Ilham Kadir
Sekolah Tinggi Keguruan Dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Muhammadiyah Enrekang, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

K.H. Lanre Said: Ulama Pendidik dari DI/TII hingga Era Reformasi Ilham Kadir
NUKHBATUL 'ULUM: Jurnal Bidang Kajian Islam Vol 5 No 2 (2019): NUKHBATUL 'ULUM: Jurnal Bidang Kajian Islam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M) Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36701/nukhbah.v5i2.87

Abstract

This study aims to reveal the various aspects of life of K.H. Lanre Said, a great scholar, great educator whose services are so great in fostering generations through the educational institutions he founded, namely Darul Huffadh Islamic Boarding School located in Tuju-Tuju Kajuara Bone, South Sulawesi. This research is a type of qualitative descriptive research with a historical approach. Data collection techniques used are interviews, document studies, literature studies, and field observations. The results of this study reveal various aspects of life and the path of da'wah and the messages of K.H. Lanre Said, as an educating scholar, and the perfect hafizh of al-Qur'an. He is a Bugis cleric who can be used as an example from various sides, from the scientific aspect, the power of memorization, to being a role model in life. K.H. Lanre Said became a real example of a Bugis ulama, spending his age in the midst of society by establishing educational institutions to educate the life of the nation, living simply as it is, and the messages are always actual to practice. K.H. Lanre Said's main capital in affirming itself as a guiding ulama to the right path is the depth of knowledge, real practice, good behavior (ampe-ampe madeceng), avoiding the word lies even if only joking, prioritizing public rather than personal interests, and always willing and sincere in doing. With this power, the position of K.H. Lanre Said in the middle of the Bone community in general and the Tuju-Tuju community in particular is irreplaceable.
PENDIDIKAN KADER ULAMA DALAM PERSPEKTIF AL-BUGISI ilham kadir
Penamas Vol 31 No 2 (2018): Volume 31, Nomor 2, Juli-Desember 2018
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31330/penamas.v31i2.255

Abstract

Pasca wafatnya Nabi Muhammad sebagai rasul terakhir, maka estafet otoritas keagamaan beralih kepada golongan ulama. Mereka adalah pewaris para nabi, menyebarkan agama Islam, menuntun umat ke jalan yang benar. Menjadi rujukan dalam berbagai macam problematika, mulai dari hal-hal yang terkait dengan agama hingga masalah kenegaraan. Karena itu ulama memiliki peran sentral dalam kehidupan masyarakat muslim. Di Sulawesi Selatan, sejak agama Islam masuk pada abad ke-XVII ulama yang menjadi dai kelana selalu datang pergi. Tidak seorang pun yang mampu menetap lalu mendirikan lembaga pendidikan. Hingga pada paruh pertama abad ke-XX Syekh Muhammad As’ad Al-Bugisi tiba dari Makkah lalu merintis lembaga pendidikan kader ulama bernama Madrasah Arabiyah Islamiyah di Sengkang. Dari sinilah tunas-tunas ulama tersemai lalu menyebar di seantero alam Indonesia. Konsep utama pendidikan kaderisasi ulama Al-Bugisi meliputi: tujuan pendidikan, kurikulum dan bahan ajar, sarana dan prasarana, serta evaluasi berbasis adab. Konsep tersebut diterapkan pada lembaga pendidikan yang ia dirikan. Dengan menerapkan konsep-konsep tersebut sehingga lahirlah ulama dan intelektual Bugis.