Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PELAKSANAAN PRINSIP SYARI’AH DALAM AKAD DAN PENYELESAIAN SENGKETA PADA LEMBAGA PERBANKAN SYARI’AH DI INDONESIA Basar, Didiek Noeryono
Justitia Vol 10, No 1 (2013)
Publisher : Justitia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Akad yang banyak mendapat penilaian tentang “kehalalan” pelaksanaannya adalah akad murabahah.Murabahah sering dipersamakan dengan perjanjian kredit biasa, hanya pada namanya diganti akad murabahah atau jual beli. Padahal selain harga jual yang lebih mahal, dari pada harga pada permohonan kredit di bank konvesional, dan juga pada prosedur pelaksanaannya terlihat tidak ada beda antara murabahah dengan kredit perbankan biasa.Perlu diketahui bahwa draf perjanjian syari’ah juga merupakan draf baku (standart contract) yang dikeluarkan oleh perbankan syari’ah dalam melaksanakan transaksi keuangannya, sama dengan perjanjian yang dilaksanakan oleh perbankan konvensional. Dari adanya akad yang berbentuk draf baku tersebut, terkadang juga menimbulkan suatu sengketa. Dalam Undang-Undang No. 3 Tahun 2006 Jo Undang-Undang No. 50 Tahun 2009 tentang Pengadilan Agama, untuk penyelesaian sengketa syari’ah berkaitan dengan pelaksanaan akad yang dilaksanakan oleh Perbankan Syari’ah, seharusnya menjadi kewenangan dari Pengadilan Agama. Namun faktanya banyak kasus-kasus perbankan Syari’ah berkaitan dengan pelaksanaan akad yang dilimpahkan dan ditangani oleh Pengadilan Negeri. Oleh sebab itu , perlu adanya ketegasan dalam penerapan suatu norma, agar bisa terlaksana dengan baik.Kata Kunci : akad, perbankan syari’ah, mudharabah, kewenangan, prinsip syari’ah.
An Analysis of the Use of Electronic Money as a Transaction Instrument from the Perspective of Islamic Economics Didiek Noeryono Basar
Journal of Economics and Social Sciences (JESS) Vol. 4 No. 2 (2025): Journal of Economics and Social Sciences (JESS)
Publisher : CV. Civiliza Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59525/jess.1399

Abstract

The rapid development of digital technology has driven a transformation in payment systems, moving from cash-based transactions to more efficient non-cash payment instruments, including electronic money. The emergence of electronic money addresses the growing public demand for practical, fast, and secure micro-transaction instruments, while raising questions about its compliance with Islamic economic principles. This study aims to analyze the use of electronic money as a transaction instrument from an Islamic economic perspective. The research employs a qualitative method with a literature review approach, utilizing secondary data obtained from academic journals, books, regulations, and fatwas issued by the National Sharia Council of the Indonesian Ulema Council (DSN-MUI). The findings indicate that electronic money is a payment instrument that stores monetary value electronically on a specific medium and is used for transactions with merchants affiliated with the issuer. From the perspective of Islamic economics, the use of electronic money is fundamentally permissible (mubah), provided that it complies with Sharia provisions and does not contain elements of maysir, gharar, riba, encourage israf (excessive consumption), or facilitate transactions involving prohibited objects. Therefore, electronic money can be accepted as a legitimate transaction instrument in Islamic economics, provided its implementation and management adhere to Sharia principles and applicable regulations.