Edi Bahtiar
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Implementasi Pendekatan Kontekstual dalam Pembelajaran Fikih di Pondok Pesantren Nihayatus Salikin Cofsoh, Yanuba Arifatul; Bahtiar, Edi
PARAMUROBI: JURNAL PENDIDIKAN AGAMA ISLAM Vol 8 No 2 (2025): Paramurobi: Jurnal Pendidikan Agama Islam
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UNSIQ Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/d8mrek91

Abstract

This study aims to determine the application of the contextual approach in learning fiqh at the Nihayatus Salikin Islamic boarding school. The approach used is a qualitative approach with the type of case study. The data collected came from supporting documents, interviews and participatory observation which were then analyzed using the reduction stage which was then presented in the form of descriptive narratives and conclusions were drawn. Triangulation used in testing the validity of data is source triangulation, namely by comparing two data that have been obtained. The results showed that the implementation of the contextual approach in learning fiqh at the Nihayatus Salikin Islamic boarding school was carried out using three stages. First, planning in the form of selecting books that are used as guidelines in learning. Second, implementation by using three learning methods, namely the bandongan, sorogan and deliberation methods which are integrated with the components of the contextual approach, including constructivism, discovery, questioning, learning communities, modeling, reflection and authentic assessment. Third, the evaluation is carried out using written tests and direct observation of the santri's involvement in applying the material that has been learned.
Aktualisasi Peran Ulama Sebagai Warasatul Anbiya Dalam Konteks Kehidupan Beragama Dan Bernegara Bahtiar, Edi
RIWAYAH Vol 4, No 1 (2018): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v4i1.3206

Abstract

Abstrak Penegasan sebuah hadis bahwa ulama’ sebagai warotsatul anbiya’ memberikan pengertian bahwa peran yang dipikul oleh ulama tidaklah ringan. Ulama mempuyai tanggung jawab untuk menyampaikan kandungan isi al-Quran, bahkan memberikan suri tauladan dalam mengamalkan ajaran al-Qur’an. Selain itu, ulama juga harus dapat memberikan penjelasan dan pemecahan mengenai problem yang dihadapi masyarakat, berdasarkan al-Quran.Dengan demikian, tidak boleh tidak, seorang ulama harus menjadi pemimpin dalam masyarakat, walaupun tentu saja tidak dapat menyamai prestasi Nabi dalam memimpin umat yang kita ketahui bahwasanya tidak ada pemisahan antara ulama dan umara’ (pemerintah). Namun jika kita tarik ke konteks keIndonesiaan, di mana kepemimpinan dipegang oleh pemerintah dan peran ulama tidak lagi sepenuhnya menjadi pemimpin masyarakat, maka antara keduanya harus ada kerjasama yang baik untuk mewujudkan kesejahteraan ummat.Ulama yang secara formal legalitas diakui keberadaannya oleh pemerintah Indonesia namun independen yaitu Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ada pertanyaan yang menggelitik. Apakah para ulama yang masuk dalam jajaran MUI sudah berperan aktif memecahkan problematika keagamaan maupun kebangsaan di Nusantara ini? Apakah keberadaan MUI sudah diakui sepenuhnya oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia sehingga MUI menjadi satu-satunya rujukan mereka saat mengalami problematika yang dimaksud?Sementara itu, fenomena maraknya stasiun televisi yang menayangkan program tausiyah keagamaan yang menampilkan para ulama’/ustadz sebagai narasumbernya menjadikan perlu adanya identifikasi ulang terkait dengan identitas seorang ulama. Bisakah mereka yang hanya karena tampil di televisi sebagai narasumber dalam acara talk show keagamaan disebut sebagai ulama? Belum lagi ada yang kemudian memasang tarif yang setara dengan pelaku seni di dunia entertainment.
Peran Ummahatul Mukminin dalam Tahammul Hadis Waadauhu Bahtiar, Edi
RIWAYAH Vol 3, No 2 (2017): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v3i2.3734

Abstract

Ketinggian kedudukan ummahãtul mukminīn mereka peroleh karena kedekatan mereka dengan Rasulullah. Dengan kata lain, mereka mempunyai kesempatan lebih banyak untuk mengenal Rasulullah dan meneladani beliau serta mereka mendapatkan bimbingan langsung serta khusus dari Rasulullah.Ummhatul Mukminin mempunyai andil dan peran penting dalam mentransmisikan hadis melebihi para shahabat yang lain selain Abu Hurairah. Terlebih Sayyidah Aisyah yang dinobatkan sebagai perawi terbanyak di kalangan perempuan, tentu saja mempunyai peran yang lebih dibanding istri-istri Nabi yang lain. Hal ini dipengaruhi oleh fator internal, yaitu secara pribadi beliau memang mempunyai keunggulan terkait daya intelektualitasnya; dan faktor eksternal yaitu beliau adalah istri Nabi yang paling dicintai oleh Nabi sehingga intensitas kebersamaannya dengan Nabi paling tinggi dibanding istr-istri yang lain, oleh karenanya peluang beliau untuk mengakses dan merekam sunah-sunah Nabi baik yang berupa perkataan, haliyah perbuatan, dan taqrir Nabi dalam berbagai hal tentu saja lebih banyak.Lembaran sejarah Islam menginformasikan bahwa pada masa permulaan Islam, banyak wanita muslimah yang ilmunya banyak dimanfaatkan oleh kaum muslimin. Ibnu Sa’ad memaparkan kepada kita tentang tujuh ratus wanita yang meriwayatkan hadis dari Rasulullah atau dari para sahabat. Kitab al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah karya Ibnu Hajar sebagaimana dinukil oleh Aba Firdaus al-Halwani (1996 : 233), bahwa terdapat riwayat seribu lima ratus empat puluh tiga wanita perawi hadis yang diakui keilmuan dan kejujurannya oleh Rasulullah. Dalam tradisi al-taḥammul wa adā’ al-hadis, dikenal ada beberaapa cara, yaitu : 1) al-simā’; 2) al-ikhbār; 3) al-kitābah; 4) al-waṣiyyah; 5) al-wijādah; dan sebagainya.