This Author published in this journals
All Journal Penamas
Novi Dwi Nugroho
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

HOUSE OF WORSHIP BUILDING PASCA-MINISTERS' REGULATION NUMBER 9 AND 8 IN 2006:: STUDY AT CIMAHI CONGREGATION OF TORAJA CHURCH Novi Dwi Nugroho
Penamas Vol 29 No 1 (2016): Volume 29, Nomor 1, April-Juni 2016
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini ingin melihat regulasi yang sudah dipenuhi oleh tim pendirian Gereja Toraja Cimahi sebagaimana sudah diatur dalam PBM No. 9 dan 8 Tahun 2006 khususnya Pasal 13 dan Pasal 14, serta ingin melihat kondisi sosial budaya masyarakat di mana Gereja Toraja ini berdiri. Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus dengan pendekatan yuridis-sosiologis, pengumpulan datanya menggunakan teknik wawancara, observasi, dan studi dokumen. Dari temuan di lapangan, bahwa secara yuridis formal Gereja Toraja sudah memenuhi persyaratan sesuai dengan PBM No. 9 dan 8 Tahun 2006, sehingga mendapat rekomendasi dari pihak yang berwenang, serta kondisi sosial budaya masyarakat yang berada di sekitar Gereja Toraja adalah masyarakat yang heterogen yang kebanyakan adalah para pendatang yang berasal dari berbagai daerah yang ada di Indonesia, mempunyai latar belakang budaya, adat istiadat serta agama yang berbeda, sehingga mereka memahami perbedaan yang ada. Kata Kunci: Pendirian rumah ibadat, gereja, konflik agama, Gereja Toraja, Kota Cimahi
MANAJEMEN KONFLIK KEAGAMAAN: KASUS ALIRAN ISLAM TAUHID DI KABUPATEN PANDEGLANG: MANAGEMENT OF RELIGIOUS CONFLICT: THE CASE OF ISLAM TAUHID IN PANDEGLANG, BANTEN Novi Dwi Nugroho
Penamas Vol 27 No 2 (2014): Volume 27, Nomor 2, Juli-September 2014
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article provides the results of a research on an Islamic sect called Islam Tauhid in Pandeglang District, Banten Province, and the way through which the local government managed religious conflict involving this group. The methods used for the study comprised interviews, document study, and focus group discussion. The author found that one of the reasons why the local branch of MUI (Majelis Ulama Indonesia) considered Islam Tauhid as a deviant sect was that Juneidi, the founder of the sect, taught that instead of practicing prayer (shalat), Muslims only need to remember God. Besides, he also taught that Friday prayer was not an obligation for Muslim men. And in order to attract his young Muslim audience, he delivered his sermons on Islam through playing chess and dominoes. Mass violence occurred against this sect resulting in the burning of Junaidi’s house, even though Junaidi and his assistant could be safely evacuated to the police office. The author argues that fatalities could be prevented because of quick responses from, and good coordination among,the elements of local government, such as the district government, security apparatus, Bakorpakem, and the district- level Ministry of Religious Affairs, as well as non-government institutions, such as MUI and FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama). Key Words: Islam Tauhid, Islamic sect, religious conflict management, Pandeglang. Tulisan ini menyajikan hasil penelitian tentang paham yang diajarkan oleh aliran Islam Tauhid, sehingga dianggap sesat, dan manajemen konflik keagamaan yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Pandeglang. Penelitian ini menggunakan metode wawancara, studi dokumen, dan focus group discussion. Peneliti menemukan, bahwa salah satu alasan mengapa cabang lokal dari MUI (Majelis Ulama Indonesia) menganggap Islam Tauhid sebagai aliran sesat adalah, bahwa Junaidi, pendiri sekte, mengajarkan umat Islam hanya perlu mengingat Tuhan daripada salat. Selain itu, dia juga mengajarkan, bahwa salat Jum’at itu bukan kewajiban bagi laki-laki Muslim. Dalam rangka untuk menarik kalangan muda Muslim, dia menyampaikan khutbah tentang Islam melalui bermain catur dan domino. Hal ini memicu kekerasan massa terjadi terhadap sekte ini, yang mengakibatkan pembakaran rumah Junaidi, meskipun Junaidi dan asistennya bisa selamat diungsikan ke kantor polisi. Peneliti berpendapat, bahwa kematian dapat dicegah karena respon cepat dari, dan koordinasi yang baik di antara, unsur pemerintah daerah, seperti pemerintah kabupaten, aparat keamanan, Bakorpakem, dan Departemen Agama tingkat kabupaten, serta lembaga non pemerintah, seperti MUI dan FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama). Kata Kunci: Manajemen konflik, aliran keagamaan, aliran Islam Tauhid, Pandeglang.
