat signifikansi pada Uji-t dan Uji-F tidak melebihi angka 0,05. Selain itu, dengan nilai Adjusted R2 sebesar 0,735 dan nilai RMSE (Root Mean Square Error) sebesar 50,728, menunjukkan bahwa model memiliki tingkat akurasi yang memadai. Dari penelitian yang telah dilakukan, diperoleh estimasi unit-Cost penambangan Asbuton dengan persamaan Y = –64.182,587 + 1,074(X1) + 123.008,571(X2).