Lusianah Meinawati
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Body Mass Index (BMI) and Special History on the Event of Gestasional Preeclampsia Study in Jombang District Health Center Lusianah Meinawati
Indian Journal of Forensic Medicine & Toxicology Vol. 15 No. 3 (2021): Indian Journal of Forensic Medicine & Toxicology
Publisher : Institute of Medico-legal Publications Pvt Ltd

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37506/ijfmt.v15i3.15836

Abstract

Background: The most common cause of maternal death in Indonesia is direct obstetric causes, namely28% bleeding, 24% preeclampsia-eclampsia, 11% infection, while indirect causes are obstetric trauma 5%and others 11%. Preeclampsia is hypertension that arises after 20 weeks of pregnancy accompanied byproteinuria. Preeclampsia ranks second cause of maternal death after bleeding.Purpose: The study aims to analyze body mass index (BMI) and spesific history of the preeclampsiagestasional events.Method: The research was conducted with Cross Sectional research type. The study was conducted inthe working area of Jombang Regency in February dd July 2019. The population in this study were allpregnant women with preeclampsia who conducted examinations in independent practice midwives inFebruary, March 2019 totaling 168 pregnant women. Total sampling technique. The research instrumentused a questionnaire with the value of Cronbach’s Alpha 0.862.Results:The results of the analysis showed that the independent variables associated with the incidence ofpreeclampsia were Body Mass Index with p-value 0.003; Exp (B); 11,234, variable history of hypertensionin pregnancy with p-value 0,000; Exp (B); 11,387, and diabetes variable with p-value 0,003; Exp (B); 11,334.Body mass index in the obesity category, history of hypertension and diabetes are the biggest contributingfactors to the incidence of preeclampsia in pregnancy.Conclusion: The study concluded that history of hypertension and diabetes are the biggest contributingfactors to the incidence of preeclampsia in pregnancy.
Upaya Peningkatan Produksi ASI melalui Pijat Woolwich dan Massage Rolling pada Ibu Nifas 1 Minggu Post Partum Nurlia Isti Malatuzzulfa; Lusianah Meinawati; Hidayatun Nufus
Jurnal Kebidanan Vol 12 No 1 (2022): Jurnal Kebidanan Edisi Maret 2022
Publisher : ITSKES Insan Cendekia Medika Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35874/jib.v12i1.999

Abstract

Salah satu faktor yang menyebabkan kegagalan pemberian ASI eksklusif adalah rendahnya tingkat kepercayaan ibu bahwa produksi ASI ibunya tidak dapat memenuhi kebutuhan nutrisi bayinya. Upaya yang dapat dilakukan untuk merangsang hormon prolaktin dan oksitosin dalam meningkatkan produksi ASI pada ibu nifas 1 minggu post partum yaitu dengan memberikan pijat Woolwich dan Massage rolling dalam keadaan santai. Tujuan menganalisis kombinasi metode pijat Woolwich dan Massage Rolling untuk meningkatkan produksi ASI pada ibu nifas 1 minggu post partum. Desain penelitian quasi eksperimental design. Pada penelitian ini dua kelompok eksperimen diberikan perlakuan dengan memberikan pijat Woolwich dan kelompok lain diberikan perlakuan massage rolling. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu nifas 1 minggu post partum di Wilayah Kerja Bidan Lilis Suryawati Kabupaten Jombang. Pengambilan sampel dengan menggunakan metode consecutive sampling jumlah sampel sebanyak 30 responden dengan perbandingan 1:1 dimana 15 ibu nifas sebagai kelompok pijat Woolwich, dan 15 kelompok diberikan massage rolling. Hasil: Berdasarkan hasil uji statistik Wilcoxon di dapatkan p-Value 0,000 dan 0,004. Dari nilai p-Value yaitu 0,000 (<0,005) menunjukkan ada pengaruh yang signifikan antara kedua metode pijat Woolwich dan massage rolling terhadap peningkatan produksi ASI. Pemberian kombinasi pijat Woolwich dengan Massage rolling lebih efektif meningkatkan produksi ASI. Bidan mengajarkan kepada ibu dan keluarga untuk meningkatkan produksi ASI sehingga cakupan pemberian ASI eksklusif dicapai di bidang Pusat Kesehatan Penelitian.