Ni Made Rai Ratih Cahya Perbani
Teknik Geodesi FTSP – Institut Teknologi Nasional, Bandung

Published : 13 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search
Journal : REKA GEOMATIKA

Identifikasi Nilai Piksel Sepanjang Garis Pantai di Teluk Genteng Menggunakan Citra Landsat 4-5 TM Adrianus, Indra; Cahya Perbani, Ni Made Rai Ratih; Maryanto, T I
REKA GEOMATIKA Vol 2017, No 2
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1184.657 KB) | DOI: 10.26760/jrg.v2017i2.1766

Abstract

ABSTRAKTeknologi pengindraan jauh memudahkan dalam penyediaan data untuk memperoleh garis pantai, terutama untuk wilayah lautan yang luas seperti Indonesia. Ekstraksi garis pantai dari citra satelit merupakan salah satu cara untuk memperoleh nilai-nilai piksel sepanjang garis pantai. Tujuan dari penelitian ini adalah mencari dan menentukan pola sebaran nilai piksel di sepanjang garis pantai area sampel di Teluk Genteng serta untuk mengetahui sinkronisasi dengan garis pantai dari Peta RBI. Penelitian ini menggunakan citra satelit Landsat 4-5 TM dengan Band 5 digunakan untuk memisahkan darat dan air. Pola sebaran nilai piksel didapatkan dengan menampalkan hasil ekstraksi dengan citra asli dan Peta RBI. Dari penelitian ini diperoleh bahwa pola sebaran nilai piksel batas yang terjadi pada area sampel menyebar secara acak, nilai piksel batas tertinggi adalah 242, nilai piksel batas terendah adalah 27, rentang nilai piksel batas adalah 215, rentang nilai piksel air adalah 126, rentang nilai piksel darat adalah 143, dan secara umum bentuk dari ekstraksi hampir mendekati garis pantai Peta RBI.Kata kunci: ekstraksi garis pantai, nilai piksel, Peta RBIABSTRACTTechnologies in remote sensing give the effortless way in preparing data to build the coastline, especially for country which has vast areas of sea such as Indonesia. Coastline extraction from satellite imagery is one of alternatives to get the pixel values along the coastline. To find and determine the distribution pattern of pixel values along the coastline of sampel area in Genteng Bay and to determine the synchronization with the coastline of RBI Map are taken as the focus of this research. Landsat 4-5 TM with Band 5 is the satellite imagery which is used to separate land and water. The distribution pattern of pixel values is obtained through overlaying the extraction with the initial pixel values and RBI Map. It can be detected that distribution of boundary pixel values in sampel area show the random pattern, the maximum values is 242, while the minimum is 27 with range of 215. The range of water pixel values is 126 and 143 for the land. Besides, the coastline extraction almost coincides with RBI Map coastline.Keywords: extraction of coastline, pixel values, RBI Map
Pemodelan pada Proses Cyclostationarity Berdasarkan Data Pasut Cilacap Tahun 2007-2015 Cendani, Larasati S.; Perbani, N.M.R.R. Cahya; Sawitri, Kania
REKA GEOMATIKA Vol 2017, No 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (930.02 KB) | DOI: 10.26760/jrg.v2017i1.1460

Abstract

ABSTRAK Sesuai prosedur dalam penentuan MSL sejati, pengamatan pasut dilakukan secara terus-menerus selama 18,61 tahun dengan selang waktu satu jam tanpa jeda. Pengamatan pasut tersebut bukanlah suatu hal yang mudah dan hampir tidak dapat untuk dilakukan, MSL yang digunakan untuk kepentingan teknis umumnya ditentukan berdasarkan data pengamatan pasut periode pendek selama 15 atau 29 hari. Periode pendek tersebut memiliki keterbatasan dalam mengakomodasi seluruh faktor yang mempengaruhi MSL. Hipotesis pada penelitian ini MSL bulanan juga memiliki sifat cyclostationarity berdasarkan penelitian pasang tinggi di Benoa, Bali yang memiliki sifat yang sama. Penelitian ini bertujuan memodelkan terjadinya proses cyclostationarity untuk dijadikan sebagai model koreksi mean sea level bulanan dan untuk mengetahui variasi yang terjadi. Pemodelan dilakukan menggunakan fungsi gelombang dua konstanta pasut periode panjang Sa dan Ssa menggunakan analisis harmonik kuadrat terkecil melalui Deret Fourier. Dari penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa model gelombang yang dihasilkan sudah 80% mewakili perilaku MSL bulanan dan simpangan maksimum terhadap MSL bulanan rata-rata sebesar 245 mm. Kata kunci: MSL bulanan, cyclostationarity, fungsi gelombang ABSTRACT In procedure to determine the true mean sea level (MSL), hourly tide measurement should be taken for 18,61 years continuously. That such measurement is not simple and barely possible to establish. In most technical cases, MSL is determined from shot period measurement 15 or 29 days. The limitation of that such short period data is in accommodating all factors with action MSL. In this study the monthly MSL is a cyclostationarity process like spring tides in Benoa, Bali is taken as the hypothesis. This study directed to model cyclostationarity process to build the model of monthly MSL and to find it’s variation. The modeling is accomplished using wave function two long period constituents (Sa and Ssa). Least square harmonic analysis by means of Fourier series is applied. It is found that the wave model from this study represent about 80% of monthly MSL behavior and the average of maximum deviation is 245 mm. Keywords: monthly MSL, cyclostationarity, wave function
Studi Awal Desain Hull USV (Unmanned Surface Vehicle) untuk Pengukuran Batimetri di Perairan Tenang Azmar, Zulfikar Banu; Perbani, NMR Ratih Cahya
REKA GEOMATIKA Vol 2016, No 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (655.095 KB) | DOI: 10.26760/jrg.v2016i1.1837

