Sjahrul Bustaman
Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENGKAJIAN BUDIDAYA ULAT SAGU SEBAGAI SUMBER PROTEIN PAKAN TERNAK Nagib Edrus, Isa; Bustaman, Sjahrul
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 10, No 3 (2007): November 2007
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Assessment on Sago Larva Cultivation as a Protein Source of Feed. The area of sago crops in Moluccas is 31.360 ha with the number of sago tree ready to be harvested amounted 86 trees per ha. One of the wastes from harvesting sago crop is the tree sprouts which are not utilized and become places for coconut red beetles (Rhynchophorus ferrugenesis) to lay eggs. Larva from these beetles is known as sago larva, usually consumed by Moluccas and Papua societies. When the sago larvas become adults, they will transform into coconut beetles, which are pests for coconut crops. Research on potencies and cultivation techniques was conducted in 2006 with purposes to obtain: 1) natural and artificial cultivation techniques, 2) spawning time and season, and 3) nutrient value and potencies of sago larva. The estimation on potency was obtained from surveys at sago processing centers in South East Moluccas Regency, Central Moluccas Regency, and Western Seram. Cultivation techniques were differentiated between natural and artificial. Laboratory analysis was conducted to obtain the nutrient value and essential amino acid content. Statistical test was conducted on the data resulting from treatment comparisons. The result of the study shows that larva sago potency in Moluccas is estimated to be equal to 935 tons based on sago crop area, with a productivity of 2.52 kg/ m. Spawning season is all year long with harvesting time of 39-45 days post tree cutting. Natural cultivation is more successful compared to the artificial one. Sago larva contains 13.80% protein, 18.04% fat and essential amino acids. Sago larva is expected to be used as source of proteins to substitute fish meal. Key word: Cultivation, sago larva, Moluccas. Luas areal tanaman sagu di Maluku 31.360 ha dengan jumlah pohon sagu siap panen sebanyak 86 pohon per ha. Salah satu limbah dari hasil panen sagu adalah batang bagian pucuk pohon yang tidak dimanfaatkan, dan tempat bertelurnya kumbang merah kelapa (Rhynchophorus ferrugenesis). Larva dari kumbang ini dikenal dengan ulat sagu, yang biasanya dikonsumsi oleh masyarakat Maluku dan Papua. Apabila ulat sagu menjadi dewasa akan berubah menjadi kumbang kelapa, yang merupakan hama pada tanaman kelapa. Pengkajian besarnya potensi dan teknik budidaya telah dilakukan pada tahun 2006 dengan tujuan: 1) mendapatkan teknik budidaya secara alami dan buatan (artifisial), 2) musim dan waktu pemijahan, 3) besarnya potensi dan nilai gizi ulat sagu. Perkiraan besarnya potensi didapat dari survei di sentra-sentra pengolahan sagu di Maluku pada Kab Maluku Tenggara, Kab Maluku Tengah dan Seram Bagian Barat. Sedangkan teknik budidaya dibedakan secara alami dan buatan (artifisial). Pengujian laboratorium dilakukan untuk mendapatkan nilai gizi dan kandungan asam amino esensial. Uji statistik dilakukan pada data hasil perbandingan perlakuan. Hasilpengkajian menunjukan berdasarkan ketersediaan luas areal tanaman sagu di Maluku, potensi ulat sagu diperkirakan sebesar 935 t, dengan produktivitas 2,52 kg/m. Musim pemijahan sepanjang tahun dengan waktu panen 39-45 hari dari pasca tebang pohon. Budidaya secara alami lebih berhasil dibandingkan dengan cara buatan (artifisial). Ulat sagu memiliki kandungan protein 13,80%, lemak 18,04% dan asam amino esensial. Ulat sagu diharapkan dapat dipakai sebagai sumber protein pada pembuatan pakan sebagai pengganti tepung ikan. Kata kunci: Budidaya, ulat sagu, Maluku
Strategi Pengembangan Bio-etanol Berbasis Sagu di Maluku BUSTAMAN, SJAHRUL
Perspektif Vol 7, No 2 (2008): Desember 2008
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v7n2.2008.%p

