Tinni T. Maskoen
Unknown Affiliation

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Angka Kejadian Delirium dan Faktor Risiko di Intensive Care Unit Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Rakhman Adiwinata; Ezra Oktaliansah; Tinni T. Maskoen
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (380.923 KB) | DOI: 10.15851/jap.v4n1.744

Abstract

Delirium ditandai dengan perubahan status mental, tingkat kesadaran, serta perhatian yang akut dan fluktuatif. Keadaan ini merupakan kelainan yang serius berhubungan dengan pemanjangan lama perawatan di Intensive Care Unit (ICU), biaya yang lebih tinggi, memperlambat pemulihan fungsional, serta peningkatan morbiditas dan mortalitas. Tujuan penelitian adalah mengetahui angka kejadian delirium dan faktor risiko terjadinya delirium di ICU Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Pengambilan sampel dilakukan selama tiga bulan (Januari–Maret 2015) di ICU RSHS Bandung. Metode penelitian ini deskriptif observasional secara kohort prospektif, menggunakan alat ukur Confusion Assessment Method-Intensive Care Unit (CAM-ICU), sebelumnya dilakukan penilaian dengan Richmond agitation-sedation scale (RASS) pada pasien yang tersedasi. Hasil penelitian ini dari 105 pasien, 22 pasien dieksklusikan, dari 83 pasien didapatkan 31 pasien positif delirium, angka kejadian 37%. Faktor-faktor risiko pada pasien positif delirium terdiri atas geriatri 15 dari 31, pemakaian ventilator 12 dari 31, pemberian analgesik morfin 9 dari 31, sepsis atau infeksi 9 dari 31, kelainan jantung 8 dari 31, acute physiology and chronic health evaluation (APACHE) II skor tinggi 8 dari 31, kelainan ginjal 7 dari 31, laboratorium abnormal 7 dari 31, pemberian sedasi midazolam 6 dari 31 kelainan endokrin 5 dari 31, pemberian analgesik fentanil 2 dari 31, dan strok 1 dari 31. Simpulan, angka kejadian delirium di ICU RSHS Bandung cukup tinggi sebesar 37% dengan faktor risiko terbesar adalah pasien geriatrik.Kata kunci: Confusion Assessment Method-Intensive Care Unit, delirium, faktor risiko, Richmond agitation-sedation scale Incidence and Risk Factors of Deliriumin in the Intensive Care Unit of Dr. Hasan Sadikin General Hospital BandungAbstractDelirium ditandai dengan perubahan status mental, tingkat kesadaran, serta perhatian yang akut dan fluktuatif. Keadaan ini merupakan kelainan yang serius berhubungan dengan pemanjangan lama perawatan di Intensive Care Unit (ICU), biaya yang lebih tinggi, memperlambat pemulihan fungsional, serta peningkatan morbiditas dan mortalitas. Tujuan penelitian adalah mengetahui angka kejadian delirium dan faktor risiko terjadinya delirium di ICU Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Pengambilan sampel dilakukan selama tiga bulan (Januari–Maret 2015) di ICU RSHS Bandung. Metode penelitian ini deskriptif observasional secara kohort prospektif, menggunakan alat ukur Confusion Assessment Method-Intensive Care Unit (CAM-ICU), sebelumnya dilakukan penilaian dengan Richmond agitation-sedation scale (RASS) pada pasien yang tersedasi. Hasil penelitian ini dari 105 pasien, 22 pasien dieksklusikan, dari 83 pasien didapatkan 31 pasien positif delirium, angka kejadian 37%. Faktor-faktor risiko pada pasien positif delirium terdiri atas geriatri 15 dari 31, pemakaian ventilator 12 dari 31, pemberian analgesik morfin 9 dari 31, sepsis atau infeksi 9 dari 31, kelainan jantung 8 dari 31, acute physiology and chronic health evaluation (APACHE) II skor tinggi 8 dari 31, kelainan ginjal 7 dari 31 laboratorium abnormal 7 dari 31, pemberian sedasi midazolam 6 dari 31 kelainan endokrin 5 dari 31, pemberian analgesik fentanil 2 dari 31, dan strok 1 dari 31. Simpulan, angka kejadian delirium di ICU RSHS Bandung cukup tinggi sebesar 37% dengan faktor risiko terbesar adalah pasien geriatrik.Key words: Confusion Assessment Methode-Intensive Care Unit, delirium, Richmond agitation-sedation scale, risk factor DOI: 10.15851/jap.v4n1.744
Perbandingan Pemberian Parecoxib Na 40 mg Intravena Preoperatif dengan Pascaoperatif dalam Penatalaksanaan Nyeri Pascaoperatif pada Operasi Laparotomi Ginekologis Ardhana Risworo Anom Yuswono; Tinni T. Maskoen; Iwan Fuadi
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 2, No 3 (2014)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1109.743 KB)