Abstract

ABSTRAKUSV batimetri adalah wahana apung tanpa awak berdimensi kecil dan mudah dibawa untuk pengukuran batimetri. Penelitian ini bertujuan untuk mendesain bentuk hull USV yang stabil untuk keperluan survei batimetri di perairan tenang. Bentuk hull yang didesain berupa monohull yang dioperasikan di perairan tawar, hanya mempertimbangkan kestabilan statik vertikal untuk gerakan heave (yang disebabkan oleh bobot total USV) dan roll sudut kecil tanpa pengaruh angin dan arus. Hull USV didesain dengan panjang 1,64 meter; lebar 0,52 meter; dan tinggi total 0,26 meter di mana dua pertiga hull bagian bawah buritan berbentuk U dan sepertiga hull bagian bawah haluan berbentuk V. Draft rencana 0,08 m; 0,12 m; 0,16 m memiliki kestabilan statik vertikal yang baik dengan koefisien blok berkisar 0,68 - 0,71 sehingga dikategorikan sebagai kapal yang didesain bukan untuk kapal cepat. Bobot USV beserta muatan direkomendasikan antara 36 - 83 kg. Dari dimensi, bobot, dan koefisien blok yang cukup besar hull yang didesain dapat dikategorikan sebagai wahana apung tanpa awak berkecepatan rendah sehingga cocok untuk keperluan survei batimetri.Kata kunci: USV batimetri, heave, roll sudut kecil, draft.ABSTRACTBathimetric USV is a portable unmanned vehicle with small dimension which is capable of carrying out bathymetric measurements. This study is intended to design the stable USV hull for bathymetric surveys in calm waters. The hull is designed as a monohull and will be operated in freshwater, only consider the vertical static stability for heave motion (caused by the total weight of USV) and small angle roll without the influence of wind and currents. USV hull is designed with 1.64 meters length, 0.52 meters breadth, and 0.26 meters depth which has U-shaped at two-thirds of the aft hull bottom and U-shaped at one-third of fore hull bottom. The drafts plan of 0,08 m, 0,12 m, and 0,16 m have good vertical static stability with block coefficient from 0.68 to 0.71, so the designed USV is not classified as a fast ship. USV total weight is recommended between 36 to 83 kg. From the dimensions, weight, and large block coefficient the designed USV hull can be categorized as a unmanned vessel with low speed. Therefore, it is suitable for bathymetric USV.Keywords: bathimetric USV, heave, small angle roll, draft
Analisis Perbandingan Latency Hasil Patch Test dengan Latency Real Titik Fiks Perum pada Survei Hidrografi (Studi Kasus: Pelabuhan Tanjung Benoa Bali) Rizkian, Fakhri; Perbani, N.M.R.R. Cahya
REKA GEOMATIKA Vol 2017, No 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (524.547 KB) | DOI: 10.26760/jrg.v2017i1.1462

