Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Translation Problems of English Film Titles into German and their Translation into Indonesian Dwirika, Leli
Nusantara Science and Technology Proceedings Internationale Konferenz des Indonesischen Germanistenverbandes (iKoniG)
Publisher : Future Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11594/nstp.2022.1907

Abstract

This article deals with the translation problems of English film titles into German and their translations into Indonesian. This research aims to address the translation problems of English film titles into German and their translation into Indonesian, in particular the problem of equivalence in the translation from English into German. What are the problems that have arisen and how the titles are translated, whether the transfer of cultural elements also plays an important role? The study uses a descriptive qualitative method with comparative models. The theories used to support this research are the theory of equivalence of Nida and Taber (1974), and the theory of translation methods and procedures of Newmark (1988) and Nord (1993). The data comes from Hollywood films, All Films kino.de, shown in cinemas in Germany in 2020 and 2021 (until September). A total of 159 film titles were translated into German: 111 from 2020, 48 from 2021 (until September), from 12 different film categories. The results of the study showed that there are problems with the translation of film titles that are almost inappropriate for the source language or translated quite differently. In addition, based on the analysis of the data the translation methods were found in the translation of the titles of these films, such as the literal translation, free or descriptive translation, communicative, semantic, idiomatic or faithful methods, as well as various translation methods: additions, transpotition, modulation.This research is intended to provide further insights into the field of translation of different language pairs, in particular into the translation of film titles into Indonesian
Analisis Variasi Terjemahan Kata “Muslim”, “Muslime” dan “muslimisch” pada Tujuh Artikel dalam Tema “Muslimisches Leben in Deutschland (Kehidupan Umat Muslim di Jerman)” di Situs Goethe Institut Indonesia Berdasarkan Pendekatan Proses Material dalam Metaf Pulungan, Nur Hizzah; Dwirika, Leli
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v9i11.54905

Abstract

Diskriminasi terhadap umat muslim masih terus ditemukan di negara-negara Eropa, salah satunya adalah Jerman. Goethe Institut selaku pusat kebudayaan dan bahasa Jerman menjalankan salah satu program budaya dengan menulis artikel tentang kehidupan umat Islam di Jerman dalam upaya menginformasikan bahwa negara Jerman merupakan negara yang ramah bagi imigran Islam. Tujuh dari delapan artikel dalam topik muslimisches Leben in Deutschland di situs Goethe Institut Indonesia diterjemahkan oleh Hendarto Setiadi. Oleh karena itu, penelitian ini melakukan analisis bagaimana penerjemah menentukan variasi terjemahan kata “Muslim”, “Muslime” dan “muslimisch” pada artikel-artikel dalam topik muslimisches Leben in Deutschland di situs Goethe Institut Indonesia berdasarkan pendekatan proses material dalam Metafungsi Ideasional dari teori Analisis Wacana Kritis. Metode pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan sketch engine untuk membandingkan TSu dan TSa serta menemukan kolokasi kata “muslim” di TSa sebagai langkah awal analisis klausa-klausa yang mengandung terjemahan kata “muslim” di TSa. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, diperoleh temuan bahwa penerjemah memasangkan frasa “kaum muslim” pada klausa yang menunjukkan bahwa penganut Islam di Jerman telah melalui proses untuk mencapai kondisi yang saat ini mereka jalani di Jerman. Kemudian, penerjemah memasangkan terjemahan “umat muslim” pada kalimat yang menunjukkan identitas penganut Islam di Jerman. Sementara itu, frasa “warga muslim” digunakan oleh penerjemah pada kalimat-kalimat yang mengandung makna bahwa muslim sudah menyatu dengan Jerman dalam kegiatan-kegiatan sehari-harinya dan bukan lagi tentang proses menjadi diterima. Yang terakhir adalah penerjemah memasangkan kata “muslim” saja sebagai kata tunggal dengan klausa yang menunjukkan penggambaran opini penganut Islam di Jerman.