Abstract

Multimodal analgesia dan preemptive analgesia menjadi terapi yang efektif dalam penatalaksanaan nyeri pascaoperatif. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perbandingan pemberian parecoxib Na 40 mg intravena preoperatif dengan pascaoperatif terhadap nilai NRS. Penelitian ekperimental dengan rancangan analisis komparatif dilaksanakan dari Maret–Juni 2013. Subjek adalah wanita usia 18-60 tahun yang menjalani operasi laparatomi ginekologis dengan anestesi umum di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung. Subjek terdiri atas 18 orang pada masing masing kelompok. Parecoxib Na 40 mg diberikan pada dua kelompok perlakuan, yaitu pre atau pascaoperatif. Tramadol 200 mg diberikan pascaoperatif pada semua kelompok dan dilakukan penilaian NRS di ruang pemulihan. Nilai NRS 1 lebih banyak ditemukan pada kelompok I, nilai NRS 3 lebih banyak didapatkan pada kelompok II. Nilai NRS pada kelompok I didapatkan nyeri ringan 15 orang dan nyeri sedang 3 orang. Pada kelompok II didapatkan nyeri ringan 15 orang dan nyeri sedang 3 orang, berdasarkan analisis uji chi-kuadrat tidak terdapat perbedaan nilai NRS kedua kelompok. Tidak didapatkan subjek yang memerlukan analgetik tambahan. Simpulan penelitian ini adalah bahwa tidak terdapat perbedaan antara pemberian parecoxib Na 40 mg preoperatif dan pascaoperatif dalam penatalaksanaan nyeri pascaoperatif. Efek analgetik yang lebih baik didapatkan pada pemberian parecoxib Na preoperatif dengan nilai NRS yang lebih rendah. Kata kunci: Laparatomi ginekologis, numerical rating scale, parecoxib Na, preoperatif, pascaoperatifComparison of Pre-operative and Post-operative Intravenous 40 mg Parecoxib Na in Gynecologic Laparatomy Surgery Post-Operative Pain Management AbstractMultimodal analgesia regimens  and preemptive analgesia will improve post- operative  pain relief. The purpose of this study was to compare pre- and post- operative parecoxib 40 mg intravenous to NRS value. This experimental study with comparative analytical method was conducted in women 18 to 60 years old who underwent gynecologic laparatomy at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung during the period of March to June 2013. Subjects consisted of 18 women for each pre-operative and post-operative group. Parecoxib 40 mg were given to the two groups, pre-operative (group I) and post-operative (group II), while intravenous tramadol 200 mg was also also given to all groups post-operatively. The NRS was calculated at recovery room. NRS value 1 was more frequent in group I while the NRS value 3 more frequent in group II. NRS values  in group I: 15 with mild pain (83.3%), 3 with moderate pain (16.7%). In group II the values were 15 with mild pain (83.3%), 3 with moderate pain (16.7%), which was not significant. In conclusion, there is no difference between pre-operative and post-operative parecoxib sodium 40 mg for post operative pain management. There is a better analgetic effect in the group with pre-operative parecoxib which is apparent from lower NRS.Key words: Gynecological laparatomy, numerical rating scale, parecoxib Na, post operative, pre operative DOI: 10.15851/jap.v2n3.327
Pemberian Bolus 7,5 mL Poligelin pada Ruang Epidural untuk Menurunkan Kejadian Postdural Puncture Headache pada Anestesi Spinal I. B. Krisna Jaya Sutawan; Erwin Pradian; Tinni T. Maskoen
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 1, No 3 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1104.434 KB)