Abstract

ABSTRAK Latency merupakan perbedaan yang terjadi akibat ketidaksinkronan waktu antara alat perekaman posisi horizontal dengan kedalaman laut. Masalah latency muncul ketika lokasi pengukuran berkarakteristik slope. Latency real bersifat individual untuk setiap titik fiks perum, sementara latency hasil patch test sepanjang jalur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana koreksi latency hasil teknik patch test dapat memberikan model topografi di sepanjang jalur pengukuran yang sesuai dengan model topografi dengan latency real. Koreksi kedalaman akibat latency diperoleh menggunakan fungsi slope, kecepatan kapal, dan latency untuk diterapkan baik pada latency hasil patch test maupun latency real. Tren model topografi di Pelabuhan Tanjung Benoa, Bali dengan kecepatan lebih rendah (rata-rata 4,2 m/detik) lebih mewakili kondisi topografi sebenarnya. Nilai deviasi standar untuk kecepatan lebih rendah sebesar ±0,16 m dan untuk kecepatan lebih tinggi (rata-rata 6,2 m/detik) sebesar ±0,2 m yang masih memenuhi standar ketelitian kedalaman menurut SNI sebesar 0,28 m. Kata kunci: latency, patch test, model topografi   ABSTRACT Latencyis a difference occurred while horizontal position and depth measurement is taken unsynchronously. The bigger slope of sea bottom topography in measurement area, the bigger problem of latency that arise. Real latency in individualited for each sounding fixed point, while patch test gives an along track latency. This research is schemed for finding whether the correction of latency from patch test ensure the topography model along measurement track can be fitted with the model from real latency. Depth correction for latency is calculated as a function of slope, vessel speed, and latency. It is applied for both of latency from patch test and the real latency. The trend of topography model in Tanjung Benoa Port, Bali from measurement with slower speed (4,2 m/sec average speed) more represent the actual topography. Standard deviation for measurement with slower speed is ± 0,16 m ; while for faster speed (6,2 m/sec average speed) is 0,2 m. Both of the vessel speed still fullfil depth accuracy standard of SNI, that is under 0,28 m. Keywords: latency, patch test, topography model
Identifikasi Hazard dari Hasil Data Free Span pada Jalur Pipa Bawah Laut Lapangan Bekapai Menggunakan Data Multibeam Echosounder dan Side Scan Sonar Ravenska, Muhammad Biana; Cahya Perbani, Ni Made Rai Ratih
REKA GEOMATIKA Vol 2018, No 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (883.802 KB) | DOI: 10.26760/jrg.v2018i1.2669

Abstract

ABSTRAKLapangan Bekapai merupakan salah satu lapangan minyak yang memproduksi dan mendistribusikan minyak dan gas alam lewat pipa bawah laut. Untuk itu perlu dilakukan inspeksi secara berkala untuk meminimalkan terjadinya hazard baik yang berasal dari proses instalasi maupun dari proses operasi, di antaranya berupa free span. Penelitian ini menggunakan data multibeam echosounder (MBES) untuk mendapatkan data panjang dan posisi free span, sedangkan data side scan sonar (SSS) untuk interpretasi objek pipa dan perkiraan tinggi free span. Profil yang dibangun dari data MBES digunakan untuk memastikan adanya cekungan pada lokasi free span yang terdeteksi. Kriteria identifikasi hazard berupa free span pada jalur pipa bawah laut menggunakan DNV RP F-105 dengan panjang dan tinggi maksimum yang diperbolehkan adalah 14 meter dan 0,6 meter. Free span maksimum yang terdeteksi di lokasi penelitian memiliki panjang 9,2 meter dan tinggi 0,24 meter, yang masih dikategorikan aman atau tidak terjadi hazard pada pipa bawah laut di lokasi penelitian.Kata kunci: free span, multibeam echosounder, side scan sonar ABSTRACTBekapai Field has been known as one of the oil fields which produce and transport oil and natural gas through the subsea pipelines. It becomes so important to inspect periodically for minimizing the coming out of hazards, either during installation or operation process. One of the hazards is a free span. This research uses multibeam echosounder (MBES) data to specify the length and the position of free span, while side scan sonar (SSS) data is used to interpret the object of pipeline and to estimate the height of free span. Profiles that are builded from MBES data are used to ascertain the existence of a basin under the detected free span. DNV RP F-105 as the criteria of hazard identification for free span requires the maximum of length and height be allowed are 14 meters and 0.16 meters. The maximum free span detected at the research area has 9.2 meters length and 0.24 meters height, thus it can be stated as a safe condition category or there is no subsea pipelines hazards at the research area.Keywords: free span, multibeam echosounder, side scan sonar
Analisis Efektivitas Bangunan Pelindung Pelabuhan Patimban dan Pantai Sekitar Melalui Tinjauan Hidro-Oseanografi Jade, R. M. Rizkike; Cahya Perbani, Ni Made Rai Ratih; Handiani, D. N.
REKA GEOMATIKA Vol 2017, No 2
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1263.498 KB) | DOI: 10.26760/jrg.v2017i2.1769

