Deni Sutrisna
Balai Arkeologi Sumatera Utara

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Jembatan Kebajikan ( Chen Tek ): Objek Bersejarah Perekat Antaretnis di Kota Medan Deni Sutrisna
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 15 No 1 (2012)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3533.462 KB) | DOI: 10.24832/bas.v15i1.135

Abstract

AbstractA city, an essentially gathering place of a society with various activities, must include such aspects of spaciousness, density, social heterogeneity, market, administrative function, a source of life, and culture elements that differentiate it from other social groups outside it. Medan is a city with a diverged cultural element, which is not only observable from the people life but also building heritage. The bridge of wholesome is a structure that describes an inter-ethnic unity, which is realized in an inscription containing a variety of language and alphabets on its fence. Pioneered by a Chinese benefactor, the bridge is now in a very pathetic condition being threatened by the modernization of Medan. This research, using qualitative and inductive reasoning, is aimed at solving a question of how the architecture and the spirit of multi-ethnicity of the bridge came into existence. Data investigation is conducted through library data research and field observation.AbstrakSebuah kota hakekatnya adalah tempat bagi berkumpulnya masyarakat dengan beragam aktivitasnya. Selain itu kota juga mencakup unsur-unsur keluasan, kepadatan, heterogenitas sosial, pasar, fungsi administratif, sumber kehidupan, dan unsur budaya yang membedakan dengan kelompok sosial yang ada di luarnya. Salah satu kota dengan keragaman unsur budaya adalah Kota Medan, dan unsur tersebut bukan hanya tercermin dari kehidupan masyarakatnya, juga ada pada tinggalan materi bangunannya. Jembatan Kebajikan merupakan jembatan yang menggambarkan pembauran antar etnis yang terwujud dalam bentuk prasasti dengan ragam huruf dan bahasa pada bagian pagarnya. Jembatan yang digagas pembangunannya oleh tokoh dermawan etnis Tionghoa yaitu Tjong Yong Hian kini kondisinya mengkhawatirkan terdesak oleh derap pembangunan kota Medan. Bagaimana arsitektur dan semangat multi etnis bisa muncul pada jembatan objek sejarah itu, merupakan permasalahan dalam penelitian ini. Metode penelitian kualitatif dengan alur penalaran induktif diterapkan dalam penelitian. Adapun penelusuran data dilakukan dengan pemanfaatan data kepustakaan dan observasi di lapangan.
Angklung, Perkembangannya dari Masa ke Masa Deni Sutrisna
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 12 No 23 (2009)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/bas.v12i23.202

Abstract

AbstractAngklung, is one of the instrument made of bamboo which’s popular in west Java, had been known since the Clasic era (around 9 to 14 century). At first, angklung was used in traditional ceremony that related with agriculture, such as:ritual to Dewi Sri. Now, angklung is as an instrument for entertaining.
Peunayong, Kampung Lama Etnis Cina di Kota Banda Aceh Deni Sutrisna
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 11 No 21 (2008)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2643.434 KB) | DOI: 10.24832/bas.v11i21.228

Abstract

AbstractSince 17 th century, Peunayong was became big Chinese trading area in Banda Aceh. The big disaster on December 2004, earthquake and tsunami was destroyed a lot of building in Banda Aceh, and also Peunayong, China Town in Northern Banda Aceh. Now, The China Town remains are ruko’s. Its become a data to describe the cultural history procces in Peunayong.
Rumah Panggung Melayu, Bentuk Adaptasi di Kawasan Lahan Basah Pesisir Timur Sumatera Utara Deni Sutrisna
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 11 No 22 (2008)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (937.766 KB) | DOI: 10.24832/bas.v11i22.242

Abstract

AbstractMost of the Malay live in wetland ecosystem area in eastern coastal of north Sumatera which one of their cultural characteristics is storeyed house. It is adaptation strategy to its environment, especially at wetland to avoid flooding effects.
Kopi: Komoditas Unggulan dari Masa Kolonial di Dataran Tinggi Gayo Kabupaten Aceh Tengah Deni Sutrisna
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 10 No 20 (2007)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/bas.v10i20.254

Abstract

AbstractCoffee is a commodity that has an important value for trading. In the Gayo Highland, Aceh Tengah, coffee isn’t just known by it’s taste, it’s existence since Dutch colonial era has sprung new villages in Aceh Tengah region.
Ruko dalam Sejarah Arsitektur Kota Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai, Provinsi Sumatera Utara Deni Sutrisna
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 10 No 19 (2007)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (692.725 KB) | DOI: 10.24832/bas.v10i19.265

Abstract

AbstractRuko as one of architectural city tipologies that have been contributed in the historical of Indonesian cities, included Perbaungan City, North Sumatera. In its journey until now, ruko appeared with many different image, in fact often becoming a part of disorganized in a city.