Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : PARADIGMA

PERENCANAAN PROGRAM PEMBERDAYAAN MENUJU PERUBAHAN DALAM MASYARAKAT AY, Burhanudin
PARADIGMA Vol 5, No 01 (2008): Paradigma, Vol.05 No.01, Semester Ganjil 2008
Publisher : PARADIGMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (14.618 KB)

Abstract

Setiap upaya pembangunan harus menggali, mengembangkan, dan memanfaatkan potensi sumberdaya yang tersedia di masyarakat. Melalui cara seperti ini, proses pembangunan akan memberikan dampak ganda bagi tumbuhnya upaya-upaya pembangunan lanjutan di masa-masa mendatang. Sebab dengan tergarapnya sumberdaya alam, manusia, dan kelembagaan yang ada, akan meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan masyarakat untuk berswakarsa dan berswadaya melaksanakan pembangunan di masa mendatang pada cakupan bidang garapan yang semakin luas pula. Sebaliknya, jika potensi sumberdaya lokal tidak tergarap dan menggantungkan dari luar, pada suatu saat pasti akan kehabisan kemampuan untuk mendatangkan sumberdaya tersebut, dan karena sumberdaya lokal tidak pernah tergarap, tidak akan tumbuh inisiatif dan kemampuan baru untuk melaksanakan pembangunan lanjutan, sehingga berhentilah pembangunan di wilayah tersebut. Program mencakup perubahan sikap, kebiasaan, dan pola pikir, yang artinya perumusan program harus mencakup banyak dimensi perilaku manusia. Sehubungan ini harus selalu diingat bahwa setiap pembangunan pada dasarnya harus mampu membangun perilaku manusianya. Pembangunan fisik yang tanpa membangun perilaku manusia, seringkali mengakibatkan tidak termanfaatkannya hasil-hasil pembangunan secara maksimal. Sebaliknya, melalui pembangunan yang berakibat pada perubahan perilaku manusianya, akan menghasilkan manusia-manusia yang berjiwa selalu ingin membangun, serta memiliki kemampuan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk melaksanakan pembangunan yang diinginkan. Kata unci: Perencanaan Pemberdayaan, Perubahan, Masyarakat
PENGARUH KEPUASAN KERJA, LINGKUNGAN KERJA DAN SEMANGAT KERJA TERHADAP KINERJA PEGAWAI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK) NEGERI 2 SUKOHARJO AY, Burhanudin
PARADIGMA Vol 6, No 02 (2009): Paradigma, Vol.06, No.02 Semester Genap 2009
Publisher : PARADIGMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (14.618 KB)

Abstract

Kepuasan kerja menjadi menarik untuk diamati karena memberikan manfaat, baik dari segi individu maupun dari segi kepentingan industri. Bagi individu penting tentang sebab dan sumber kepuasan kerja, serta usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kepuasan kerja individu, sedangkan bagi industri, penelitian penting dilakukan untuk kepentingan ekonomis, yaitu pengurangan biaya produksi dan peningkatan produksi yang dihasilkan dengan meningkatkan kepuasan kerja. Lingkungan kerja dalam suatu organisasi mempunyai arti penting bagi pegawai yang melakukan aktivitas, karena hal ini akan mempengaruhi secara langsung maupun tidak langsung manusia didalamnya.  Kondisi lingkungan kerja organisasi adalah sikap, nilai, norma, dan perasaan yang lazim dimiliki oleh para  pekerja atau pegawaisehubungan dengan perusahaan mereka. Lingkungan kerja merupakan faktor pokok yang menentukan tingkah laku dalam aktivitas. Apabila kondisi lingkungan kerja dipandang sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan, maka ada peningkatan kinerja yang lebih baik dari pada sebelumnya. Sebaliknya apabila kondisi yang timbul bertentangan dengan tujuan, kebutuhan dan motivasi pribadi, dapat diharapkan bahwa kinerja akan berkurang. Sementara setiap individu dalam hidupnya tentu memiliki keinginan, dalam mencapai berbagai tujuan tersebut sedikit banyak tentu dibutuhkan kerja. Dari penelitian dan analisis data yang telah dilakukan untuk pengujian regresi berganda diperoleh hasil  bahwa Kepuasan Kerja (X1) mempunyai pengaruh positif terhadap kinerja pegawai (Y). Serta Lingkungan Kerja (X2) serta Semangat Kerja (X3) mempunyai pengaruh positif terhadap kinerja pegawai (Y). Sementara hasil perolehan X1 nilai thitung = 14,916 dan ttabel = 1,980; nilai thitung < ttabel dan keduanya terdapat pengaruh dengan arah parameter positif.  Hal ini berarti bahwa pada peningkatan Kepuasan Kerja (X1) mempengaruhi adanya Kinerja Pegawai (Y) secara positif.  Sedangkan hasil analisis data dari X2 didapat hasil thitung = 1,980 dan X3 didapat hasil thitung   = 1,982.  Kemudian dikonsultasikan dengan ttabel = 1,980.  Jadi nilai thitung > ttabel atau 1,980 dan 1,982 > 1,980 dan signifikan dengan arah parameter positif.  Ini berarti menunjukkan bahwa peningkatan Lingkungan Kerja (X2) dan Semangat Kerja (X3) akan mempengaruhi Kinerja Pegawai (Y) secara positif.  Kata Kunci: Kepuasan Kerja, Lingkungan Kerja, Semangat Kerja, Kinerja Pegawai
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERMINTAAN AIR BERSIH DARI MASYARAKAT TERHADAP PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM KABUPATEN KARANGANYAR AY, Burhanudin
PARADIGMA Vol 5, No 02 (2008): Paradigma, Vol.05 No.02, Semester Genap 2008
Publisher : PARADIGMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (14.618 KB)