Abstract

Post dural puncture headache (PDPH) mengakibatkan morbiditas pada ibu yang menjalani seksio sesarea dengan anestesi spinal. PDPH disebabkan karena penurunan tekanan intratekal akibat kebocoran cairan serebrospinalis. Bolus poligelin pada ruang epidural diharapkan secara sementara meningkatkan tekanan ruang epidural dan mengurangi kebocoran cairan serebrospinalis sehingga dapat menurunkan kejadian PDPH. Penelitian dilakukan dengan uji klinis single blind randomized controled trial pada 90 wanita hamil yang menjalani seksio sesarea dengan anestesi spinal pada Oktober sampai Desember 2011 Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung. Sampel dikelompokkan secara random menjadi kelompok bolus 7,5 mL poligelin dan kelompok kontrol, selanjutnya dilakukan penilaian PDPH sampai hari kelima pascaanestesi spinal. Analisis statistik berdasarkan Uji Eksak Fisher, memperlihatkan bahwa angka kejadian PDPH pada kedua kelompok perlakuan menunjukkan perbedaan bermakna secara statistik (p<0,05). Simpulan dari penelitian ini adalah bolus poligelin pada ruang epidural dapat menurunkan angka kejadian PDPH pada pasien yang menjalani operasi seksio sesarea dengan anestesi spinal.Kata kunci: Anestesi spinal, poligelin, post dural puncture headache, ruang epidural  Bolus 7.5 mL Polygeline into the Epidural Space in Reducing the Incidence of Postdural Puncture Headache on Spinal AnesthesiaAbstractPost dural puncture headache (PDPH) may cause morbidity in women undergoing caesarean section with spinal anesthesia. PDPH is caused by a reduction of intrathecal pressure due to leakage of cerebrospinal fluid. Polygeline bolus into the epidural space is expected to temporarily increase the pressure of the epidural space therefore reduces cerebrospinal fluid leakage so that it may reduce the incidence of PDPH. The study conducted was a single-blind randomized clinical trial on 90 pregnant women undergoing caesarean section with spinal anesthesia from October until December 2011 in Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung. Samples were randomly divided into the bolus of 7.5 mL polygeline group and the control group. Evaluation of PDPH was performed until 5th day post-spinal anesthesia. Statistical analysis using Fisher's Exact Test, showed that the incidence of PDPH in both treatment groups showed a statistically significant difference (p<0.05). The conclusion of this study is polygeline bolus into the epidural space may decrease the incidence of PDPH in patients undergoing caesarean section with spinal anesthesia.Key words: Epidural space, polygeline, post dural puncture headache, spinal anesthesia DOI: 10.15851/jap.v1n3.193
Perbandingan Efek Pemberian Cairan Kristaloid Sebelum Tindakan Anestesi Spinal (Preload) dan Sesaat Setelah Anestesi Spinal (Coload) terhadap Kejadian Hipotensi Maternal pada Seksio Sesarea Zaki Fikran; Doddy Tavianto; Tinni T. Maskoen
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (466.705 KB)

Abstract

Pemberian cairan secara preload sebagai profilaksis sebelum anestesi spinal telah menjadi prosedur rutin untuk mencegah hipotensi ibu selama tindakan seksio sesarea. Tidak seperti koloid, waktu pemberian cairan kristaloid merupakan hal penting karena singkatnya waktu cairan kristaloid berada di ruang intravaskular. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh waktu pemberian cairan kristaloid terutama Ringerfundin yang lebih baik antara preload dibanding dengan coload dalam mencegah hipotensi maternal selama anestesi spinal pada seksio sesarea. Penelitian dilakukan di Central Operating Theatre (COT) Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Juni−Juli 2015 dengan uji klinis acak tersamar tunggal terhadap 36 pasien yang menjalani seksio sesarea dengan status fisik American Society of Anesthesiologist (ASA) II. Kejadian hipotensi dinilai setelah pemberian anestesi spinal sampai bayi lahir. Data hasil penelitian dianalisis dengan uji-t, Uji Mann-Whitney, dan uji chi-kuadrat dengan nilai p<0,05 dianggap bermakna. Insidens hipotensi lebih rendah pada kelompok kristaloid coload dibanding dengan kelompok kristaloid preload (44,4% vs 77,8%; p=0,040). Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian cairan kristaloid secara coload lebih efektif daripada preload untuk pencegahan hipotensi maternal setelah anestesi spinal pada seksio sesarea.Kata kunci: Anestesi spinal, hipotensi, kristaloid, seksio sesareaComparison of the Effect of Crystalloids Fluid Provision Before Spinal Anesthesia (Preload) and Shortly after Spinal Anesthesia (Co-load) on Maternal Hypotension Incidence in Caesarean DeliveryProphylactic fluid as a preload before spinal anesthesia has been a routine procedure to prevent maternal hypotension during cesarean delivery. Unlike colloid, timing of infusion of crystalloid may be important because it has short linger time in the intravascular space. This study aimed to compare the effect of the timing of administration of crystalloid, especially Ringerfundin, which is more effective between preload and co-load in preventing maternal hypotension during spinal anesthesia for cesarean section. This study was performed at the Central Operating Theatre (COT) of Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung in June−July 2015 using the single blind randomized controlled trial method on 36 patients who underwent caesarean section with American Society of Anesthesiologist (ASA) II physical status. The incidence of hypotension was observed starting from the time the spinal anesthesia was performed to the time when the baby was born. Data were analyzed statistically using t-test, Mann Whitney test, and chi-square test where a p value of <0.05 considered significant. The incidence of hypotension was lower in the co-load group when compared to the preload group (44.4% vs. 77.8%, p value=0.040). In conclusion, the use of crystalloids for cesarean delivery in co-loading manner is more effective than preloading for the prevention of maternal hypotension after spinal anesthesia.Key words: Cesarean delivery, crystalloid, hypotension, spinal anesthesia DOI: 10.15851/jap.v4n2.818
Perbandingan Efek Pemberian Norepinefrin Bolus Intravena dengan Norepinefrin Infus Kontinu dalam Tatalaksana Hipotensi, Laju Nadi, dan Nilai APGAR pada Seksio Sesarea dengan Anestesi Spinal Fitri Sepviyanti Sumardi; Abdul Muthalib Nawawi; Tinni T. Maskoen
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1462.282 KB)