Abstract

ABSTRAKPemerintah Indonesia akan membangun pelabuhan baru dengan hierarki Pelabuhan Utama sebagai penopang Pelabuhan Tanjung Priok yang direncanakan akan dibangun di Patimban, Kabupaten Subang. Pembangunan pelabuhan membutuhkan kajian aspek teknis, salah satu di antaranya adalah bangunan pelindung pelabuhan. Penelitian ini bertujuan melakukan tinjauan hidro-oseanografi yang terdiri atas analisis tinggi gelombang, pelayaran, dan sedimentasi di area rencana pembangunan Pelabuhan Patimban sebagai analisis efektivitas bangunan pelindung dermaga Pelabuhan Patimban dan pantai di sekitarnya. Berdasarkan analisis diperoleh bahwa gelombang (yang dapat mencapai tinggi 1,5 meter) dan sedimentasi (berupa akresi dan abrasi) menjadi faktor penting dalam mempertimbangkan pemilihan jenis bangunan pelindung pantai di Perairan Patimban. Struktur pelindung dermaga yang direncanakan dalam Rencana Induk Pelabuhan Patimban cukup efektif melindungi dermaga. Untuk pantai di sekitar pelabuhan direkomendasikan bangunan pelindung berupa jetty bertipe pendek untuk mengantisipasi pembelokan muara sungai yang diakibatkan aktivitas sedimentasi di muara Sungai Cipunagara dan penanaman hutan mangrove di sepanjang Pantai Patimban untuk mengatasi fenomena abrasi.Kata kunci: tinjauan hidro-oseanografi, bangunan pelindung pelabuhan, pelabuhan utamaABSTRACTGovernment of Indonesia plans to construct a new port as International Hub Port hierarchy which support Port of Tanjung Priok at Patimban, Subang District. The port construction needs technical aspects studies, such as coastal protection stuctures. This study aims to analyze the hydrooceanography factors (wave, vessel maneuverability, and sedimentation) on Port of Patimban plan area to find the effectivity of coastal protection stuctures to protect port and its coastal area. Based on analysis it is found that the wave (which can reach 1,5 metres high) and sedimentation (accretion and abrasion) will be the main factors to consider for determining the appropriate coastal protection structures in Patimban Waters. The coastal protection structures planned in the Patimban Port Master Plan are quite effective at protecting the port. For the Port of Patimban coastal area, protective building in the form of short-type jetty is recommended to anticipate the deflection of Cipunagara River estuary caused by sedimentation. Besides that, planting mangroves along Patimban coastline will overcome the abrasion problem.Keywords: hidro-oceanography consideration, coastal protection structures, international hub port
Penerapan Model Deformasi Horizontal Mogi untuk Prediksi Perubahan Volume Sumber Tekanan pada Gunungapi Guntur SETYA, APRIS; C. PERBANI, N. M. R. RATIH; ROSADI, UMAR
REKA GEOMATIKA Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/jrg.v1i2.349

Abstract

ABSTRAK Gunungapi Guntur merupakan gunungapi aktif yang memiliki potensi bencana letusan yang berulang, maka aktivitasnya perlu diamati secara kontinu. Informasi lokasi dan perubahan volume sumber tekanan sangat bermanfaat dalam pemantauan aktivitas gunungapi. Model Mogi [Mogi, 1958] dapat digunakan dalam penentuan perubahan volume sumber tekanan. Penelitian ini ditujukan untuk menentukan parameter-parameter Model Mogi berupa jarak radial antara titik pantau terhadap sumber tekanan, kedalaman sumber tekanan menggunakan gridding, dan perubahan volume sumber tekanan menggunakan teknik kuadrat terkecil. Kedalaman sumber tekanan ditentukan dalam rentang 5 sampai dengan 10 km dengan interval 1 km. Parameter jarak radial sumber tekanan terhadap titik-titik pantau diambil dari Kawah Masigit terhadap tiga titik pantau (Citiis (CTSG), Masigit (Msgt) dan Sodong (SODN)) periode Februari 2012 s.d April 2013. Teknik kuadrat terkecil diterapkan untuk penentuan parameter perubahan volume sumber tekanan. Hasil deformasi horizontal Model Mogi diuji kemiripannya dengan hasil pengukuran menggunakan goodness of fit χ2. Berdasarkan hasil pengujian didapatkan nilai best fit pada kisaran kedalaman 5 km. Pola perubahan volume pada umumnya bersifat periodik, dengan periode antara dua setengah sampai dengan tiga bulan dengan nilai fluktuasi yang beragam. Kata kunci: Model Mogi, gridding, kuadrat terkecil, goodness of fit χ2 ABSTRACT Mount Guntur is vulcano active and has the potential disaster eruption could happen then activity Guntur vulcano need observed continuously. Information about the location and volume changes source pressure will be very beneficial in monitoring activities Guntur vulcano. Model mogi [ mogi, 1958] is one model that can be used in the determination volume changes source pressure. Least square adjustment worn to solving parameters volume changes source pressure, while parameters depth source pressure using methods gridding in range depth 5 s.d 10 km by intervals 1 km and parameters distance radial source pressure upon observation points taken from Masigit crater. With the data deformation toward the horizontal on observation points citiis ( ctsg ), masigit ( msgt), and sodong ( sodn ) period february 2012 - april 2013. Deformation horizontal results model mogi will be done testing similarities data with deformation horizontal result of measurement GPS using goodness of fit χ2 method. Result goodness of fit χ2 method produce the best value lies in the depth around 5km Pattern of volume changes in general be periodic, with a period between two a half to three months  with a variety of value fluctuations. Keywords: Guntur Vulcano, Least Square Adjusment Mogi Models, volume changes source pressure
Estimasi Kedalaman Pusat Tekanan dan Volume Magma dari Hasil Perbandingan Nilai Maksimum Deformasi Horizontal dan Vertikal Hasil Pengamatan GPS Real-Time Kontinu KURNIA, HARRI DWI; C. PERBANI, N. M. R. RATIH; ROSADI, UMAR
REKA GEOMATIKA Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/jrg.v1i2.350