Abstract

ABSTRAKBio-etanol  adalah  cairan  biokimia  dari  proses fermentasi  karbohidrat  dengan  bantuan  mikro-organisme, dan dilanjutkan dengan proses distilasi. Upaya   pengembangan   bio-etanol   sudah   begitu mendesak,  terutama  bertujuan mengurangi  beban penderitaan  masyarakat  akibat  kenaikan  BBM  dan pasokan yang tidak menentu pada masyarakat yang tinggal  di  pulau  kecil  dan  terpencil.   Tulisan  ini memberikan gambaran tentang bio-etanol yang dapat diproduksi di Maluku. Hasil analisis faktor kekuatan, kelemahan,  kesempatan  dan  ancaman  pada pengembangan industri  bio-etanol  di Maluku, memberikan   prospek yang  baik. Strategi pengembangan bio-etanol dikelompokan atas beberapa pola skala usaha seperti skala rumah tangga, UMKM, komersial  dan  pola  plasma-inti.  Kebijakan  Pemda Maluku diperlukan untuk mendukung pembangunan bio-etanol   dalam   usaha   meningkatan   pendapatan masyarakat dan penyerapan tenaga kerja.Kata kunci: Metroxylon spp., pengembangan bio-etanol, Maluku. ABSTRACTStrategy of Bio-ethanol Development Base on Sago in MoluccasBio-ethanol   is   biochemical liquid  produced by fermentation of carbohydrate with microorganism and followed by distillation. The development of the bio-ethanol is urgently needed as to help reducing the public burden due to the increasing of oil price and uncertainly oil supply especially for Moluccas society in small island. This paper shows that bio-ethanol can be  produced  in  Moluccas.  SWOT  analysis  results showed that bio-ethanol industry development gave good prospect. Strategy of bio-ethanol development can be recommended by some pattern such as house hold scale, small-micro scale, commercial scale and nucleus-plasm pattern. The regional authority should be convinced about the necessity of supporting bio-ethanol production in order to increasing community income and absorbing labor.Key words: Bio-ethanol development, moluccas.
Prospek dan Strategi Pengembangan Pala di Maluku BUSTAMAN, SJAHRUL
Perspektif Vol 6, No 2 (2007): Desember 2007
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v6n2.2007.%p

Abstract

ABSTRAKPala Banda (Myristica fragrans Houtt) adalah komoditas utama pada program revitalisasi perkebunan Provinsi Maluku dan merupakan tanaman asli daerah. Di tahun 2005 produksi pala rakyat 1998 ton pada luas lahan 1948 Ha, sedangkan perusahaan perkebunan menghasilkan 2357 ton dari luas areal 10.128 Ha, dengan harga biji pada kualitas terbaik Rp 30.000/kg dan fuli Rp 50.000/kg. Dari hasil kajian Agro Ekologi Zona (AEZ) Maluku, luas lahan   yang   masih   tersedia   untuk   pengembangan tanaman perkebunan termasuk pala sebesar 871.656 Ha yang tersebar pada lima kabupaten. Tanaman pala yang ada saat ini bibitnya berasal dari biji sehingga masalah sex ratio untuk menghasilkan buah masih ditemukan. Komposisi tanaman pala rakyat terdiri dari (1) Tanaman  Belum   Menghasilkan (TBM)   sebanyak 27,85%; (2) Tanaman  Menghasilkan  (TM)  44,74%  dan  Tanaman Tua/Rusak (TTR)27,40%. Dalam usaha pengembangan pala,  ketersediaan  teknologi  budidaya  tanaman  dan pasca panen telah ada  di Badan Litbang Pertanian, sedangkan dukungan dana dan kebijakan diharapkan dari  pemerintah  daerah  guna  memulihkan  kondisi tanaman. Di sektor hulu, kebijakan lebih diarahkan kepada peningkatan produktivitas, mutu biji dan fuli pala   melalui   kegiatan   ekstensifikasi,   intensifikasi, rehabilitasi, peremajaan, serta pengendalian hama dan penyakit pala. Sedangkan di sektor hilir, kebijakan lebih  diarahkan  kepada  peningkatan  nilai  tambah dalam   bentuk   hasil   olahan   untuk   industri   dan panganan.   Propinsi   Maluku   terdiri   dari   wilayah kepulauan,  sehingga  strategi  pengembangan  usaha pala untuk kegiatan agribisnis dibagi atas wilayah pengembangan I, II dan III.Kata kunci:  Pala,  Myristica  fragrant,  pengembangan, Maluku. ABSTRACTProspect and Development Strategy of Nutmeg Development In MalukuBanda’s Nutmeg (Myristica fragrant Houtt) is the main commodity of the estate crop revitalization program in Maluku Province, which is native to the region. In year 2005 the total area of the small holder nutmeg crop is about 1948 ha with the total production of about 1998 tons. While the total estate nutmeg crop covers about 10.128 ha with the total production of about 2357 tons. The price of nutmeg seed is about Rp 30.000 / kg and the price of fuli is Rp.50.000 /kg. According to the survey carried out by the BPTP Maluku, the total land which is still available for the development of estate crop including nutmeg is around 871.656 ha, spread over five Regencies (Kabupaten). The existing nutmeg plants is generally come from seedlings, therefore the sex ratio in producing nutmeg fruits is still a major constraint. The composition of small holder nutmeg plantation consists of; (i) Not yet producing (young plants) counts about 27,85% (ii) Productive plants of about 44,74% and (iii) Old plants of about 27,40%. Both cultivation and post harvest technology for nutmeg plantation are available in the Agency for Agriculture Research and Development (Badan Litbang Pertanian). The  regional  authority  should  be  convinced  the necessity of supporting plant rehabilitation in order to produce good quality nutmeg and in turn as the regional income source. In the cultivation sector, the policy is to increase productivity of fruit and fuli quality which is implemented through rehabilitation, intensification, replantation, pests and disease control. In the upstream sector, the policy is directed to improve the added value of post harvest in terms of products for industrial materials and food production. The province of Maluku consists of  several islands, therefore  the  strategy  of  the  nutmeg  agribusiness development is divided into  regional development I, II and III.Key words: Nutmeg, Myristica fragrans, development, Maluku