Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PEMBELAJARAN MENGETIK AWAS BAGI SISWA TUNANETRA DI SEKOLAH LUAR BIASA (Studi Deskriptif Tentang Pembelajaran Mengetik Awas Bagi Siswa Tunanetra Kelas XI Di SLBN-A Citeureup Kota Cimahi) Mugianara E, Asep
JASSI ANAKKU Vol 19, No 1 (2019): JASSI Anakku: Volume 19, Issue 1, 2019
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (53.144 KB) | DOI: 10.17509/jassi.v19i1.22708

Abstract

Tujuan dari penelitian ini  adalah untuk memperoleh data tentang pembelajaran mengetik awas bagi siswa tunanetra di sekolah luar biasa. Anak tunanetra senantiasa memanfaatkan indera perabaan dan pendengaran  untuk menggantikan fungsi indera penglihatan, karena kedua indera ini adalah saluran penerima informasi yang paling efektif dan efisien setelah indera penglihatan, maka tunanetra dalam melakukan mobilitas termasuk juga dalam kegiatan mengetik awas secara mandiri  harus menggunakan teknik alternatif. Penelitian ini menggunakan  pendekatan kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian ini diketahui bahwa perencanaan pembelajaran mengetik awas di SLBN-A Citeureup Cimahi disusun guru mata pelajaran TIK sebelum proses pembelajaran berlangsung mencakup komponen-komponen perencanaan pembelajaran, hal ini  menunjukan bahwa guru memiliki pengetahuan yang memadai tentang bagaimana merencanakan pembelajaran mengetik awas  dengan baik. Proses pembelajaran mengetik awas masih diintegrasikan dengan mata pelajaran TIK, hal tersebut dikarenakan belum adanya pemisahan pembelajaran antara mengetik awas dengan mata pelajaran TIK. Hambatan yang dialami oleh siswa tunanetra  yaitu kurangnya motivasi belajar mengakibatkan  tidak terlatihnya motorik halus tangan terutama kelenturan dan kepekaan jari-jari tangan ketika mengetik awas dilakukan, belum mengenal letak tombol-tombol keyboard dengan baik. Upaya yang dilakukan siswa diantaranya dengan berlatih secara rutin mengenal dan menghafal tombol-tombol keyboard menggunakan keyboard  bekas yang dibantu dengan huruf braille di atas tombolnya, berkonsultasi dengan guru TIK agar masalah yang dihadapi menemukan solusi. Hambatan pun dialami oleh guru mata pelajaran TIK,  guru harus memiliki kemampuan dalam memperbaiki perangkat software ataupun hardware komputer jika sewaktu-waktu mengalami kerusakan, guru harus memahami sikap dan minat anak dalam belajar yang harus diarahkan dan dikembangkan sesuai potensinya masing-masing.  Upaya yang dilakukan guru adalah mempelajari hal-hal yang berkenaan  dengan  software dan  hardware komputer, serta melakukan komunikasi dengan siswa dalam rangka membangun motivasi belajar. Mengatasi hambatan yang dialami siswa tunanetra dalam pembelajaran mengetik awas,  guru berupaya memberikan pemahaman konsep ruang tentang posisi/letak tombol-tombol keyboard secara sistematis  disertai  latihan drilling  mengetik sepuluh jari untuk melatih motorik halus anak ketika kepekaan dan kelenturan jari tangan anak mengalami hambatan pada waktu proses pembelajaran mengetik awas berlangsung.