Suriadi Adi Samsuri
Institut Agama Islam Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PROFESIONALISME GURU DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN Suriadi Adi Samsuri
JP : JURNAL PENDIDIKAN Vol 2, No 1 (2018): Maret
Publisher : Institut Keislaman Abdullah Faqih (INKAFA) Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (50.295 KB) | DOI: 10.33754/jalie.v2i1.108

Abstract

Education as a theory of human thinking about the problems of education and efforts to solve it in a fundamental and systematic. While education as a practice is a human activity educates learners to achieve certain idealized goals. Professionalism is a teaching that teaches that every job should be done by a professional person. A professional person is a person who has a profession. In Islam every work must be done professionally, in the sense of being done right. It's only possible by someone who is an expert. Whatever type of profession is carried, it should be done professionally. The teacher's professionalism in the Quran is actually derived from the opinion of the commentators who emphasize the meaning of the word 'ala'atam al-An'am: 135, Hud: 93 and 121, Al-Zumar: 39) and the word' ala syakilatihi (on the letter of Al-Isra: 84). The two words are the word 'ala eatatikum has the meaning of place, degree, position, ability, strength, position, state of a person, peak ability possessed by someone, or a fixed state of something that happens continuously all the time, . From this it can be understood that the Koran gives the signal that work must be done professionally. Similarly, the profession of teachers should be done professionally.
MASYIAH DALAM AL-QUR’AN DITINJAU PERSPEKTIF TEOLOGI PENDIDIKAN Suriadi adi Samsuri
Tarbawy : Jurnal Pendidikan Islam Vol 7 No 2 (2020): Tarbawy : Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32923/tarbawy.v7i2.1312

Abstract

Kajian ini akan mencoba mengeksplorasi konsep masyiah dengan menampilkan perdebatan sengit yang terjadi di kalangan mutakallimin mengenai kehendak Allah dan kehendak manusia. Setelah itu, pembahasan selanjutnya dari konsep masyiah ini akan digali konsep-konsep yang terkait dengan pendidikan sehingga hasilnya nanti diharapkan dapat memberikan arah, sejauhmana sebenarnya wilayah ikhtiar manusia dalam pendidikan agar mereka bisa membantu memanusiakan manusia. Gagasan mengenai kehendak Allah (masyiatullah) banyak sekali diterangkan dalam al-Qur’an. Allah seringkali menegaskan bahwa diri-Nya mempunyai masyiah dalam hubungan-Nya dengan manusia. Misalnya, “Dia menurunkan kemuliaan-Nya kepada hamba yang dikehendaki-Nya” (QS. al-Baqarah: 90). Selain ayat ini, masih banyak lagi ayat yang menerangkan tentang kemutlakan kehendak Allah. Diantaranya surat al-Baqarah: 253, Ali Imran: 40, Al-An’am: 112, Yunus: 99, Hud: 118 dan masih banyak lagi ayat-ayat lainnya.
IMPLIKASI PENDIDIKAN AGAMA DALAM KELUARGA LIVING QUR’AN SURAT LUQMAN AYAT 13-19 Suriadi adi Samsuri
Tarbawy : Jurnal Pendidikan Islam Vol 8 No 2 (2021): Tarbawy : Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32923/tarbawy.v8i2.1796

Abstract

Artikel ini mengkaji tentang implikasi pendidikan agama dalam keluarga berdasarkan surat Luqman Ayat 13-19. Dari penelitian tersebut dapat diketahui bahwa pada surat luqman ayat 13-19 sesungguhnya dapat dijadikan sebagai acuan bagi orang tua terhadap materi pokok pendidikan agama Islam yang harus disampaikan kepada anak-anaknya. Karena di dalam surat luqman ayat 13-19 telah mencakup tiga aspek pendidikan agama Islam; yaitu 1) pendidikan aqidah yang mencakup tentang a) keimanan (pengesaan) kepada Allah swt, keyakinan tauhid yang sebersih-bersihnya yaitu larangan mempersekutukan Allah. b)Kesadaran akan kemakhlukan kita yang wajib mensyukuri segala karunia Tuhan, dan c) Kesadaran bahwa segala gerak-gerik yang nampak maupun yang tersembunyi tidak lepas dari pengetahuan dan pengawasan Tuhan. 2) Pendidikan Ibadah. Pada aspek ibadah ini, yang paling pokok adalah mengenai: a) perintah shalat, berupa perintah melaksanakan shalat fardu lima kali sehari, dan shalat nawafil lainnya. b) perintah amar ma’ruf. Dalam pelaksanaannya pada anak-anak adalah anak-anak dibiasakan dalam berhubungan dengan manusia dengan mengerjakan amal-amal shaleh dan menyuruh orang lain melakukan kebaikan. c) perintah mencegah yang munkar. Bagi anak prakteknya adalah ditanamkan kepada anak akan rasa benci dan tidak melakukan segala perbuatan yang munkar yaitu segala perbuatan yang bertentangan dengan agama. d) perintah melaksanakan kesabaran dalam menghadapi segala ujian, cobaan yang menimpanya. 3) Pendidikan Akhlak. Pada aspek pendidikan akhlak yang perlu ditanamkan kepada anak, meliputi: a) bertutur kata yang lemah lembut dengan siapapun, terutama dengan orang tua. b) larangan berlaku sombong atau takabur dengan siapapun juga baik dalam berbicara (tidak memalingkan muka) maupun berjalan. c) berlaku sederhana dalam hidup dan kehidupannya.
INFORMASI DAN TEKNOLOGI DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM Suriadi adi Samsuri
Al-Mau'izhoh Vol 4, No 2 (2022): Edisi Desember
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam, Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/am.v4i2.4251

Abstract

The presence of educational technology is a necessity to overcome the problems of education in remote-lagging regions. Although initially only expected to be able to "reach" those left and behind as a consequence of the strategy of expanding and equitable access to education, but did not rule out in its development able to be a supporter of quality improvement and competitiveness. Ideally, the use of educational technology should not only cease the ability to "reach" those who are marginalized and left behind, and support the improvement of quality and competitiveness; more useful if educational technology is also capable of giving birth to generations that have personal independence. In this case is needed quality control of content and learning process pursued through the utilization of educational technology. In this case, Islamic education with the foundation of the teachings of the Qur'an, in principle has provided a high enough motivation for the people to come forward and able to become khalifah on earth, in order to achieve real prosperity. Thus, education should be truly responsive to the changes and demands of the times, especially related to the development of information-communication technology, as well as to be a strengthening of technology-based Islamic education, especially information-communication technology in order to really have great benefits for the masak world.