Samidi Khalim
Balai Litbang Agama Semarang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

AJARAN ISLAM DALAM NASKAH SERAT SITTIN: ISLAMIC TEACHINGS IN SERAT SITTIN Samidi Khalim
Penamas Vol 27 No 1 (2014): Volume 27, Nomor 1, April-Juni 2014
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article summarizes the results of philological research on the manuscript Serat Sittin. The manuscript is a collection of the Widya Budaya Museum of the Kraton Yogyakarta (code W. 306 or C. 59). Serat Sittin was written upon the initiative of Sri Sultan Hamengku Buwana V (reigned in 1823-1855) and completed on 6 July 1847. It is actually an adaptation of Sittun Mas’alah (60 religious questions), a classical Arabic work by Islamic scholar Shaikh Abu al-‘Abbās Aḥmad al-Zāhid, supplied with comments made by Aḥmad Shihabuddīn ibn Hamzah al-Ramlī. It contains various aspects of Islamic teachings, especially fiqh and tasawwuf. Serat Sittin was composed in the form of macapat (sung poetry using indigenous Javanese meters). However, in this adapted work, Islamic teachings underwent cultural pejoration, that is, the position of fiqh was considered lower than Islamic mysticism (tasawwuf). The culture of Islamic mysticism was deemed in conformity with the Javanese culture which the writer of the manuscript tended to glorify. In Serat Sittin, Islamic teachings were no longer interpreted on the basis of Islamic orthodoxy but adapted to the culture of Javanese thought. Key Words: Serat Sittin, Javanese Islam, fiqh, tasawwuf. Tulisan ini merupakan ringkasan penelitian filologis terhadap Naskah Serat Sittin. Manuskrip tersebut merupakan koleksi Museum Widyabudaya Kraton Yogyakarta dengan (kode W. 306 atau C. 59). Naskah Serat Sittin ditulis atas prakarsa Sri Sultan Hamengku Buwana V (bertahta 1823- 1855), yang selesai ditulis pada tanggal 6 Juli 1847. Naskah Serat Sittin sebenarnya merupakan saduran dari kitab kuning yang berjudul Sittun Mas’alah (60 masalah agama) karya Shaikh Abu al-‘Abbās Aḥmad al-Zāhid. Kitab tersebut kemudian diberi penjelasan oleh Aḥmad Shihabuddīn ibn Hamzah al-Ramlī. Naskah Serat Sittin berisi tentang berbagai ajaran Islam, khususnya fikih dan tasawuf. Namun ketika digubah dalam bahasa dan sastra Jawa mengalami peyorasi budaya, ilmu fikih dipandang lebih rendah daripada mistik Islam (tasawuf). Budaya tasawuf dianggap sesuai dengan budaya Jawa, sehingga tampak pengagungan terhadap budaya Jawa. Naskah Serat Sittin juga mengalami adaptasi berdasarkan kultur pemikiran Jawa, bukan atas doktrin Islam ortodoks. Kata Kunci: Serat Sittin, Islam Jawa, Fikih, Tasawuf.
FIKIH KONTEMPORER BAHASA LOKAL (Studi Kitab al-Hikmah Karya KH. Ahmad Syakir Lasem) Samidi Khalim
Jurnal SMART (Studi Masyarakat, Religi, dan Tradisi) Vol 1, No 2 (2015): Agama, Nasionalisme, dan Karakter Kebangsaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.511 KB) | DOI: 10.18784/smart.v1i2.255

Abstract

Artikel ini merupakan ringkasan hasil penelitian terhadap pemikiran KH. Ahmad Syakir dari Lasem Kabupaten Rembang. Salah satu buah pemikiran beliau adalah Kitab al-Hikmah yang menggunakan aksara Pegon dan bahasa Jawa Krama Madya. Penggunaan aksara dan bahasa tersebut menunjukkan nilai lokalitas ulama Jawa dalam mendakwahkan ajaran Islam sesuai dengan masyarakat yang dihadapinya. Selain itu, kitab tersebut disusun berdasarkan permintaan umat, masyarakat sekitar (Lasem-Rembang) yang masih tergolong awam tentang hukum Islam, khususnya masalah  taharah  (bersuci).  Oleh  sebab  itu,  dalam  kitab  tersebut  contoh-contoh yang diberikan adalah masalah sehari-hari yang dihadapi masyarakat Lasem dan sekitarnya.  Pendekatan  sejarah  digunakan  untuk  mengungkap  biografi  penulis kitab dan latar sosial budayanya, sedangkan untuk menganalisis data penulis menggunakan metode deskriptif analitis. Adapun hasil dari penelitian tersebut menunjukkan  pemikiran  ulama  Jawa  yang  sudah  maju.  Beberapa  persoalan hukum Islam yang berkaitan dengan ilmu kedokteran atau medis modern dibahas dalam Kitab al-Hikmah. Pembahasan mengenai tahi lalat buatan (seperti tato), menggunakan rambut palsu (terbuat dari rambut manusia, binatang, atau sintetis), transfusi darah, alkohol dengan berbagai macam jenis dan hukumnya, bank ASI (air susu ibu), semua dibahas berdasarkan kaidah fikih dan pertimbangan-pertimbangan medis bagi masyarakat modern sekarang ini.Kata kunci: Kitab al-Hikmah, lokalitas, kontemporer, fikih