Gede Sudjana Budhiasa
Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Udayana

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Analisis Model Makro Ekonomi Regional Bali Pendekatan Solow Neclassical Growth Budhiasa, Gede Sudjana
Jurnal Kajian Ekonomi dan Keuangan Vol 16, No 3 (2012)
Publisher : Badan kebijakan Fiskal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31685/kek.v16i3.126

Abstract

Bali Island is the most popular tourist destination in Indonesia, therfore the growth for international tourist destionation to Bali island could be impact and supporting generating income of people of Bali island. However, the policy design of one for all that was design by BTDC projects were concentrated tourist destionation at Kabupaten Badung and Kota Denpasar as main region activities.This research have been found that using econometrics two stages regression methods indicated that tourist growth center policy of BTDC is failures to distribute income and other benefits to the suburb area of 7 Kabupaten outside from center growth Kabupaten Badung and Kota Denpasar. The failure of beneficial of 7 Kabupaten to take participation is that because of the economic structure of 7 Kabupaten become dominated of primary sector and less power of industrial sectors
A SMALL SCALE MACROECONOMETRIC MODEL OF EXTERNAL DEBT, EXCHAGE RATE AND MONETARY POLICY RULE, THE CASE OF INDONESIA Budhiasa, G. Sujana
INPUT Jurnal Ekonomi dan Sosial Vol. 1, No. 2 Februari 2009
Publisher : INPUT Jurnal Ekonomi dan Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (463.576 KB)

Abstract

Pengembangan model ekonomi makro berskala kecil sedang menjadi focus perhatian banyak pemodel makro ekonomi dewasa ini. Pemodelan ekonomi makro berskala kecil ini telah di pelopori oleh Agveli (1977), Batini dan Haldane (1999) untuk pengembangan pendekatan ekonomi makro moneter. Gagasan John B Taylor (1993) tentang monetary policy rule telah membangkitkan minat banyak negara untuk meng-adopsi Taylor rule bagi kepentingan praktek pengendalian Bank Sentral. Taylor (1993) dalam gagasannya mempergunakan pendekatan policy rule tingkat suku bunga sebagai reaction function untuk mendapatkan sasaran akhir inflasi dan output, dengan mengabaikan peranan exchange rate sebagai bagian penting yang menentukan keseimbangan ekonomi makro khususnya bagi negara dengan perekonomian yang semakin terbuka. McCallum dan Nelson (1998) dan sejumlah penulis lain telah mengembangkan inflation targeting framework dengan mempergunakan exchange rate sebagai anchor menggantikan peranan tingkat suku bunga. Dalam konteks pengembangan small macroeconomic model, terdapat semacam consensus bahwa para peneliti menyusun pemodelan Philip curve, aggregate demand dan fungsi lost function untuk mendeteksi kerugian minimal apabila dilaksanakan sasaran akhir untuk menetapkan inflasi yang rendah, dengan akibat terjadinya kerugian pada potensi produksi dan kesempatan kerja untuk berkembang tumbuh. Meskipun pemodelan small scale macroeconomic mencapai consensus, namun peneliti tidak memiliki keseragaman pendapat tentang muatan variabel makro ekonomi dari ketiga system persamaan sebagaimana disebutkan diatas, termasuk praktek penggunaannya, masih terdapat varitas penggunaan small simple macroeconomic model, sebaliknya terdapat sejumlah peneliti yang lebih memandang perlunya perluasan small scale macroeconomic pada tingkat medium. Peneliti pertama, melihat policy rule dari sisi praktis untuk kepentingan praktek Bank Sentral, sedangkan type peneliti kedua, untuk melihat lebih jauh dampak dari kebijakan moneter terhadap sektoral ekonomi makro tertentu. Penelitian ini merupakan langkah awal untuk melihat kemungkinan peran serta exchange rate sebagai penentu tingkat inflasi, terutama dari deficit yang terjadi pada neraca pembayaran, serta pada akhirnya berdampak pada perdagangan ekspor dan import sebagai bagian dari aggregate demand yang akan memposisikan output potensial. Secara teoritis, peningkatan aggregate demand akan membentuk heating economics, sehingga Bank Sentral dapat melakukan intervensi di pasar valuta. Dengan menaikkan cadangan devisa, Bank Indonesia bisa berharap akan terjadinya apresiasi rupiah yang akan membuat barang impor menjadi lebih murah, atau sebaliknya meningkatkan peran aggregate demand melalui jalur nilai tukar untuk mengekang permintaan barang impor melalui langkah depresiasi. Berdasarkan hasil analisis regressi, ditemukan adanya trend tentang peranan nilai tukar terhadap inflasi secara tidak langsung. Meskipun demikian, secara keseluruhan pengujian model ekonometrik masih jauh dari sempurna, sehingga memerlukan langkah perbaikan penelitian lanjutan secara lebih mendalam, dengan mempergunakan pendekatan logaritma.
REVIEW TENTANG DESIGN MONETARY POLICY RULE UNTUK INDONESIA Budhiasa, G. Sujana
IQTISHODUNA IQTISHODUNA (Vol 4, No 2
Publisher : Fakultas Ekonomi, UIN Maliki Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.318 KB) | DOI: 10.18860/iq.v3i2.256

