Dyah Hidayati
Balai Arkeologi Sumatera Utara

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Kubur Etnis Nias di Kepulauan Batu dan Kaitannya dengan Penguburan di Pulau Nias Bagian Selatan Dyah Hidayati
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 17 No 2 (2014)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (932.671 KB) | DOI: 10.24832/bas.v17i2.81

Abstract

AbstractBatu islands are rich for archaeological potentials, relevant to the varied ethnicity. Nias ethnic, one the ethnics inhabiting Batu islands, has drawn several intriguing questions on how they used to treat the dead and what relevance the funeral ceremony rites had with those practiced in Southern Nias where Nias ethnic inhabiting Batu islands originated. This research is a direct observation survey supported by interviews whose data analysis is through library studies and comparative studies by comparing research objects found with those of Nias island and other cultures in Indonesia. Some data acquired in this research, such Nias ancient tombs in Hayo island, Tanah Masa, Sigata, Memong, Marit, and Biang, generally described how Nias ethnic inhabiting  Batu islands practiced a mixed open primary and secondary funeral system using wooden coffins without burial. Such funeral system by Nias ethnic in Batu islands was found to bear similarities with that of Southern Nias. Thus, it can be concluded that generally Nias ethnic in Batu islands still practiced the same funeral tradition as the place of origin did.AbstrakPotensi arkeologis di Kepulauan Batu cukup beragam, terkait dengan keberagaman etnis yang mendiami pulau-pulau di wilayah itu. Sehubungan dengan eksistensi etnis Nias di kepulauan Batu, ada dua hal yang menarik untuk dibahas dalam tulisan ini, yaitu bagaimanakah di masa lalu etnis Nias yang mendiami gugusan Kepulauan Batu memberikan perlakuan terhadap orang yang meninggal dunia; dan apakah cara-cara yang dilakukan tersebut memiliki kesamaan dengan cara penguburan yang dikenal di bagian selatan Pulau Nias, sebagai daerah asal etnis Nias di Kepulauan Batu? Penelitian ini merupakan sebuah kegiatan survei melalui metode observasi langsung, yang didukung dengan wawancara. Dalam analisis data digunakan metode komparatif, yaitu membandingkan objek penelitian dengan yang terdapat di bagian selatan Pulau Nias, serta temuan sejenis di wilayah budaya lainnya di Indonesia. Selain itu juga digunakan studi pustaka sebagai penunjang. Data-data yang diperoleh dalam penelitian ini berupa kubur kuno etnis Nias yang terdapat di Pulau Hayo, Tanah Masa, Sigata, Memong, Marit, dan Biang, yang secara umum dapat menggambarkan bahwa di masa lalu etnis Nias yang bermukim di Kepulauan Batu menerapkan sistem penguburan campuran primer dan sekunder terbuka dengan menggunakan wadah peti dari kayu tanpa proses pengebumian. Cara tersebut ternyata juga memiliki persamaan dengan yang digunakan oleh etnis Nias di Pulau Nias bagian selatan yang diketahui sebagai daerah asal etnis Nias yang bermukim di Kepulauan Batu. Dengan demikian dapat ditarik benang merah bahwa secara umum etnis Nias di Kepulauan Batu masih menerapkan budaya penguburan yang sama dengan budaya penguburan yang dikenal di daerah asalnya.
Fungsi dan Makna Simbolis Kursi Batu dan Replika Kursi Kayu Pada Masyarakat Nias Dyah Hidayati
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 16 No 1 (2013)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.677 KB) | DOI: 10.24832/bas.v16i1.108

