Ni Made Rai Ratih Cahya Perbani
Teknik Geodesi FTSP – Institut Teknologi Nasional, Bandung

Published : 13 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : JURNAL ITENAS REKAYASA

Studi Prosedur Dealiasing untuk Deteksi Konstanta Pasut Dominan Cahya Perbani, Ni Made Rai Ratih
JURNAL ITENAS REKAYASA Vol 14, No 4 (2010)
Publisher : Jurnal ITENAS Rekayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.607 KB)

Abstract

ABSTRAK Aliasing merupakan pengaruh yang menyebabkan sinyal-sinyal yang berbeda menjadi tidak dapat dibedakan satu sama lain saat rekonstruksi sampel. Aliasing merupakan akibat dari penggunaan data diskret dan bukan yang kontinu. Data pasut merupakan data diskret dengan interval pengamatan umumnya satu jam. Dengan demikian data pasut merupakan data yang tidak dapat dipisahkan dari masalah aliasing. Metode untuk mencegah terjadinya aliasing dinamakan dealiasing. Penelitian ini ditujukan untuk menerapkan suatu metode dealiasing konstanta- konstanta utama pasut baik secara parsial maupun simultan pada data pasut untuk mendeteksi konstanta pasut dominan. Untuk dealiasing secara simultan digunakan data pasut dengan panjang pengamatan satu bulan (data pasut Januari 2010 di Benoa, Bali), sedangkan untuk dealiasing secara parsial digunakan 30 rekaman data pasut dengan panjang pengamatan 26 jam yang dicuplik dari data satu bulan. Dari penelitian dapat diketahui bahwa dealiasing secara simultan memberikan hasil yang lebih baik. Dealiasing secara parsial hanya dapat memberikan informasi mengenai spesies konstanta pasut yang dominan, bukan individu konstantanya.Kata kunci: aliasing, dealiasing, data diskret, konstanta pasut ABSTRACT Aliasing refers to an effect that causes different signals to become indistinguishable when sampled. Aliasing is a result of using discrete formulas instead of the continues one. The tide data are discrete, ussualy with one hour interval. So, tide data will always be interfered by aliasing. The methods used to prevent aliasing is called dealiasing. This research is intended to implement a dealiasing methods for main tidal contituents either partially or simultaneously to detect the dominant tidal constituent. Simultan dealiasing consider one month tide data (January 2010 tide data in Benoa, Bali), while partial deliasing consider 30 records with 26 hours length of each sampled from one month data. It is found that simultan deliasing give the better results. Partial deliasing is only able to give the information about the species of main tidal constituent, but not individually.Keywords: aliasing, dealiasing, discrete data, tidal constituent.
Studi Proses Cyclostationarity untuk Prediksi Tinggi Pasut Cahya Perbani, Ni Made Rai Ratih
JURNAL ITENAS REKAYASA Vol 14, No 3 (2010)
Publisher : Jurnal ITENAS Rekayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.199 KB)

Abstract

ABSTRAKProses cyclostationarity dapat dilihat sebagai suatu siklus yang berulang secara stasioner. Pasut merupakan fenomena naik turunnya paras laut yang disebabkan oleh gaya tarik bulan dan matahari yang memiliki pergerakan periodik yang teratur sehingga sangat dimungkinkan pasut beserta besaran-besarannya bersifat periodik juga. Penelitian ditujukan untuk mengetahui apakah terjadi proses cyclostationarity pada data pasang tinggi sehingga dapat dibuat suatu model perilakunya yang dapat digunakan untuk prediksi pasang tinggi. Data pasang tinggi dicuplik dari data pasut mulai Oktober 2006 s.d Juli 2008 di Benoa Bali yang kemudian dikelompokkan menjadi dua bagian yang diasumsikan mewakili kondisi saat bulan purnama dan bulan mati dengan durasi 21 bulan. Pemodelan pasang tinggi dilakukan setelah diketahui kecenderungan data terlebih dahulu. Selanjutnya dihitung koefisien korelasi antara data dan hasil model untuk melihat seberapa besar hasil model dapat mewakili data. Dari penelitian dapat diketahui bahwa pasang tinggi di Benoa, Bali merupakan suatu proses cyclostationarity dengan periode satu siklusnya lebih kurang 385 hari dan rentang perubahannya lebih kurang 60 cm. Ditemukan juga bahwa diperlukan data lebih dari dua tahun untuk analisis yang lebih detail. ABSTRACTA cyclostationary process can be viewed as a multiple interleaved stationary process. Tide is a phenomenon of the rise and fall of sea level due to gravitational forces of the moon and the sun which has a regular periodic movement, so that tide and its properties likely has the periodic behaviour, too.This research is intended to find the possibility of cyclostationary process on spring tides data to model the behaviour for prediction purpose. The spring tides data is sampled from tide data from October 2006 to July 2008 at Benoa, Bali which is divided into two records which is assumed represent the condition of full and new moon. The data has 21 months length. The trend of data must be examined first for modelling the behaviour of spring tidse. After that, the coefficient of correlation between the data and the model is calculated to see the realibily of the model to represent the data. It is found that spring tides in Benoa, Bali is a cyclostationarity process with period for one cycle about 385 hours and has range about 60 cm. Besides, it needs more than 2 years length tide data to hold the detailed analysis.