Abstract

The development monetary policy rule has become a fashionable macroeconomic modeling as pioneering by Taylor (1993)  Indonesia is one of emerging market countries that has advantages in adopting the Taylor monetary policy rule that was implementing together with inflation targeting framework dealing with the central bank law of Bank Indonesia on the new task for stabilizing the domestic currency, so that the new law of Bank Indonesia might be appropriate to adopt inflation targeting framework (Taylor, 2000). According to the new law, Bank Indonesia is obliged to announce the inflation plan at the beginning of the year to the public. Alamsyah, Agung and Zulverdy (2001), point-out that Bank Indonesia has become implemented the inflation targeting framework because it was obligated by the new law of Bank Indonesia. Practical of inflation targeting framework (ITF) in many countries adopted Taylor modified monetary policy rules with using many anchors. Svensson (1999) argued that because uncertain of some economic variables behavior, using interest rate as single anchor as recommended by Taylor rules can be robustness.Bank Indonesia have practical a single anchor called SBI Rate in implementing the inflation targeting framework.  SBI Rate is recommended by McNelis (1999) and also Darsono et. al (2002)  as the single instrument rule for managing  inflation gap and output gap in Indonesia.This paper is intends to study the development of policy rule theory and its possibility of those model developed for implementing at Bank Indonesia macroeconomic model.
DESAIN MONETARY POLICY RULE UNTUK PEREKONOMIAN TERBUKA: KASUS INDONESIA Budhiasa, G. Sudjana
IQTISHODUNA IQTISHODUNA (VOL 8, NO 1
Publisher : Fakultas Ekonomi, UIN Maliki Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.015 KB) | DOI: 10.18860/iq.v0i0.1764

Abstract

This paper is trying developing a small scale Keynesian macroeconometric model for Indonesia as the main framework to explain some characterized of macroeconomic variables and its transmission path in order to understand how economy of one country is work. However, the main goal of the developing this macroeconomic model is based on monetary perspective, so that the model would be linked with policy framework of Central Bank as guidance and its strategy for combating inflation and at the same time can be achieve the expansion of employment and economic growth as well. This macroeconometric model is transmitted facilities and take function as the macroeconomic channel for testing the effectively of BI rate as monetary instrument. So that the model as developed in this paper will be examine using 2SLS simultaneous econometric  methods and the next simulation process as an effort in understanding the fenomena as Indonesian economy is working under the recognition of  monetary instrument policy.
ANALISIS TINGKAT KESEJAHTERAAN PETANI DI DESA BANGLI KECAMATAN BATURITI KABUPATEN TABANAN I Wayan Ardika; Gede Sujana Budhiasa
PIRAMIDA Vol 13 No 2 (2017): PIRAMIDA`- Jurnal Kependudukan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia
Publisher : Puslit Kependudukan dan Pengembangan SDM Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (648.573 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh tingkat pengetahuan terhadap tingkat kesejahteraan petanidengan sarana produksi sebagai variabel mediasi di Desa Bangli Kecamatan Baturiti Kabupaten Tabanan. Datapenelitian diperoleh dari studi kepustakaan, observasi dan kuesioner. Pengisian kuesioner diukur melalui skalaLikert. Penelitian ini menggunakan metode analisis data SEM dengan alat analisis SmartPLS 3.0. Untuk mencaridan menjelaskan pengaruh dan hubungan antar variabel dengan menggunakan pengujian hipotesis (ExplanationResearch). Berdasarkan Uji SEM PLS dapat dinyatakan 1). Tingkat pengetahuan berpengaruh positif dan signifikanterhadap tingkat kesejahteraan petani pada Gabungan Kelompok Tani Sapta Kerta Buana Desa Bangli KecamatanBaturiti Kaupaten Tabanan. 2) Sarana produksi berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat kesejahteraanpetani pada Gabungan Kelompok Tani Sapta Kerta Buana Desa Bangli Kecamatan Baturiti Kabupaten Tabanan.3) Tingkat pengetahuan petani berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat kesejahteraan petani padaGabungan Kelompok Tani Sapta Kerta Buana Desa Bangli Kecamatan Baturiti Kabupaten Tabanan