Debora Stephanie Ritonga
Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

TOGAR: ‘ORANG UDIK’ YANG BERHASIL SEBAGAI BATAK PERANTAU: Sebuah Life History Debora Stephanie Ritonga
CALYPTRA Vol. 3 No. 2 (2015): Calyptra : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya (Maret)
Publisher : Perpustakaan Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.236 KB)

Abstract

Togar, seorang Batak perantau yang lahir di desa Kotatua, Tapanuli Selatan. Ia mulai merantau dari Rantauprapat, Medan kini di Surabaya. Kehidupan masa lampau Togar penuh tantangan. Ia menghadapi perjuangan untuk beradaptasi di perantauan dan juga menerima ejekan sebagai „orang udik‟. Peneliti melihat pada cara dan proses Togar mengidentifikasi dirinya sebagai individu dan sebagai bagian dari kelompok Batak. Kategorisasi diri terbentuk melalui pengalaman hidup Togar dari masa kecil, remaja, dan dewasa. Hal itu memunculkan prinsip, nilai dan tradisi yang tereskpresikan dalam kehidupannya. Tujuan peneliti untuk memahami kehidupan Togar dengan menjelaskan alasan merantau. Peneliti menggambarkan kehidupan Togar dengan metode riset kualitatif dengan pendekatan life history. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara, observasi dan dokumen. Peneliti pun mengalami masalah penelitian yaitu proses pembelajaran budaya Togar dan dialek antara Togar dan kelompok Batak. Pertama, dimulai ketika Togar semasa kecil belajar pentingnya menjaga “martabat” keluarga. Keterbatasan orang tua dalam kesejahteraan materi tidak menghalanginya untuk berjuang meraih kesuksesan dengan menjaga nama baik Ritonga di perantauan. Kedua, sebagai anak pertama pembawa nama Ritonga dituntut membanggakan nama keluarga itulah arti “keberhasilan” bagi Togar. Pemaknaan dari keberhasilan ia pelajari melalui harapan dari orang tua untuk ia mengejar pendidikan yang setinggi- tingginya. Ketiga, sebutan ”orang udik” ia maknai sebagai tantangan untuk membuktikan nilai dirinya yang merupakan bagian dari komunitas desa dan sebagai orang Batak marga Ritonga mempunyai potensi untuk mengalahkan orang kota. Hal itu yang ia terima dan yakini sebagai sebutan yang membanggakan.