Abstract

Air sangat berperan dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat, konsekuensi meningkatnya kebutuhan air bersih ini berarti bahwa permintaan agregat (Agregat Demand) pasti akan naik, sementara penawaran agregat (Agregat Suplay) relatif konstan bahkan dapat dikatakaa menurun jika faktor pencemaran turut diperhitungkan. Indonesia sekarang ini sedang mengalami proses penggunaan air yang berlangsung dengan laju kecepatan yang lebih besar dari proses penyimpanan air. Pemanfaatan air dilakukan oleh berbagai sektor ekonomi, antara lam nmuh tangga, industri, dan infrastruktur. Permasalahannya bagaimana cara pendistribusian air dan persediaan yang ada ke berbagai sektor tersebut dapat memperoleh manfaat social optimal, serta tidak digunakan secara berlebihan. Pada kenyataannya, kuantitas air tidak mungkin dapat ditingkatkan, sedangkan tingkat penyebarannya dalam waktu dan ruang tidak merata sesuai dengan kebutuhan sebenarnya. Standar kebutuhan air bersih untuk rumah tangga di daerah perkotaan didasarkan standar untuk kebutuhan daerah yang belum relevan dengan penyesuaian terhadap kondisi kota yang bersangkutan. Prosentase pemberian air besih dilihat dari pendapatan perkapita, tingkat sanitasi suatu kota dan prosentase kenaikan penduduk. Kata kunci: Anggota Keluarga, Luas Bangunan, Kepemilikan sumur, Jumlah permintaan
PENGARUH PENGALAMAN KERJA, MOTIVASI DAN KEPEMIMPINAN TERHADAP KINERJA PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN SEKRETARIAT DAERAH KABUPATEN SUKOHARJO AY, Burhanudin
PARADIGMA Vol 4, No 02 (2007): Paradigma, Vol.04, No.02 Semester Genap 2007
Publisher : PARADIGMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (14.618 KB)

Abstract

Sejalan dengan kerangka pembangunan nasional, tuntutan terhadap pemerintah daerah selaku penyelenggara pemerintah dan pembangunan di daerah terus meningkat sehingga beban tugas yang harus diselesaikan Pegawai Negeri Sipil (PNS) semakin luas dan kompleks. Pengalaman kerja ternyata sangat membantu dalam meningkatkan maupun menyelesaikan tugas yang diberikan. Motivasi adalah suatu usaha yang menimbulkan dorongan untuk melakukan suatu tugas dalam rangka pencapaian satu tujuan tertentu. Kepemimpinan merupakan kemampuan mendorong sejumlah orang (dua orang atau lebih) agar bekerja sama dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan yang terarah pada tujuan bersama. Kinerja suatu organisasi dikatakan baik bila proses kerja dilakukan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Kinerja seseorang karyawan sangat berpengaruh pada kinerja suatu organisasi, dimana karyawan berperan sebagai pelaku. Menurut hasil pengamatan ternyata pada instansi Kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Sukoharjo pengalaman kerja, motivasi dan kepemimpinan memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai. Kata kunci: Pengalaman kerja, Motivasi, Kepemimpinan, Kinerja
PENGEMBANGAN INDUSTRI MEBEL KAYU DALAM RANGKA PEMBERDAYAAN EKONOMI RAKYAT DI KABUPATEN KLATEN (STRATEGI UNTUK MENJADIKAN PENGUSAHA MANDIRI) AY, Burhanudin
PARADIGMA Vol 4, No 01 (2007): Paradigma, Vol.04, No.01 Semester Ganjil 2007
Publisher : PARADIGMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (14.618 KB)

Abstract

Dalam rangka meningkatkan daya tawar atau bargaining power pelaku usaha industri mebel kayu di Kabupaten Klaten untuk pemberdayaan ekonomi kerakyatan, agar pelaku usaha industri kecil mebel semakin berdaya dan mandiri. Untuk mencapai tujuan tersebut, strategi peningkatan yang dapat dilakukan adalah dengan peningkatan bargaining power terhadap relasi-relasi usaha pada rantai hulu-hilir yang meliputi: Peningkatan bargaining Power industri kecil mebel terhadap pelaku-pelaku di jalur input bahan baku. Strategi ini akan menjadikan pihak pengusaha lebih berdaya, karena bukan menjadi obyek semata. Pelaku-pelaku yang berada di jaulur input bahan baku adalah: PT Perhutani, pedagang kayu, dan bakul kayu. Peningkatan bargaining power industri kecil mebel terhadap pelaku-pelaku di jalur hilir. Dengan strategi ini pengusaha memiliki akses dengan konsumennya. Pelaku yang ada adalah: konsumen akhir, pedagang kulakan dan pedagang eceran di pasar ekspor, eksportir dan pedagang lokal. Peningkatan bargaining power industri mebel terhadap relasi di antara pelaku usaha. Strategi ini untuk meningkatkan kesetaraan dengan sesama pelaku usaha. Pelaku di jalur ini adalah: penyedia kayu, pasar out-put, dan buruh. Kata kunci: Pengembangan, Pemberdayaan, Ekonomi Rakyat, Pengusaha mandiri.