Munawir Aziz
CRCS Universitas Gadjah Mada. Jl. Teknika, Sleman Yogyakarta.

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search
Journal : PALASTREN

Perempuan dalam Tragedi Komodifikasi Aziz, Munawir
PALASTREN Vol 3, No 1 (2010): Jurnal Palastren (Januari - Juni)
Publisher : PALASTREN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di panggung kehidupan negeri ini, perempuan masih terbelenggu budaya patriarkhi yang menghempas kebebasan. Kaum perempuan seakan ditikam oleh tradisi yang mendekonstruksi eksistensi diri, melalui proses dehumanisasi, perempuan terjerembab dalam lubang hitam yang tanpa disadari secara utuh. Walaupun gerakan emansipasi telah berhembus kencang dalam beberapa dekade dewasa ini, akan tetapi perempuan belum sepenuhnya dapat menyuarakan suara nuraninya secara bebas. Kaum perempuan menjadi spoken majority, mayoritas yang diam, tak menggenggam kebebasan menggelorakan aspirasi. Inilah sebentuk sayatan yang menyebabkan luka perempuan sulit tersembuhkan. Bahkan, dalam ruang kapitalisme, perempuan kembali menjadi komoditas yang menguntungkan segelintir pihak. Di jagat iklan, perempuan hanya menjadi obyek untuk menaklukkan pasar komersial. “Tubuh” dan ekspresi perempuan dieksplorasi secara massif untuk memberi berbagai kesan yang mendukung citra iklan. Akan tetapi, penggunaan simbol perempuan dalam ruang gemerlap iklan, belum sepenuhnya menguntungkan kaum hawa. Bahkan, perempuan seakan tertindas secara tidak sadar. Dan, dari keprihatinan semacam ini, buku Manipulasi dan Dehumanisasi dalam Iklan ini lahir. Menurut Kasiyan, sang penulis, di ruang iklan yang merupakan sayap kapitalisme, perempuan menjadi tanda dan komoditas yang bebas digerakkan. Pembentukan citra mengenai tubuh perempuan, menjadi brand image, sebuah produk kecantikan. Pada titik ini, politik pencitraan menemukan muaranya. Simbol tentang kecantikan, tak lagi menjadi multitafsir. Akan tetapi, dimaknai secara subyektif dan membentuk perspektif massa secara menyeluruh. Alih-alih memihak kepentingan perempuan, konstruksi citra semacam ini, pada akhirnya akan menjadikan perempuan sebagai komoditas penting dalam ruang kapitalisme. Dengan demikian, perempuan hanya menjadi sarana yang mengukuhkan kepentingan iklan (hlm. 19).