S. Arifianto
Balitbang SDM Kemkominfo

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

FENOMENA BUDAYA POLITIK GENERASI MILLENNIALSFENOMENA BUDAYA POLITIK GENERASI MILLENNIALS DI MEDIA SOSIAL Arifianto, S.
Majalah Komunikasi Massa Vol 15, No 1 (2019): Komunikasi Massa
Publisher : BPSDMP Kominfo Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ada perbedaan fenomena antara politisi di masyarakat riel, dan dunia virtual. Tulisan ini mencoba menyoroti dan menjelaskan, fenomena budaya politik generasi millennials di media sosial. Data diperoleh dari kajian pustaka, pembacaan teks budaya media secara kualitatif, dan analisis penulis. Hasil diskusi menyimpulkan bahwa: (1). demokrasi politik dikunstruksi hanya untuk kepentingan legal formal yang prosesnya diarahkan untuk bagaimana caranya memperoleh banyak dukungan politik. (2). membangun budaya politik bagi generasi millennials di media sosial menjadi sangat urgen, untuk menciptakan kader politik militan di masa mendatang. (3). hanya generasi millennials, kreatif, inovatif dan visioner yang kemungkinan bisa eksis berpolitik di media sosial di masa mendatang.
KONTESTASI POLITIK PILPRES 2019 DI MEDIA SOSIAL (TELAAH KONSEP ECHO CHAMBER) Arifianto, S.
Majalah Komunikasi Massa Vol 15, No 2 (2019): Komunikasi Massa
Publisher : BPSDMP Kominfo Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Secara harfiah echo chamber adalah ruang tempat mendengar apa yang kita teriakkan tanpa memperhitungkan kondisi realitas disekitarnya. Demikianlah analogi sederhana dari makna echo chamber yang sekarang banyak dibahas terkait dengan kontestasi budaya politik pilpres 2019, melalui media sosial. Meski demikian efek yang ditimbulkannya bisa berpengaruh terhadap perilaku masyarakat dalam berpolitik. Pada   satu sisi kehadiran media sosial, dapat mengatasi beberapa hambatan komunikasi sosial yang disebabkan masalah geografis. Artinya, kita bisa berkomunikasi dengan siapa saja  tentang apa saja, dengan siapa saja tanpa dibatasi ruang dan waktu. Namun pada sisi yang lain media sosial juga berdampak negatif, dan membawa bencana bagi kita semua. Meski demikian media sosial masih dipercayai bisa menghadirkan pandangan yang lebih seimbang tentang dunia. Memang ada kekhawatiran bahwa media sosial hanya menyedot orang-orang kedalam kelompok-kelompok yang homogen atau sepandangan sama tentang suatu hal tertentu. Disamping itu juga ada orang-orang yang terjauhkan dari informasi-informasi yang berbeda dengan pandangannya. Kekhawatiran semacam itu disebut echo chamber (ruang gema), yang secara konseptual hanya mendengar apa yang diteriakan sendiri.  Meski jutaan orang diluar sana menggunakan internet dan teknologi informasi digital untuk memperluas wawasannya, tetapi masih banyak orang melakukan  justru sebaliknya. Artikel ini pembahasannya fokus pada fenomena efek echo chamber  terhadap kontestasi politik masyarakat kedua kubu pendukung Prabowo-Sandi, dan Jokowi-Ma?ruf dalam  Pilpres tahun, 2019 di media sosial.