Abstract

ABSTRAK Gunungapi Sinabung yang terletak di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara terakhir meletus pada tahun 2010 sehingga perlu dilakukan pemantauan deformasi sebagai  antisipasi terhadap bahaya letusan. Model Mogi menggunakan perbandingan dari deformasi horizontal dan vertikal untuk mengestimasi kedalaman pusat tekanan untuk selanjutnya mengestimasi volume material dapur magma. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengestimasi kedalaman pusat tekanan dan volume material dapur magma Gunungapi Sinabung dengan menggunakan perbandingan nilai maksimum dari jarak horizontal, deformasi horizontal, dan deformasi vertikal. Pemantauan yang dilakukan dengan pengamatan GPS real time kontinu pada titik tiga pantau, yaitu Gurukinayan (GRKI); Lawukawar (LWKR); dan Sukanalu (SKNL). Deformasi horizontal dan vertikal yang digunakan adalah yang memiliki nilai kurang dari 0,5 meter. Hasil dari nilai maksimum deformasi horizontal adalah 0,410 meter; nilai maksimum deformasi vertikal adalah 0,326 meter; dan nilai maksimum dari jarak horizontal adalah 9.446,963 meter. Dari hasil perhitungan tersebut didapatkan nilai kedalaman pusat tekanan estimasi adalah 11.358,887 m ≈ 11,4 km dengan simpangan baku ± 412,925 m ≈ ± 0,4 km dari puncak kawah Gunungapi Sinabung dan hasil volume magma estimasi Gunungapi Sinabung adalah 266.155.980,655 m3 dengan simpangan baku ± 6.574.227,425 m3. Kata kunci: Model Mogi, nilai maksimum, kedalaman pusat tekanan estimasi, volume magma estimasi ABSTRACT Mount Sinabung located at Karo Regency, North Sumatra last erupted at 2010 therefor need to be conducted a deformation monitoring as an anticipation of an eruption hazard. Mogi Model uses the comparison of horizontal deformation and vertical deformation to estimate the depth of pressure source for henceforth estimate the volume of magma chamber. The propose of this research is for estimate depth of pressure source and volume of magma chamber of Mount Sinabung using the comparison of horizontal distance; horizontal deformation;  and vertical deformation. These monitoring is conducted with real-time continue GPS observation on the three of monitoring point, there is Gurkinayan (GRKI), Lawukawar (LWKR); dan Sukanalu (SKNL). Horizontal and vertical deformation were used which has the value less than 0.5 meter. The result from the average of maximum value of horizontal deformation is 0.410 meter; average of maximum value of  vertical deformation is 0.326 meter; average of maximum value of  horizontal distance is 9,446.963 meters. From the result of those calculating is obtained the estimation value of the pressure source depth is 11,358.887 m ≈ 11,4 km with standart deviation is ± 412.925 m ≈ ± 0.4 km from the crater peak of Mount Sinabung and magma volume estimation of Mount Sinabung is 266,155,980.655 m3 with standart deviation is ± 6,574,227.425 m3 Keywords: Mogi Model, maximum value, depth of pressure source, magma volume