Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

KEMBALI KE PESANTREN, KEMBALI KE KARAKTER IDEOLOGI BANGSA Baso, Ahmad
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012) Vol 20, No 1 (2012): Islam, Budaya dan Pesantren
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstraks: Tulisan ini hendak mengurai bahwa tradisi keulamaan di Indonesia sangat erat kaitannya dengan proses pembentukan identitas kebangsaan. Dengan mengajak kita kembali ke pesantren, tulisan ini mengusulkan beberapa langkah untuk mengangkat kondisi bangsa dari keterpurukan melalui upaya kembali ke pesantren. Orang-orang pesantren harus kembali percaya diri bahwa mereka punya sejarah, di mana bangsa ini punya hutang historis karena amal saleh (darma bakti) pesantren untuk kelangsungan hidup bangsa ini, masa lalu, masa kini dan juga di masa mendatang. Kembali ke pesantren juga berarti bagaimana orang-orang pesantren mengisi kembali serta memperkukuh pilar-pilar kebangsaan: Pancasila, UUD 1945 NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. Salah satunya dengan menggalakkan kembali program-program kaderisasi anak-anak pesantren untuk segenap wilayah perhatian bangsa ini ke masa depan, politik, ekonomi, kebudayaan, intelektualitas, dan hukum. Selanjutnya, kembali ke pesantren juga bisa dipahami sebagai wadah gerakan ulama untuk pembenahan umat dan upaya reformasi total terhadap segenap agenda-agenda bangsa yang sudah melenceng jauh dari cita-cita kebangsaan. Abstract: This paper tries to describe that scholar tradition in Indonesia is closely related to the formation of national identity. By referring to pesantren, this paper proposes several steps  to improve the condition of the nation through returning to pesantren. Pesantrens have to be proud that they have a great history, in which the nation has a historical debt for good deeds (devotion) of pesantren for nation survive, from past, present and future time. Returning to pesantren means how the people of pesantren replenish and strengthen the pillars of nation: Pancasila, the Constitution 1945, NKRI,  and Unity in Diversity by encouraging re-regeneration programs for students of pesantren for future, politic, economic, culture, intellectual, and law. Next, it is a forum of Islamic scholars to do total reformation on the national agendas that have strayed far from the ideals of nationhood. Kata Kunci: Pesantren, tradisi, ideologi, ulama,  
KEMBALI KE PESANTREN, KEMBALI KE KARAKTER IDEOLOGI BANGSA Baso, Ahmad
KARSA: Journal of Social and Islamic Culture Islam, Budaya dan Pesantren
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/karsa.v20i1.50

Abstract

Abstraks: Tulisan ini hendak mengurai bahwa tradisi keulamaan di Indonesia sangat erat kaitannya dengan proses pembentukan identitas kebangsaan. Dengan mengajak kita kembali ke pesantren, tulisan ini mengusulkan beberapa langkah untuk mengangkat kondisi bangsa dari keterpurukan melalui upaya kembali ke pesantren. Orang-orang pesantren harus kembali percaya diri bahwa mereka punya sejarah, di mana bangsa ini punya hutang historis karena amal saleh (darma bakti) pesantren untuk kelangsungan hidup bangsa ini, masa lalu, masa kini dan juga di masa mendatang. Kembali ke pesantren juga berarti bagaimana orang-orang pesantren mengisi kembali serta memperkukuh pilar-pilar kebangsaan: Pancasila, UUD 1945 NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. Salah satunya dengan menggalakkan kembali program-program kaderisasi anak-anak pesantren untuk segenap wilayah perhatian bangsa ini ke masa depan, politik, ekonomi, kebudayaan, intelektualitas, dan hukum. Selanjutnya, kembali ke pesantren juga bisa dipahami sebagai wadah gerakan ulama untuk pembenahan umat dan upaya reformasi total terhadap segenap agenda-agenda bangsa yang sudah melenceng jauh dari cita-cita kebangsaan. Abstract: This paper tries to describe that scholar tradition in Indonesia is closely related to the formation of national identity. By referring to pesantren, this paper proposes several steps  to improve the condition of the nation through returning to pesantren. Pesantrens have to be proud that they have a great history, in which the nation has a historical debt for good deeds (devotion) of pesantren for nation survive, from past, present and future time. Returning to pesantren means how the people of pesantren replenish and strengthen the pillars of nation: Pancasila, the Constitution 1945, NKRI,  and Unity in Diversity by encouraging re-regeneration programs for students of pesantren for future, politic, economic, culture, intellectual, and law. Next, it is a forum of Islamic scholars to do total reformation on the national agendas that have strayed far from the ideals of nationhood. Kata Kunci: Pesantren, tradisi, ideologi, ulama,  
“Angajawi”, or, On Being Muslim Nusantara: The Global Argument for Islam (ic) Nusantara Baso, Ahmad
Heritage of Nusantara: International Journal of Religious Literature and Heritage Vol. 8 No. 1 (2019): HERITAGE OF NUSANTARA
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31291/hn.v8i1.478