Abstract

AbstractChairs are commonly interpreted as man-made tools for sitting. Others may uniquely assign certain social or religious interpretations upon the shape of a chair. This paper specifically discusses stone chairs and wooden chair replica in Nias, which are represented by findings in South Nias, especially at the villages of Hilimondregeraya, Bawömataluo, dan Hilisimaetanö. Thus, such question of what are the symbolic functions and meanings of stone chairs and wooden chair replica for Nias people from the aspects of materals, ornaments, dimensions, and positioning is the subject matter of this paper. The paper is aimed at answering the proposed question above through a survey (observation) method supported by a library study. Having been thorugh data analysis, it is concluded that the symbolic function and meaning of th stone chair and wooden chair replica are closely related to the aspects of material, ornament, dimension, and positioning. Material determining is merely of a technical reason. Sculptured ornaments symbolize grandness, nobility, and power. The dimension aspect of the stone chair, on one hand, has a normal size that suggests a functionalty as a sitting place, while the wooden chair replica on the other hand functionas a base for the statue adu zatua. The positioning aspect tells of the display of the stone chair among other megalith stones strecthing in front of the house and the wooden chair being sculptured at the wall completing the interior omo sebua. The stone chair generally functions as a seating place. In Hilisimaetano, for insance, the stone chair specifically is used for a tribe traditional leader presiding a traditional meeting. The wooden chair replica, on the other hand, embodies a quite different significance as a base or a throne of the ancestor statue adu zatua as well as an aesthetical meaning as an interior decorator omo sebua Bawömataluo. Furthermore, the stone chair in Nias has a symbolic meaning as a social status. The ornament at the wooden chair replica symbolizes a high social status of the owner. As a matter of fact, the shape resembling a throne suggests symbolically a higher position as it bears a hope for the ancestor spirit to reach an important place in his afterlife as he attained in his earthly life.AbstrakSecara umum kursi dimaknai sebagai benda buatan manusia yang berfungsi sebagai tempat duduk. Namun secara khusus bentuk kursi juga bisa mengandung fungsi sosial maupun religi tertentu. Ruang lingkup tulisan ini adalah kursi batu dan replika kursi kayu di Nias, yang terwakili oleh tinggalan-tinggalan yang terdapat di wilayah Nias Selatan khususnya di Desa Hilimondregeraya, Bawömataluo, dan Hilisimaetanö. Permasalahan yang dimunculkan dalam tulisan ini adalah: apakah fungsi dan makna simbolis kursi batu dan replika kursi kayu pada masyarakat Nias ditinjau dari aspek bahan, ornamen, dimensi, dan keletakannya? Tujuan dari penulisan ini adalah menjawab permasalahan yang telah dikemukakan di atas melalui metode survei (observasi) yang didukung oleh studi pustaka. Setelah melalui tahap analisis data, diperoleh kesimpulan bahwa fungsi dan makna simbolis kursi batu dan replika kursi kayu pada masyarakat Nias terkait erat dengan aspek bahan, ornamen, dimensi, dan keletakannya. Pemilihan bahan terkait dengan alasan teknis semata. Ornamen yang dipahatkan menyimbolkan kebesaran, kebangsawanan, dan kekuasaan. Dari aspek dimensi, kursi batu memiliki ukuran normal yang dapat digunakan sebagai tempat duduk, sedangkan kursi kayu berupa replika dan berfungsi sebagai tempat untuk meletakkan patung adu zatua. Dari aspek keletakan, kursi batu berada di antara batu-batu megalitik lainnya yang berderet di halaman depan rumah, sedangkan kursi kayu dipahatkan di dinding yang melengkapi interior omo sebua. Fungsi kursi batu secara umum adalah sebagai tempat duduk. Lebih khusus lagi kursi batu di Hilisimaetanö digunakan sebagai tempat duduk bagi pemuka adat yang akan memimpin musyawarah adat. Sedangkan replika kursi kayu memiliki fungsi yang berbeda, yaitu sebagai dudukan atau singgasana patung leluhur adu zatua serta berfungsi estetis sebagai penghias interior omo sebua Bawömataluo. Makna simbolis kursi batu di Nias adalah sebagai simbol status sosial. Pada replika kursi kayu, ornamen yang terdapat pada objek tersebut juga menyimbolkan status sosial yang tinggi dari pemiliknya. Sedangkan bentuk menyerupai singgasana raja secara simbolis juga menyiratkan kedudukan yang tinggi karena hal itu merupakan harapan bahwa roh leluhur tersebut dapat mencapai kedudukan yang sama seperti di masa hidupnya.
“Kotak Emas”, Pahatan Relung Pada Dinding Tebing Lae Tungtung Batu di Dairi, Sumatera Utara Dyah Hidayati
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 15 No 2 (2012)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3315.112 KB) | DOI: 10.24832/bas.v15i2.122

