Boedi Sarojo Boedi Sarojo
Unknown Affiliation

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

PENGGUNAAN E.M.G DAN ASPEK-ASPEK DIAGNOSTIKNYA Boedi Sarojo, Boedi Sarojo
Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran) Vol 8, No 03 (1976)
Publisher : Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.084 KB)

Abstract

Elektromiograti telah dikernbangkan penggunaannya di klinik oleh Wed-del et al. tahun 1943, Solandt tahun 1945, Bousden tahun 1954, dan ahli•ahli lain dari berbagai negaraDengan penggunaan E.M.G. kita akan dapat:a. Membuat diagnose banding macam-macam penyakit L.M.N.b. Membuat diagnose topik pada penyakit L.M.N.c. Prognosa lesi saraf perifir setelah periode pengobatan.d. Sebagai indikator prognostik pada kasus-kasus dengan lesi saraf perifir. e. Merekam dan menganalisa terhadap spasmus, tremor, gerak involunter lain-lain.I. Membuat diagnose dini pada myasthenia gravis, atropi muskular, distropi. SF EMG (Single Fibre Electromyography) adalah bentuk E.M.G. yang dapat merekam sate serabut saraf, sehingga dapat dipakai untuk mengadakan penyelidikan pada polyneuropathia yang timbal karena berbagai sebab Kemudian secara singkat dikupas arti E.M.G., teknik penggunaannya, penggunaan di klinik dan interpretasinya
PEREKAMAN E.E.G. SELAMA TAHUN 1975 DI BAGIAN NEUROLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS GADJAH MADA Boedi Sarojo, Boedi Sarojo
Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran) Vol 8, No 02 (1976)
Publisher : Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.957 KB)

Abstract

Telah dibicarakan data perekaman EEG selama satu tahun. di Laboratorium EEG Bagian Neurologi ,Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada pada tahun 1975 sebagai studi perbandingan. Standarisasi minimal bagi pembacaan basil rekaman EEG telah diutarakan secara sederhana. Jumlah kasus barn yang direkam, alasan pengiriman, hasil rekaman, beserta pembahasannya telah dikemukakan secara singkat
Beberapa Segi Klinik Mengenai Bells Palsy di Bagian Neurologi Rumah Sakit Universitas Gadjah Mada Boedi Sarojo, Boedi Sarojo
Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran) Vol 8, No 01 (1976)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (452.153 KB)

Abstract

Selama periode Januari 1975 sampai dengan Desember 1975 kami kumpulkan 39 penderita dengan paralise facialis perifir dari seluruh penderita baru 747 orang yang datang berobat ke Rumah Sakit Pugeran Bagian Neurologi Eakultas Kedokteran Universitas Gadjah Made. Mereka terdiri dari 27 pria (69,2%) dan 12 wanita (30,8%). Umur penderita berkisar antara 1 tahun sampai 60 tahun, dengan rata-rata terbanyak sekitar umur 20 — 40 tahun (58;9%).Dari 39 kasus paralise facialis perifir yang terkiimpul atau terseleksi terdapat 25 Bells palsy atau 64,1 %: Penyebab lain seperti hypertensi 5 orang ( = 12,8%), meningitis pada anak-anak sebanyak 3 orang (7,7%), otitis media 2 orang (5,1%), trauma 2 orang (5,1%), mastoiditis 1 orang (2,5%) dan tumor cerebri 1 orang (2,5%).Sisi wajah muka yang terkena paling banyak adalah sebelah kanan, yaitu sebesar 61,5%. Tempat lesi yang paling banyak terletak di daerah distal foramen stylomastoideum, yaitu sebesar 69,2%.Penderita Bells palsy yang diobati akan sembuh pada minggu ke 2 — 4. Penderita paralyse facialis perifir lain antara lain 3 orang untuk observasi hypertensi (kiriman dari Bagian Penyakit Dalam), 1 dengan postmeningitis (kiriman dari Bag. Kanak-kanak) dan 1 dengan tumor cerebri (kiriman dari Bagian Mata, dengan visus jelek tanpa bisa dikon-lcsi) tidak dapat kami ikuti mengingat mereka tidak kembali setelah minggu ke 4 tanpa alasan.Semua penderita kimi beri terapi antibiotika, prednison, nicotinamide, vitamin neurotropik, dan beberapa ada yang kami beri salyci:ar. Bagi yang ada faktor etiologisnya kami beri terapi kausal, kecuali untuk tumor cerebri kami tambahkan terapi simptomatis.Lokal pada wajah muka kami beri penyinaran dengan inframerah, massage ringan - stimulasi dengan arus faradis/galvnis, ini diberikan dap 2 hari sekali. Di rumah penderita melakukannya sendiri dengan mengompres air hangat dan massage ringan selama 5 — 10 menit 3 kali sehari, sedang untuk matanya diberi tetesan acid boric 3% dan memakai kacamata teduh apabila ingin keluar rumah.Dari sejumlah 39 penderita ternyata 25 orang (64,1 %) mengalami penyembuhan dalam 4 minggu pertama dan 32 orang (82,05%) mengalami sembuh sempurna. Kami tidak menjumpai kontraktur sebagai satu-satunya gejaia sisa (sequela) penyakit ini.Ditemukan 2 pria yang menderita Bells palsy untuk kedria kalinya, pada sisi yang bertentangan dengan yang terdahulu.
PENGGUNAAN E.M.G DAN ASPEK-ASPEK DIAGNOSTIKNYA Boedi Sarojo Boedi Sarojo
Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran) Vol 8, No 03 (1976)
Publisher : Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.084 KB)