Abstract

The article is an examination of practices, such as the transmission and movement of ideas and knowledge, by which Indonesian Islam or what is called Islam(ic) Nusantara comes into being as a distinct civilizational body, and then considers the ways in which these practices claim a place in a wider Muslim societies. “Angajawi” (being Muslim Nusantara) is a strategic term to convey these practices, while, at the same time, to look closely at the way they constitute the vitality and resilience of Islam(ic) Nusantara cultural riches among the citizens of Muslim world. The method followed in this article is firstly to track down the flow of ideas from Jawi or Nusantara as they were brought about by Indonesian agents of trade, knowledge and pilgrimage to the Holy Land since earlier centuries of the coming of Islam to Indonesia; and then, secondly, to draw our attention to the worldwide Muslim reception of these ideas as the creative energy and qualities of Indonesian Islam in dealing with the problems of humanity. Furthermore, the meaning of “Islam Nusantara”needs to be clarified so as to provide a clear comprehension of the globalized qualities or core ideals of “angajawi”. 
Belajar dari Tradisi Para Sayid-Wali Songo di Nusantara: Learning from the Sayyids-Wali Songo’s Traditions in Nusantara Baso, Ahmad
Besari: Journal of Social and Cultural Studies Vol. 1 No. 1 (2023): Besari: Journal of Social and Cultural Studies
Publisher : PC Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71155/besari.v1i1.16

Abstract

Indonesian Islam has its own characteristics, being under the influence ofulama and kiai. The influence of these ulama on society has a big impact. Thespread of Islam in Indonesia in the 15th century was brought by Wali Songo.This research uses document research and direct reading methods fromprimary sources. In the spirit of preaching like this, the Wali Songo whospread Islam in this country are well aware that there is no use of spreadingIslam as a blessing if it turns out that the Indonesian people are experiencingdifficulties, are not harmonious, are destitute, are not living peacefully due tobeing at enmity with each other within the tribe. -ethnicity and race, so that itis not solid as a nation. In other words, Wali Songo's tolerance has its originsin the essence of the archipelago as Daru-s-Salam, especially in the substanceof the meaning of "anggelar adil palamarta" (realizing ultimate justice) toguarantee the implementation of the principles of a beneficial state. Islam Indonesia mempunya sifat tersendiri, berada di bawah pengaruh ulama dankiai. Pengaruh para Ulama ini pada masyarakat memiliki dampak yang besar.Penyebaran Islam di Indonesia pada abad 15 yang dibawa oleh Wali Songo. Dalampeneltian ini menggunakan penelitian dokumen dan metode membaca langsung darisumber primer. Dalam semangat dakwah seperti ini, para Wali Songo penyebarIslam di negeri ini sadar betul: bahwa tidak ada gunanya menyebarkan agama Islamsebagai rahmat kalau ternyata orang-orang Indonesia mengalami kesusahan, tidakrukun, melarat, tidak tenang hidup akibat bermusuhan satu-sama lain dalam sukusuku dan ras, hingga tidak solid sebagai sebuah bangsa. Dengan kata lain, toleransiWali Songo punya asal-usulnya dalam hakikat Nusantara sebagai Daru-s-Salam,khususnya pada substansi makna “anggelar adil palamarta” (mewujudkan keadilanyang utama) untuk menjamin pelaksanaan prinsip-prinsip bernegara yang maslahat.
Moderasi Beragama dan Berbangsa: Pendekatan Kebudayaan dalam Kerja-kerja Moderasi dan Toleransi Wali Songo: Religious and National Moderation: Cultural Approach in the Moderation and Tolerance Endeavors of Wali Songo Baso, Ahmad
Besari: Journal of Social and Cultural Studies Vol. 1 No. 2 (2024): Besari: Journal of Social and Cultural Studies
Publisher : PC Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71155/besari.v1i2.89

Abstract

This article explores the role of Wali Songo in promoting religious moderation and national unity through a cultural approach. As pivotal figures in the spread of Islam in Indonesia, Wali Songo integrated Islamic teachings with local customs, fostering an environment of tolerance and mutual respect among diverse religious communities. By analyzing their strategies and practices, this study highlights how Wali Songo's cultural adaptations not only facilitated the acceptance of Islam but also encouraged harmonious coexistence among different faiths. The findings suggest that the principles of moderation and tolerance championed by Wali Songo remain relevant in addressing contemporary challenges of religious diversity in Indonesia.   Artikel ini mengeksplorasi peran Wali Songo dalam mempromosikan moderasi beragama dan persatuan nasional melalui pendekatan budaya. Sebagai tokoh penting dalam penyebaran Islam di Indonesia, Wali Songo memadukan ajaran Islam dengan adat istiadat setempat, memupuk lingkungan yang toleran dan saling menghormati di antara komunitas agama yang beragam. Dengan menganalisis strategi dan praktik-praktik mereka, penelitian ini menyoroti bagaimana adaptasi budaya Wali Songo tidak hanya memfasilitasi penerimaan Islam, tetapi juga mendorong hidup berdampingan secara harmonis di antara berbagai agama. Temuan-temuan penelitian ini menunjukkan bahwa prinsip-prinsip moderasi dan toleransi yang diperjuangkan oleh Wali Songo tetap relevan dalam menjawab tantangan kontemporer keragaman agama di Indonesia.