This Author published in this journals
All Journal Jurnal Inkofar
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANALISIS KADAR NATRIUM DAN KALIUM PADA SEDIAAN INFUS ELEKTROLIT MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETER SERAPAN ATOM (SSA) Sudrajat Sugiharta; Jubaedah -
Jurnal Inkofar Vol 1, No 2 (2019)
Publisher : Politeknik Meta Industri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.32 KB) | DOI: 10.46846/jurnalinkofar.v1i2.133

Abstract

Spesifikasi produk sediaan steril harus memenuhi diantaranya adalah nilai pH, penetapan kadar logam serta penampilan. Pengujian kadar logam natrium dan kalium diterima sebagai penanda jaminan kualitas produk sediaan infus dimana penetapannya menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA),Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah kadar natrium dan kalium dalam sediaan infus elektrolit (Tutofusin OPS) telah memenuhi spesifikasi atau tidak sebagai bagian dari kualifikasi released produk, metode penelitian yang dilakukan secara eksperimental penentuan kadar logam natrium dan kalium, pemeriksaan pH, serta penampilan dari tiga nomor bets yang berbeda.Dari hasil pengukuran kadar natrium (mEq/L) didapatkan bets nomor X001 yaitu 96.1 ± 0.35 lebih rendah dari nomor bets X002 yaitu 96.72 ± 0.91, sedangkan nilai tertinggi yaitu pada nomor bets X003 sebesar 97.35 ± 0.32, ketiga nomor bets tersebut telah memenuhi spesifikasi yaitu 93.00 – 107.00 mEq/L. Kadar kalium (mEq/L) pada nomor bets X003 yaitu 17.23 ± 0.12 lebih rendah dari nomor bets X002 yaitu 17.90 ± 0.18, dan bets X001 17.82 ± 0.01, ketiga bets tersebut telah memenuhi spesifikasi yaitu 16.74– 9.26 mEq/L. Pada  nilai pH dari tiap bets didapatkan hasil bets nomor X001 yaitu 6.63 lebih rendah dari nomor bets X002 yaitu 6.73, sedangkan nilai tertinggi pada nomor bets X003 sebesar 6.74. ketiga bets telah memenuhi spesifikasi yaitu 6.60 – 7.00. Sedangkan untuk hasil penampilan dari tiga bets yang berbeda didapatkan larutan jernih tidak berwarna serta bebas partikel.Penelitian ini menyimpulkan bahwa  ketiga parameter tersebut menunjukkan kadar natrium dan kalium, nilai pH serta penampilan pada sediaan infus elektrolit tersebut telah memenuhi spesifikasi. 
EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN BALITA DENGAN DIAGNOSA ISPA BUKAN PNEUMONIA DI PUSKESMAS BOGOR TIMUR sudrajat sugiharta
Jurnal Inkofar Vol 1, No 1 (2018)
Publisher : Politeknik Meta Industri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.386 KB) | DOI: 10.46846/jurnalinkofar.v1i1.64

Abstract

Penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) merupakan suatu masalah kesehatan utama di Indonesia karena masih tingginya angka kejadian ISPA terutama pada anak – anak dan balita. Salah satu penyakit ISPA adalah ISPA bukan pneumonia. Berdasarkan rekomendasi WHO (World Health Organization) penanganan ISPA bukan pneumonia pada balita cukup dengan pengobatan supportif dan tidak perlu pemberian antibiotik. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat melakukan pengawasan terhadap penggunaan antibiotik di tiap Puskesmas, dimana penggunaan antibiotik di tiap Puskesmas mempunyai indikator kesalahan dari peresepan antibiotik tersebut yaitu ≤ 20 %. Berdasakan hal tersebut, dilakukan penelitian mengenai evaluasi penggunaan antibiotik pasien balita dengan penyakit ISPA bukan pneumonia di Puskesmas Bogor Timur. Penelitian ini menggunakan desain penelitian desktriptif non analitik terhadap data sekunder berupa rekam medis dan resep obat. Pengambilan data secara prospektif dan diperoleh 223 sampel data untuk analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ISPA bukan pneumonia banyak terjadi pada umur > 1 tahun  - ≤ 3 tahun yaitu 42,22 %, dengan jenis kelamin laki – laki terbanyak yaitu 54,26 %, tanda dan gejala yang dialami oleh pasien yaitu batuk dan pilek dengan data sebesar  49,33 %. Diagnosa dan jenis penyakit yang dialami pasien yaitu ISPA bukan pneumonia 81,33 %, faringitis 15,11 %, dan common cold 8,56 %. Persentase penggunaan antibiotik mencapai 18,83% meski persentase  mendekati angka indikator namun hal ini menunjukkan bahwa hasil penelitian masih memenuhi standar indikator kesalahan penggunaan antibiotik yaitu ≤ 20%.