This Author published in this journals
All Journal Diglossia
Trikaloka Handayani Putri
Unknown Affiliation

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

KAJIAN INTERTEKSTUALITAS DALAM THOUSAND SPLENDID SUNS KARYA KHALED HOSSEINI TERHADAP PUISI KABUL KARYA SAIB-E-TABRIZI Trikaloka Handayani Putri
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 1 No. 2 (2010): April
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v1i2.82

Abstract

Trikaloka Handayani Putri Universitas Pesantren Tinggi Darul’Ulum Jombang princessnaura@gmail.com   Abstrak Teks tidak dapat dipisahkan dari konteks budaya dan sejarah. Dengan demikian, tidak ada teks yang asli dan unik di dalam teks itu sendiri. Konsep ini telah diadopsi oleh kritik intertekstual untuk mendapatkan arti sebenarnya dari sebuah teks. Penelitian ini mencoba untuk mengetahui intertekstualitas dari sebuah novel berjudul A Thousand Splendid Suns oleh Khaled Hosseini di puisi Kabul oleh Saib-e-Tabrizi. Khaled Hosseini menggunakan puisi Kabul dalam karyanya yang berjudul A Thousand Splendid Suns. Apa yang membuat penelitian ini menarik adalah cara Hosseini menjelaskan Kabul. Hasil dari penelitian ini adalah Kabul di A Thousand Splendid Suns digambarkan sebagai tempat yang penuh dengan kesedihan. Sementara Kabul dalam pikiran Saib-e-Tabrizi adalah tempat yang indah penuh dengan sukacita dan kebahagiaan. Gambaran yang sangat berbeda dari Kabul membutuhkan studi lebih lanjut untuk mendapatkan arti yang sebenarnya. Itulah mengapa studi ini sangat menarik untuk dikaji. kata kunci: intertekstualitas, kritik intertekstual  Abstract Any text cannot be separated from the cultural and historical context. Thus, no text is original and unique in itself. This concept has been adopted by the intertextual criticism to get the real meaning of a text. This study tries to find out the intertextuality of a novel entitled A Thousand Splendid Suns by Khaled Hosseini on a poetry Kabul by Saib-E-tabrizi. Khaled Hosseini used the poetry Kabul in his well known works A Thousand Splendid Suns . What makes this study is interesting is the way Hosseini describes Kabul. The result of this research is Kabul in A Thousand Splendid Suns is portrayed as a place which is full of sorrow. While Kabul in Saib-E-Tabrizi’s mind is a beautiful place which full of joy and happiness. This quite different picture of Kabul needs a further study to get the real meaning of those works. That is why this study is made. key words: intertextuality, intertextual criticism  
CHARLES DICKENS' VIEW OF THE INDUSTRIAL REVOLUTION AS REFLECTED IN HARD TIMES Trikaloka Handayani Putri
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 1 No. 1 (2009): September
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v1i1.89

Abstract

Trikaloka Handayani Putri University of Pesantren Tinggi Darul’ulum princess_naura@yahoo.com Abstract Literature represents the views of the author of this life, or certain ideas about life. In other words, the author was part of his work. Many authors consider the environment is likely to be used as an ingredient of literary writing. Of course, the authors include a view of social phenomena that occur in his work. Industrial Revolution is one of the major phenomena that occur in the UK that brings great change to society. Besejarah events portrayed very nicely by Charles Dickens, the novelist who also observers of social reform through his novel Hard Times. This study aims to determine the views of the Charles Dickens Industrial Revolution trough genetic structuralism approach. key words: society, view, phenomena   Abstrak Karya sastra merupakan pandangan seorang pengarang terhadap hidup ini atau ide-ide tertentu tentang kehidupan. Dengan kata lain, penulis adalah bagian dari karyanya. Banyak penulis menganggap lingkungan sangat mungkin untuk dijadikan suatu bahan penulisan karya sastra. Tentu saja, penulis menyertakan pandangan terhadap fenomena sosial yang terjadi di dalam karyanya. Revolusi Industri merupakan salah satu fenomena besar yang terjadi di Inggris yang membawa perubahan besar bagi masyarakatnya. Peristiwa besejarah digambarkan dengan sangat apik oleh Charles Dickens, seorang penulis novel yang juga pemerhati reformasi sosial melalui novelnya yang berjudul Hard Times. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pandangan Charles Dickens tentang revolusi Industri melalui pendekatan strukturalisme genetik. kata kunci: masyarakat, pandangan, fenomena
BALINESE CULTURE IN EAT, PRAY, LOVE ELIZABETH GILBERT Trikaloka Handayani Putri
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 2 No. 2 (2011): April
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v2i2.95

