Franklin Hutabarat
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

“INVESTIGATIVE Judgement” In The Perspective Of John Wesley Franklin Hutabarat
Jurnal Koinonia Vol 5 No 2 (2013): Koinonia
Publisher : Fakultas Filsafat Universitas Advent Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (28.945 KB) | DOI: 10.35974/koinonia.v5i2.169

Abstract

Konsep Pengadilan Pemeriksaan (Investigative Judgment) sedikit banyak bersumber dari pemikiran John Wesley.  Di dalam beberapa khotbahnya John Wesley menuliskan ide-ide tentang pengadilan.  Beberapa penulis mengatakan bahwa Wesley menjabarkan konsep “pengadilan pemeriksaan” dalam konteks perumpamaan “Penatalayan yang Baik.”  Artikel ini membahas tentang kontribusi Wesley terhadap konsep Pengadilan Pemeriksaan, dan ditemukan bahwa walaupun Wesley tidak pernah mengungkapkan kata Pengadilan Pemeriksaan, namun ide dan konsep pengadilan pemeriksaan secara jelas dijabarkan, tetapi penekanan dari Wesley lebih kepada keselamatan dan kehidupan kudus.
THE DOCTRINE OF THE PRIESTHOOD OF CHRIST: PERSPECTIVES OF THE 1ST AND 2ND CENTURIES CHRISTIAN WRITERS Franklin Hutabarat
Jurnal Koinonia Vol 6 No 1 (2014): Koinonia
Publisher : Fakultas Filsafat Universitas Advent Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (41.365 KB) | DOI: 10.35974/koinonia.v6i1.175

Abstract

Keimamatan Kristus adalah sebuah topik yang hanya sedikit tercatat dalam Alkitab.  Di dalam Perjanjian Baru, keimamatan Kristus hanya ditemukan dalam kitab Ibrani, di mana Yesus disebut sebagai imam atau imam besar.  Imam besar adalah figur penting dalam agama Yahudi.  Di dalam setiap sistem keagamaan, imam (khususnya mengenai Imam besar) memiliki peran kunci untuk melaksanakan upacara-upacara. Bahkan pengaruhnya bukan sekedar dalam hal ibadah, tetapi kepada semua aspek dalam kehidupan umat percaya.  Kekristenan, sebagai sebuah kelanjutan dan penerima warisan dari kepercayaan Yahudi, juga memiliki keimamatan khusus.  Sama seperti imam besar pada sistem lama, maka di dalam agama “baru” atau Israel rohani, imam adalah figur penting.  Di dalam artikel ini penulis akan menjawab pertanyaan, apakah pengertian dari gereja Kristen mula-mula mengenai doktrin keimamatan Kristus?  Ditemukan bahwa pada abad pertama, keimamatan memiliki peran penting dalam masyarakat Mediterania Timur.  Bagi orang Yunani dan Yahudi, keimamatan adalah elemen utama dalam keagamaan.  Oleh sebab itu, keimamatan, membentuk dasar dari konsep keimamatan Kristen.
PERKEMBANGAN INTERPRETASI “KE BELAKANG TABIR” (IBR. 6:19, 20) DI DALAM GEREJA MASEHI ADVENT HARI KETUJUH Franklin Hutabarat
Jurnal Koinonia Vol 6 No 2 (2014): Koinonia
Publisher : Fakultas Filsafat Universitas Advent Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (60.624 KB) | DOI: 10.35974/koinonia.v6i2.180

Abstract

In the study of the heavenly sanctuary and Christ's ministry in it, theinterpretation of the phrase “within the veil” (Heb. 6:19-20) and its implicationshave become one of crucial contentious theological issues among interpreterswithin the Seventh-day Adventist (SDA) Church. In the 160 year history of theSDA Church, there have been crucial theological debates on the interpretation ofthe phrase. Many SDA Church administrators, ministers, and scholars haveagreed and disagreed with one another on the interpretation of the phrase and itsimplications. The debate over the interpretation of the phrase "within the veil"among Adventist scholars has resulted in the proposition of differentinterpretations among Adventist theologians. The main question this studyseeks to answer is, How have the various interpretations of the phrase “withinthe veil” (Heb. 6:19-20) been developed within the SDA Church history? What,then, are the implications of each different interpretation in the study of theheavenly sanctuary and Christ's intercessory ministry in the heavenly sanctuary?