Abstract

Vasopresor sering digunakan dalam tatalaksana hipotensi anestesi spinal pada seksio sesarea. Penelitian bertujuan membandingkan efek pemberian norepinefrin bolus intravena dengan norepinefrin infus kontinu dalam tatalaksana hipotensi pada anestesi spinal pasien seksio sesarea dan pengaruh pada laju nadi serta nilai APGAR. Penelitian bersifat eksperimental acak tersamar ganda pada 44 ibu hamil status fisik American Society of Anesthesiologist (ASA) II yang menjalani seksio sesarea dengan anestesi spinal di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada September–November 2013. Subjek penelitian dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok  norepinefrin bolus intravena 4 µg (NB) dan kelompok norepinefrin infus kontinu 8 µg/menit (NK). Data dianalisis dengan uji-t, Uji Mann-Whitney, chi-kuadrat dan uji-t analysis of variance (ANOVA), nilai p<0,05 dianggap bermakna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan tekanan darah sistol, diastol, dan rata-rata lebih tinggi pada kelompok NB (p=0,000). Perubahan laju nadi secara umum pada kedua kelompok relatif stabil dan nilai APGAR menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna (p>0,05). Simpulan penelitian ini adalah kedua cara pemberian norepinefrin ini dapat digunakan dalam tatalaksana hipotensi anestesi spinal tanpa memengaruhi laju nadi dan nilai APGAR.   Kata kunci: Anestesi spinal, hipotensi, nilai APGAR, norepinefrin, seksio sesareaEffect of Intravenous Norepinephrine Bolus and Norepinephrine Continuous Infusion on Hypotension Management, Heart Rate, and APGAR Score in Caesarean Section Patient under Spinal AnesthesiaAbstractVasopresors are commonly used for the treatment of hypotension in spinal anesthesia for cesarean section. This research aimed to compare intravenous bolus of norepinephrine to continuous infusion of norepinephrine effectiveness in hypotension management in caesarean section patient under spinal anesthesia and their effect on heart rate and APGAR Score, The experimental study was conducted in a double-blind randomized manner to 44 American Society of Anesthesiologist (ASA) physical status II pregnant women undergoing cesarean section with spinal anesthesia in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung within the period of September to -November 2013. The Study  subjects were grouped into two groups, the first group received 4 µg intravenous bolus of norepinephrine group (NB) and and the second received 8 µg/minute continuous infusion of norepinephrine group (NK).  Data were analyzed by t-test, Mann-Whitney test, chi-square and analysis of variance (ANOVA) t-test with p<0.05 was considered significant. The results showed that the increase in systolic, diastolic and mean arterial blood pressures were higher in the NB group (p=0.000). Changes in heart rate were generally relatively stable in both groups and APGAR score showed a non-significant difference (p>0.05). Conclusion from this study is the administration of norepinephrine in both ways can be used for the treatment of hypotension of spinal anesthesia without affecting the heart rate and APGAR scoreKey words: APGAR score, caesarean section, hypotension, norepinephrine, spinal anaesthesia DOI: 10.15851/jap.v3n1.375