Abstract

Trikaloka Handayani Putri University of Pesantren Tinggi Darul ‘Ulum Jombang princessnaura@yahoo.com Abstract This article would discuss about the reflection of Balinese culture in Eat Pray, Love Elizabeth Gilbert. This novel becomes phenomenal since the positive critics appear. The ending of this novel, Elizabeth told her memory about Bali, her way to describe Bali was very ‘realistic’. So many cultural aspects described in this novel. This writing will be developed through the cultural study theory as the fundamental in the study of Eat, Pray, Love Novel. key words: cultural study, cultural aspects   Abstrak Artikel ini membahas tentang budaya Bali yang tergambar dalam novel Eat, Pray, Love tulisan Elizabeth Gilbert. Novel ini begitu fenomenal semenjak kritik positif bermunculan. Dibagian akhir novel ini, Elizabeth menyampaikan memorinya tentang Bali, cara dia menggambarkan Bali begitu nyata. Banyak Aspek budaya yang tergambar dalam novel ini. Tulisan ini akan dikembangkan melalui teori study budaya sebagai kerangka utama dalam mempelajari novel Eat, Pray, Love. kata kunci: studi kultural, aspek budaya
THE PORTRAYAL OF FEMALE’S ROLE IN 18TH CENTURY IN THE CASTLE OF OTRANTO AND THE MYSTERIES OF UDOLPHO Trikaloka Handayani Putri
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 3 No. 2 (2012): April
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v3i2.97

Abstract

Trikaloka Handayani Putri University of Pesantren Tinggi Darul Ulum Jombang princess.naura@gmail.com  Abstrak Pendekatan mimesis cenderung mencari imitasi karya sastra terhadap realita. Ada begitu banyak karya sastra yang menggambarkan realita, The Castle of Otranto oleh Horace Walpole dan Misteri Udolpho oleh Ann Radcliffe adalah diantaranya. Dikenal sebagai novel gotik , keduanya mengangkat isu sosial yang sama. Menggunakan cara gotik dan dengan cerita yang mengerikan, The Castle of Otranto dan Misteri Udolpho menyajikan kehidupan wanita muda dengan masalah sosialnya. The Castle of Otranto menyuguhkan potret kehidupan Matilda dan Isabella yang memiliki kehidupan yang sedih hanya karena mereka perempuan, sementara The Misteri Udolpho bercerita tentang kehidupan kesengsaraan seorang gadis juga yang diperankan oleh Emily. Oleh karena itu, masalah sosial menjadi isu menarik untuk dibahas. Dengan menggunakan pendekatan mimesis, dapat dilihat dengan jelas bahwa kedua novel tersebut gotik dan berbicara tentang peran perempuan di abad 18. kata kunci: gotik , mimesis, masalah sosial  Abstract Mimetic approaches tend to look literary works is imitation of reality. There are so many works of literature that describes the reality; The Castle of Otranto by Horace Walpole and Ann Radcliffe's Mysteries of Udolpho are the examples. Known as the gothic novel, both raised the same social issues. Using a gothic way and with a terrible story, The Castle of Otranto and the Mystery of Udolpho presents the lives of young women with social problems. The Castle of Otranto presents a portrait of the lives of Matilda and Isabella who had a sad life just because they are women, while The Mystery of Udolpho tells about the life of a girl's woes also played by Emily. Therefore, the social problem becomes interesting to discuss the issue. By using a mimetic approach, can be seen clearly that both the gothic novel and talk about the role of women in the 18th century. key words: gothic, mimetic, social problems   
AFGHANISTAN’S CULTURE IN THE KITE RUNNER BY KHALED HOSSEINI TRIKALOKA HANDAYANI PUTRI
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 4 No. 1 (2012): September
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v4i1.227

Abstract

Trikaloka Handayani Putri University of Pesantren Tinggi Darul’ulum princess_naura@yahoo.com Abstract The Kite Runner merupakan salah satu novel karya Khaled Hosseini yang fenomenal. Karya sastra ini mengangkat isu sosial yang berkaitan erat dengan budaya yang ada di Afganistan, terutama di Kabul melalui cerita hidup seorang Amir dan Hasan. Melalui cerita hidup Amir dan Hasan yang sarat dengan konflik tersirat pandangan hidup dan adat yang sangat berbeda antara kaum Pasthun dan Hazara. Artikel ini akan mengupas lebih dalam tentang pandangan hidup kaum Pasthun dan Hazara dengan pengaplikasikan culture criticism terhadap karya satra. Culture criticism merupakan studi tentang budaya yang ada di dalam sebuah karya sastra. Dengan pengaplikasian Culture criticism, diharapkan budaya yang tercermin dalam karya sastra bisa terkaji dengan lebih dalam. Key words: kritik sastra (culture criticism), isu sosial     Abstrak The Kite Runner is a phenomenal novel written by Khaled Hosseini. This literary work raises social issues that closely related to the Afghanistan’s culture, especially in Kabul through the life story of Amir and Hassan. The ridden-conflict coloured their life story implied a contrastive life view and customs between Pashtun and Hazara. This article will explore more about the world view of the Pashtun and Hazara by applying culture criticism. It is the study of culture in a literary work. By applying culture criticism, it is expected that the culture reflected in the literatury works can be explored deeper. Key words: literary criticism (culture criticism), social issues