Indah Asikin Nurani
Balai Arkeologi Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Karakter Budaya Gua Kidang Hunian Prasejarah Kawasan Karst Pegunungan Utara Jawa Indah Asikin Nurani
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 19 No 1 (2016)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1693.936 KB) | DOI: 10.24832/sba.v19i1.19

Abstract

AbstractThus far the karst area of the Northern Mountains of Java only has very few traces of occupation caves. investigations carried out by foreign researchers, particularly the ones from the Dutch, cover a number of caves in Situbondo, Tuban, and Bojonegoro. The interpretation made in relation to the results of investigations in the karst area of the Northern Mountains of Java show the distinct characteristics of maritime culture, which are artifacts and ecofacts, including marine and freshwater fauna. Aside from that, vertebrates were also found as artifacts and ecofacts. The cultural characteristics of habitation caves in the karst area of the Northern Mountains of Java differ from those in the Southern Mountains of Java, particularly Gunung Sewu (Thousand Mountains). Gua Kidang (Kidang Cave) is located in the karst area of Blora, and until now it is the only cave which shows indications that it was intensively inhabited for a long period of time. The cultural remains at that cave provide comprehensive information about the human occupation in their effort to survive. This article tries to reconstruct the living pattern of the inhabitants of Gua Kidang in exploring the surrounding environment to find food sources and raw materials to make their daily implements. The studies to reveal the problems include technological, geoarchaeological, and palaeoanthropological studies. This research employs descriptive-explanative method with inductive reasoning, while the approach is spatial archaeology. AbstrakKawasan karst pegunungan utara Jawa selama ini minim jejak budaya gua hunian. Penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti asing khususnya orang Belanda, meliputi gua-gua di Situbondo, Tuban, dan Bojonegoro. interpretasi yang disusun sehubungan dengan hasil penelitian di kawasan karst Pegunungan Utara Jawa memberikan kekhasan karakter budaya pantai yaitu temuan baik artefak maupun ekofak dari fauna marin dan air tawar. Selain itu, fauna vertebrata juga ditemukan baik sebagai artefak maupun ekofak. Hal yang menjadi karakter budaya gua hunian di kawasan karst Pegunungan Utara Jawa berbeda dengan di kawasan karst Pegunungan Selatan Jawa khususnya di Gunung Sewu. Gua Kidang berada di kawasan karst Blora, yang sampai saat ini merupakan satu-satunya gua yang membuktikan indikasi dihuni secara intensif dalam kurun waktu yang panjang. Jejak budaya yang ditinggalkan memberikan informasi lengkap tentang okupasi manusia penghuninya dalam mempertahankan hidup. Tulisan ini akan memberikan gambaran rekonstruksi pola hidup manusiapenghuni Gua Kidang dalam mengeksplorasi alam sekitarnya, baik dalam mencari sumber makan maupun sumber bahan baku untuk peralatan sehari-hari. Kajian untuk mengungkap permasalahan meliputi kajian teknologi, geoarkeologi, dan paleoantropologi. Tulisan ini menggunakan metode deskriptif – eksplanatif dengan penalaran induktif. Pendekatan yang digunakan adalah arkeologi keruangan.
GUA KIDANG, HUNIAN GUA KALA HOLOSEN. DI DAS SOLO Indah Asikin Nurani; Agus Tri Hascaryo
KALPATARU Vol. 24 No. 1 (2015)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kidang Cave is a habitation of prehistoric people, which has been studied by the Yogyakarta Archaeological Centre since 2005 and still continues until now. A survey over the surface of the karst region of Blora reveals that Kidang Cave is the only habitable cave based on the morphology of the land, circulation of sunlight, slant, humidity, and surface finds. Thisarticle tries to explore and unveil traces of the site location that serves as a chronological bridge of continuity between the Pleistocene and the Holocene cultures, which is still obscure. In addition, it is interesting to note that further study is needed pertaining to the location of the cave, which is surrounded by Pleistocene sites that during the last research in 2013 has shed some light on that matter. The methods employed here are excavation at Kidang Cave and analyses on archaeological finds, stratigraphy, and the environment. Based on results of seven times of researches, it can be concluded that Kidang Cave had been intensively inhabited by prehistoric people and contains wide-ranging finds, which include artifacts, features, and ecofacts, as well as skeletons of Homo sapiens Gua Kidang merupakan hunian manusia prasejarah yang diteliti Balai Arkeologi Yogyakarta sejak tahun 2005 dan masih berlanjut sampai sekarang. Berdasarkan survey permukaan di seluruh kawasan karst Blora, Gua Kidang adalah satu-satunya gua yang layak huni. Hal tersebut didasarkan pada morfologi lahan, sirkulasi sinar matahari, kemiringan, kelembaban, serta temuan permukaan. Tujuan penulisan ini adalah untuk menelusuri dan mengungkap jejak lokasi situs yang menjembatani kesinambungan antara kebudayaan Pleistosen dan Holosen yang masih gelap. Selain itu, menarik untuk dikaji lebih jauh adalah lokasi gua ini dikelilingi situssitus Pleistosen, yang pada hasil penelitian terakhir pada tahun 2013, memberikan titik terang. Metode yang digunakan adalah ekskavasi di Gua Kidang dan analisis terhadap temuan-temuan arkeologis, stratigrafi dan lingkungan. Berdasarkan hasil penelitian selama tujuh kali, disimpulkan bahwa Gua Kidang merupakan gua yang intensif dihuni manusia prasejarah dengan tinggalan yang lengkap, berupa artefak, fitur, dan ekofak, serta rangka Homo sapiens.