Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

KECEMASAN PADA WANITA YANG TELAT MENIKAH DALAM PERSPEKTIF PERSON CENTERED THERAPY Renyep Proborini; Gilang Sukma Lestari; Khairani Khairani
JURNAL PSIKOLOGI MALAHAYATI Vol 1, No 2 (2019): Jurnal Psikologi Malahayati
Publisher : Program Studi Psikologi Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jpm.v1i2.1874

Abstract

ANXIETY AMONG LATE MARRIED WOMEN IN PERSON CENTERED THERAPY PERSPECTIVEThis study aim to find data about anxiety among late married women. Discussion about this problem will be based on Person Centered Therapy form Carl R Rogers. The method used in this study was a qualitative method with case study approach. The subject of this study was three unmarried women, 28-30 years old, live in Bandar Lampung. Data obtained by interview and observation. To improve data credibility, interviews were also conducted on the third parties pf each subject. The result of this study shows that anxiety found in women who get married late is varied from low, mideum, and high. As adult women who already have self-concept, the subjects choose and realize a number of experiences that are in accordance with themselves. If it does not match, it will be ignored or changed. The self finally forms the ideal self and self concept. Self-confidence and independence help the subject to accept the reality of the problem. Unconsciousness of experiences that are seen, heard and felt, can reduce anxiety in one side, but increased anxiety on the other side, because it is contrary to the reality. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data mengenai kecemasan yang dialami oleh wanita yang telat menikah. Pembahasan masalah ini akan dilandasi pendekatan teori Person Centered Therapy dari Carl R. Rogers. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Subyek penelitian adalah tiga orang wanita yang belum menikah, berusia 28-30 tahun yang tinggal di Bandarlampung. Pengumpulan data menggunakan metode wawancara dan observasi. Untuk lebih memperkuat kredibilitas data, maka dilakukan wawancara terhadap pihak ketiga dari masing-masing subyek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecemasan karena telat menikah pada para subyek bervariasi dari level rendah, sedang dan tinggi. Sebagai wanita dewasa yang telah memiliki konsep diri, para subyek memilih dan menyadari  sejumlah pengalamannya yang sesuai dengan diri. Bila tak sesuai maka akan diabaikan atau diubah. Diri akhirnya membentuk konsep diri dan diri ideal. Kepercayaan diri dan kemandirian membantu subyek untuk dapat menerima kenyataan mengenai permasalahannya. Ketidaksadaran terhadap pengalaman yang dilihat, didengar dan dirasai, satu sisi dapat meredam kecemasan namun di sisi lain mendorong meningkatnya kecemasan karena bertentangan dengan realita yang ada.
Pemberdayaan Taman Pendidikan Quran (TPQ) Melalui Pembuatan Kurikulum Berdasarkan Metode Multi-Sensori Sovi Septania; Khairani Khairani; Mashdaria Huwaina
Jurnal Abmas Negeri (JAGRI) Vol. 2 No. 2 (2021): Volume 2 Nomor 2 Desember 2021
Publisher : Sarana Ilmu Indonesia (salnesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1133.885 KB) | DOI: 10.36590/jagri.v2i2.161

Abstract

TPQ sebagai lembaga pembelajaran Al-Quran harus memiliki metode pembelajaran yang terstandar melalui kurikulum sehingga evaluasi pembelajaran dapat dilakukan secara optimal. Masalah saat ini yang dihadapi TPQ Safaril ‘Ulum yaitu belum memiliki kurikulum yang terstandar sehingga proses belajar hanya difokuskan pada aktivitas rutin tanpa metode pembelajaran yang dapat dinilai efektivitasnya. Tujuan kegiatan untuk memberikan pendampingan dalam pembuatan kurikulum berdasarkan metode multi-sensori yang telah terbukti mampu berpengaruh terhadap kemampuan menghafal siswa. Metode pelaksanaan kegiatan terdiri dari focus group discussion, observasi dan demostrasi hasil atau sosialisasi. Proses kegiatan dibagi menjadi tiga tahapan yaitu tahap persiapan untuk memetaan kondisi awal TPQ, tahap kedua sebagai proses FGD dalam pembuatan kurikulum dan tahap ketiga yaitu sosialisasi kurikulum. Dengan kurikulum berlandaskan metode multi-sensori, tenaga pendidik memiliki panduan sekaligus mampu menerapkan metode pembelajaran yang baru bagi peserta didik. Selain itu, kegiatan ini dapat menghasilkan siswa didik yang tidak hanya cepat dalam proses menghafal Al-Quran, namun menempatkan standar yang sama bagi seluruh siswa didik dengan kurikulum yang terstandar.
Strategi Penguatan Capacity Building Guru Pendidikan Agama Islam Berbasis Kecerdasan Sosial-Emosional Untuk Mencegah Bullying Di Madrasah Ratu Amalia Hayani; Khairani Khairani; Natriya Faisal Rachman; Annisa Nuraisyah Annas; Gamar Al Haddar
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 2 (2026): April - Juni
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i2.684

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah merumuskan strategi penguatan capacity building guru Pendidikan Agama Islam (PAI) berbasis kecerdasan sosial-emosional (KSE) untuk mencegah perilaku bullying di madrasah. Metode yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan menganalisis berbagai literatur tentang  capacity building guru, kecerdasan sosial-emosional, pencegahan bullying, serta konsep pendidikan Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Guru PAI membutuhkan penguatan kompetensi sosial-emosional yang meliputi kesadaran diri, pengelolaan emosi, empati, keterampilan relasi, dan pengambilan keputusan bertanggung jawab; (2) Strategi penguatan dapat dilakukan melalui pelatihan KSE terintegrasi nilai-nilai Islam (seperti rahmah,  ukhuwah, ‘adalah), supervisi klinis reflektif, komunitas praktik antar-guru, serta integrasi materi anti-bullying dalam pembelajaran PAI; (3) Pendekatan KSE efektif menciptakan iklim madrasah yang aman dan inklusif karena guru menjadi teladan dalam mengelola konflik dan membangun empati, sehingga mengurangi potensi kekerasan verbal, fisik, maupun sosial di lingkungan madrasah. Dengan demikian, penguatan KSE berbasis nilai Islam bagi guru PAI merupakan strategi preventif yang holistik dalam menekan angka bullying di madrasah.