Abstract

AbstractNiches at the walls of edge of Lae (river) Tungtung Batu have been known by the local people as “the golden box”. The naming, without sufficient scientific proofs, refers to its profane function as storage of valuable items. The question is: is the object of a profane or sacred function? A theory proposes that a megalithic structure that was built for the worship of ancestors, either as a tomb or supplementary worship, supported by a comparative study of similar findings in different areas with the same cultural background, results in different interpretations of the functions of the niches that were previously connoted to a storage for valuable things now are of a burial reason. Similar objects found in Samosir, Deli Serdang, Karo and Tana Toraja are currently interpreted as sarcophagus. The niches in Tuntung Batu share similar characteristics of sarcophagus with those in other areas in North Sumatra and Indonesia. It is contextually supported with the presence of other objects in Tuntung Batu such as pertulanen and mejan that are related with burial and stones of tunggul nikuta candi and perisang manuk and the statue of pangulubalang that is of a mystical purpose to give the people protection.AbstrakPahatan relung-relung pada dinding tebing batu Lae (sungai) Tungtung Batu oleh masyarakat setempat dikenal dengan sebutan “kotak emas”. Penamaan ini merujuk kepada fungsi profannya sebagai tempat penyimpanan benda-benda berharga, namun tanpa ditunjang oleh bukti-bukti ilmiah yang cukup memadai. Masalah yang dikemukakan adalah : apakah objek tersebut memang memiliki fungsi profan seperti tersebut di atas ataukah berfungsi sakral ? Mengacu pada teori bahwa suatu bangunan megalitik didirikan terkait dengan pemujaan terhadap leluhur, baik sebagai kuburan ataupun sebagai pelengkap pemujaan, serta didukung dengan studi komparatif dengan temuan sejenis di beberapa daerah lainnya dengan latar budaya yang sama, menghasilkan interpretasi yang berbeda tentang fungsi relung-relung tersebut yang sebelumnya dikaitkan dengan tempat penyimpanan benda berharga menjadi lebih mengarah kepada fungsi penguburan. Objek sejenis yang antara lain ditemukan di Samosir, Deli Serdang, Karo dan Tana Toraja saat ini diinterpretasikan sebagai jenis kubur pahat batu. Karakteristik relung-relung di Tungtung Batu sangat sesuai dengan karakteristik jenis kubur pahat batu baik yang terdapat di Sumatera Utara aupun di daerah lainnya di Indonesia. Secara kontekstual hal itu diperkuat dengan keberadaan objek-objek lainnya di Tungtung Batu yaitu pertulanen dan mejan yang terkait dengan penguburan serta batu tunggul nikuta candi, batu perisang manuk serta patung pangulubalang yang lebih bersifat mistis terkait dengan perlindungan kepada masyarakat.
Gajah, Interaksinya dengan Pendukung Tradisi Megalitik di Sumatera Utara Dyah Hidayati
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 14 No 2 (2011)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3379.155 KB) | DOI: 10.24832/bas.v14i2.146

Abstract

AbstractSuch wild and powerful beasts,elephants are feared by men. Many of them live in the Sumatra jungle. As more of their habitat are threatened by more intense human activities, elephants impose a similar menace against men’s safety. As beasts, elephants also interract baturally with men. Not only do men interract naturally with elephants but also they use them for various purposes. A descriptive-comparative study, this writing is aimed at exploring explanatiosn on questions of how elephants and megalith men in north Sumatra interracted. Such interractions may have been either positive or negative relationships of power or prestige. The use of elephants was a means of transportation as well as other uses of economic purposes.AbstrakGajah merupakan hewan yang hidup di belantara Sumatra. Sebagai hewan liar yang memiliki kekuatan besar gajah sangat ditakuti oleh manusia. Apalagi setelah habitat hidupnya terganggu oleh aktivitas hidup manusia yang semakin intens, gajah semakin sering mengancam keselamatan manusia. Walaupun merupakan hewan liar, gajah juga berinteraksi dengan manusia. Selain berinteraksi secara alami manusia juga memanfaatkan gajah untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Dengan mengkaji secara deskriptif-komparatiff tulisan ini menggali jawaban atas pertanyaan mengenai bentuk-bentuk interaksi antara gajah dengan manusia pendukung tradisi megalitik di Sumatra Utara. Interaksi tersebut dapat bersifat positif ataupun negatif berupa hubungan religi, hubungan yang berkaitan dengan simbolisasi kekuasaan dan kekuatan, serta prestise. Sedangkan pemanfaatan yang dilakukan adalah pemanfaatan sebagai moda transportasi serta pemanfaatan secara ekonomis.
Batu Boraspati dan Batu Kelang, Keterkaitannya dengan Kehidupan Agraris Masyarakat Pakpak Dyah Hidayati
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 14 No 27 (2011)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1204.053 KB) | DOI: 10.24832/bas.v14i27.157

Abstract

AbstractPakpak community belief that there is spirit have control their land, Beraspati ni Tano. To show their mutual respect to that, they make lizard or flying lizard ornament on their traditional house and also symbolize that with lizard or flying lizard stone statue. At the rice planting season, they run the ritual for plentiful harvest hoping.