Abstract

Elektromiograti telah dikernbangkan penggunaannya di klinik oleh Wed-del et al. tahun 1943, Solandt tahun 1945, Bousden tahun 1954, dan ahli•ahli lain dari berbagai negaraDengan penggunaan E.M.G. kita akan dapat:a. Membuat diagnose banding macam-macam penyakit L.M.N.b. Membuat diagnose topik pada penyakit L.M.N.c. Prognosa lesi saraf perifir setelah periode pengobatan.d. Sebagai indikator prognostik pada kasus-kasus dengan lesi saraf perifir. e. Merekam dan menganalisa terhadap spasmus, tremor, gerak involunter lain-lain.I. Membuat diagnose dini pada myasthenia gravis, atropi muskular, distropi. SF EMG (Single Fibre Electromyography) adalah bentuk E.M.G. yang dapat merekam sate serabut saraf, sehingga dapat dipakai untuk mengadakan penyelidikan pada polyneuropathia yang timbal karena berbagai sebab Kemudian secara singkat dikupas arti E.M.G., teknik penggunaannya, penggunaan di klinik dan interpretasinya
PEREKAMAN E.E.G. SELAMA TAHUN 1975 DI BAGIAN NEUROLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS GADJAH MADA Boedi Sarojo Boedi Sarojo
Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran) Vol 8, No 02 (1976)
Publisher : Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.957 KB)

Abstract

Telah dibicarakan data perekaman EEG selama satu tahun. di Laboratorium EEG Bagian Neurologi ,Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada pada tahun 1975 sebagai studi perbandingan. Standarisasi minimal bagi pembacaan basil rekaman EEG telah diutarakan secara sederhana. Jumlah kasus barn yang direkam, alasan pengiriman, hasil rekaman, beserta pembahasannya telah dikemukakan secara singkat
Beberapa Segi Klinik Mengenai Bell's Palsy di Bagian Neurologi Rumah Sakit Universitas Gadjah Mada Boedi Sarojo Boedi Sarojo
Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran) Vol 8, No 01 (1976)
Publisher : Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (452.153 KB)

Abstract

Selama periode Januari 1975 sampai dengan Desember 1975 kami kumpulkan 39 penderita dengan paralise facialis perifir dari seluruh penderita baru 747 orang yang datang berobat ke Rumah Sakit Pugeran Bagian Neurologi Eakultas Kedokteran Universitas Gadjah Made. Mereka terdiri dari 27 pria (69,2%) dan 12 wanita (30,8%). Umur penderita berkisar antara 1 tahun sampai 60 tahun, dengan rata-rata terbanyak sekitar umur 20 — 40 tahun (58;9%).Dari 39 kasus paralise facialis perifir yang terkiimpul atau terseleksi terdapat 25 Bell's palsy atau 64,1 %: Penyebab lain seperti hypertensi 5 orang ( = 12,8%), meningitis pada anak-anak sebanyak 3 orang (7,7%), otitis media 2 orang (5,1%), trauma 2 orang (5,1%), mastoiditis 1 orang (2,5%) dan tumor cerebri 1 orang (2,5%).Sisi wajah muka yang terkena paling banyak adalah sebelah kanan, yaitu sebesar 61,5%. Tempat lesi yang paling banyak terletak di daerah distal foramen stylomastoideum, yaitu sebesar 69,2%.Penderita Bell's palsy yang diobati akan sembuh pada minggu ke 2 — 4. Penderita paralyse facialis perifir lain antara lain 3 orang untuk observasi hypertensi (kiriman dari Bagian Penyakit Dalam), 1 dengan postmeningitis (kiriman dari Bag. Kanak-kanak) dan 1 dengan tumor cerebri (kiriman dari Bagian Mata, dengan visus jelek tanpa bisa dikon-lcsi) tidak dapat kami ikuti mengingat mereka tidak kembali setelah minggu ke 4 tanpa alasan.Semua penderita kimi beri terapi antibiotika, prednison, nicotinamide, vitamin neurotropik, dan beberapa ada yang kami beri salyci:ar. Bagi yang ada faktor etiologisnya kami beri terapi kausal, kecuali untuk tumor cerebri kami tambahkan terapi simptomatis.Lokal pada wajah muka kami beri penyinaran dengan inframerah, massage ringan - stimulasi dengan arus faradis/galvnis, ini diberikan dap 2 hari sekali. Di rumah penderita melakukannya sendiri dengan mengompres air hangat dan massage ringan selama 5 — 10 menit 3 kali sehari, sedang untuk matanya diberi tetesan acid boric 3% dan memakai kacamata teduh apabila ingin keluar rumah.Dari sejumlah 39 penderita ternyata 25 orang (64,1 %) mengalami penyembuhan dalam 4 minggu pertama dan 32 orang (82,05%) mengalami sembuh sempurna. Kami tidak menjumpai kontraktur sebagai satu-satunya gejaia sisa (sequela) penyakit ini.Ditemukan 2 pria yang menderita Bell's palsy untuk kedria kalinya, pada sisi yang bertentangan dengan yang terdahulu.