PERAN LEMBAGA KEAGAMAAN DALAM MEMBINA KERUKUNAN UMAT BERAGAMA: STUDI KASUS PADA MAJELIS PANDITA BUDDHA MAITREYA KOTA BATAM: THE ROLE OF RELIGIOUS INSTITUTIONS IN PROMOTING RELIGIOUS HARMONY: A CASE STUDY OF MAJLIS PANDITA BUDDHA MAITREYA BATAM CITY Novi Dwi Nugroho
Penamas Vol 28 No 2 (2015): Volume 28, Nomor 2, Juli-September 2015
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This paper presents the results of research on the role of Majlis Pandita Buddha Maitreya (Mapanbumi) Batam. This research seeks to answer on how Mapanbumi’ views or attitudes toward religious harmony and what programs or activities that this majlis conduct concerning religious harmony. Using a case study model, data were collected through interviews, documents analysis, observations, and focus group discussions. The study found that according to Mapanbumi Batam, the religious harmony is something that has to be fought by all humans, regradless of race, ethnicity, culture, and religion, since all human beings are principally brothers. Mapanbumi Batam undertakes programs or activities in the field of inter- religious harmony through establishing public schools Maitreya Wira based on Buddhism Maitreya philosophy. This institution also run other social activities, including providing assistance to Al-Fateh rehabilitation institution, carrying out blood donation program, setting up vegetarian festival, and celebrating cultural and religious festivals which open to the public. Keywords: Religious Institutions, Mapanbumi, Harmony, the city of Batam, Buddha Tulisan ini menyajikan hasil penelitian mengenai peran Majelis Pandita Buddha Maitreya (Mapanbumi) Kota Batam. Penelitian ini hendak menjawab bagaimana pandangan atau sikap serta program atau kegiatan apa saja yang dilakukan oleh Mapanbumi Kota Batam mengenai kerukunan umat beragama. Dengan menggunakan model studi kasus, data penelitian digali mengguanakan metode wawancara, studi dokumen, observasi, dan kelompok diskusi terfokus. Penelitian ini mendapati, bahwa kerukunan umat beragama bagi Mapanbumi Kota Batam adalah hal yang harus diperjuangkan oleh semua manusia walaupun berbeda suku, etnis, budaya, dan agama, karena pada prinsipnya semua manusia adalah saudara. Program atau kegiatan yang dilakukan oleh Mapanbumi Kota Batam dalam bidang kerukunan antar umat beragama adalah dengan mendirikan sekolah Maitreya Wira yang berfalsafah Budhisme Maitreya, tapi terbuka untuk umum. Kegiatan sosial yang lain adalah dengan memberikan bantuan kepada panti rehabilitasi Al-Fateh, kegiatan donor darah, festival vegetarian, dan perayaan-perayaan hari besar yang terbuka untuk umum. Kata Kunci: Lembaga Keagamaan, Mapanbumi, Kerukunan, Kota Batam, BuddhaRe
PERAN LEMBAGA KEAGAMAAN DALAM MEMBINA KERUKUNAN UMAT BERAGAMA: STUDI KASUS PADA MAJELIS PANDITA BUDDHA MAITREYA KOTA BATAM: THE ROLE OF RELIGIOUS INSTITUTIONS IN PROMOTING RELIGIOUS HARMONY: A CASE STUDY OF MAJLIS PANDITA BUDDHA MAITREYA BATAM CITY Novi Dwi Nugroho
Penamas Vol 28 No 2 (2015): Volume 28, Nomor 2, Juli-September 2015
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This paper presents the results of research on the role of Majlis Pandita Buddha Maitreya (Mapanbumi) Batam. This research seeks to answer on how Mapanbumi’ views or attitudes toward religious harmony and what programs or activities that this majlis conduct concerning religious harmony. Using a case study model, data were collected through interviews, documents analysis, observations, and focus group discussions. The study found that according to Mapanbumi Batam, the religious harmony is something that has to be fought by all humans, regradless of race, ethnicity, culture, and religion, since all human beings are principally brothers. Mapanbumi Batam undertakes programs or activities in the field of inter- religious harmony through establishing public schools Maitreya Wira based on Buddhism Maitreya philosophy. This institution also run other social activities, including providing assistance to Al-Fateh rehabilitation institution, carrying out blood donation program, setting up vegetarian festival, and celebrating cultural and religious festivals which open to the public. Keywords: Religious Institutions, Mapanbumi, Harmony, the city of Batam, Buddha Tulisan ini menyajikan hasil penelitian mengenai peran Majelis Pandita Buddha Maitreya (Mapanbumi) Kota Batam. Penelitian ini hendak menjawab bagaimana pandangan atau sikap serta program atau kegiatan apa saja yang dilakukan oleh Mapanbumi Kota Batam mengenai kerukunan umat beragama. Dengan menggunakan model studi kasus, data penelitian digali mengguanakan metode wawancara, studi dokumen, observasi, dan kelompok diskusi terfokus. Penelitian ini mendapati, bahwa kerukunan umat beragama bagi Mapanbumi Kota Batam adalah hal yang harus diperjuangkan oleh semua manusia walaupun berbeda suku, etnis, budaya, dan agama, karena pada prinsipnya semua manusia adalah saudara. Program atau kegiatan yang dilakukan oleh Mapanbumi Kota Batam dalam bidang kerukunan antar umat beragama adalah dengan mendirikan sekolah Maitreya Wira yang berfalsafah Budhisme Maitreya, tapi terbuka untuk umum. Kegiatan sosial yang lain adalah dengan memberikan bantuan kepada panti rehabilitasi Al-Fateh, kegiatan donor darah, festival vegetarian, dan perayaan-perayaan hari besar yang terbuka untuk umum. Kata Kunci: Lembaga Keagamaan, Mapanbumi, Kerukunan, Kota Batam, BuddhaRe