Ahmad Najib Burhani
The Indonesian Institute of Sciences (LIPI), Jakarta

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Maarif

Ulama dan Negara Santri Burhani, Ahmad Najib
MAARIF Vol 14 No 1 (2019): Populisme Islam dan Tantangan Demokrasi Islam di Indonesia Pasca-Pilpres
Publisher : MAARIF Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.126 KB) | DOI: 10.47651/mrf.v14i1.49

Abstract

Dengan kemenangan Joko Widodo – Ma’ruf Amin dalam Pemilihan Presiden 2019, ulama kembali menempati posisi penting dalam pemerintahan Republika Indonesia. Pertanyaannya, apakah dengan terpilihnya Ma’ruf Amin sebagai Wakil Presiden itu akan mendinginkan perpolitikan nasional yang selama ini sering terbelah antara kubu nasionalis dan Islamis? Apakah tampilnya Ma’ruf Amin, yang merupakan mantan rois ‘am NU, sebagai bagian dari ashabul qoror (penentu kebijakan) akan bisa menghilangkan berbagai kebijakan yang kurang berpihak dari pemerintah terhadap minoritas atau justru melahirkan sektarianisme baru? Dua pertanyaan inilah yang ingin diangkat oleh artikel ini.
Untuk Islam Berkemajuan Burhani, Ahmad Najib
MAARIF Vol 14 No 2 (2019): Memperkuat Kembali Moderatisme Muhammadiyah: Konsepsi, Interpretasi, Strategi da
Publisher : MAARIF Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (135.851 KB) | DOI: 10.47651/mrf.v14i2.63

Abstract

Hubungan antara Muhammadiyah dan budaya lokal di Indonesia sering menjadi tema kontroversial, baik di dalam organisasi ini maupun dalam wacana tentang Islam Indonesia. Muhammadiyah dikenal, salah satunya, sebagai gerakan purifikasi dan pemberantas TBC (Takhayyul, Bid’ah, dan Khurafat) yang kadang menempatkan posisinya saling berhadapan dengan budaya lokal. Namun demikian, sejak tahun 2000 lalu Muhammadiyah memperkenalkan konsep “dakwah kultural” yang di antaranya mencoba memperbaiki citranya dalam kaitannya dengan berbagai budaya di Indonesia. Tulisan ini hendak membahas tentang hubungan antara kejawaan dan Muhammadiyah serta melihat tempat dari budaya lokal dalam gagasan “Islam Berkemajuan” yang diusung Muhammadiyah sejak Muktamar ke-47 di Makassar 2015 lalu. Secara khusus, tulisan ini melihat pada reaksi beberapa warga Muhammadiyah terhadap buku “Muhammadiyah Jawa” (2016). Beberapa pertanyaan yang didiskusikan dalam artikel ini di antaranya: Masihkah ada ruang untuk kejawaan di Muhammadiyah? Adakah apresiasi dari organisasi ini terhadap identitas Jawa? Apa hubungan antara Muhammadiyah dengan Islam Jawa?