Lia Nuralia
Balai Arkeologi Bandung

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Bekas Depo Stasiun Kereta Api Purwakarta: Puing-Puing Kemegahan Bangunan Kolonial di Purwakarta Lia Nuralia
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 14 No 2 (2011)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3344.458 KB) | DOI: 10.24832/bas.v14i2.149

Abstract

AbstractBuilt in 1902 as Purwakarta facility railway station, Depo of Purwakarta railway station, located in purwakarta sub-district, Purwakarta regency represents one of old colonial buildings. Maintaining its originality as a colonial building, this depo station is a rectangular gothic building. This building has more than just an ex-depo station with its historical values contained within. In recent developments, this depo building has experienced various changes of functionality and ownership.Buildings dated from the dutch colonialism era bear unique styles of shape perspective and typical architectural. A unique combination of europe-dominated and indonesian traditional styles creates an Indies architecture design.AbstrakDepo dari Stasiun Kereta Api Purwakarta diwakili salah satu bangunan kuno masa kolonial. Depo yang terletak di Kecamatan Purwakarta, Kabupaten Purwakarta. Dibangun pada tahun 1902 sebagai Stasiun Kereta Api fasilitas Purwakarta. Masih sebagai bangunan kolonial asli, memiliki denah empat persegipanjang dan dibangun dengan gaya gothic. Selain sebagai bekas stasiun kereta api Depo, itu menjadi saksi bisu sebagai sejarah di Purwakarta Kota, karena jenis tindakan peristiwa bersejarah di dalamnya. Dalam perkembangan selanjutnya, bangunan ini adalah perubahan fungsional dan kepemilikan.Bangunan kolonial memiliki keunikan tersendiri, jika dilihat dari perspektif bentuk dan gaya arsitektur yang khas. Dominasi pengaruh gaya Eropa dicampur dengan gaya tradisional Indonesia, membuat bangunan kolonial memiliki gaya arsitektur yang menggambarkan perpaduan antara arsitektur Eropa dan lokal atau gaya arsitektur Indies.
PERKOTAAN KOLONIAL PADA ABAD XIX - XX, DI KOTA SERANG, BANTEN; KAJIAN ARKEOLOGI-HISTORIS Lia Nuralia
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 5, No 1 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 1 MARCH 2013
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (718.506 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v5i1.151

Abstract

AbstrakTulisan ini bertujuan memberi gambaran tentang perkotaan kolonial di Kota Serang pada zaman Pemerintahan Hindia Belanda (Abad XIX-XX), dilihat dari perspektif arkeologis dan historis. Dengan menggunakan metode penelitian arkeologi (survei permukaan) dilengkapi dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara (sejarah lisan), dapat diketahui bahwa pada masa kolonial Belanda telah terjadi perubahan wilayah permukiman di Kota Serang yang cukup pesat dan siginifikan, sehingga penting diungkapkan ke permukaan. Perubahan terjadi terutama dalam pembagian wilayah perkotaan dan fungsi bangunan. Secara umum wilayah permukiman di Kota Serang ketika itu terbagi ke dalam 3 bagian wilayah, yaitu: pemukiman, perkantoran, dan perdagangan. Pembagian ini sebagai hasil kajian melalui bangunan lama periode kolonial dan tinggalan budaya materi lainnya yang masih ada sekarang. Seiring dengan pembagian wilayah tersebut, juga telah terjadi perubahan bentuk dan gaya arsitektur bangunan menjadi bergaya Indis atau pencampuran antara gaya Eropa dan gaya lokal. Hal ini tampak pada bentuk bangunan tinggi, dinding tebal, bentuk atap joglo, memiliki teras atau koridor di sepanjang bangunan atau pada sebagian luar bangunan. Selain perbahan secara fisik, perubahan non fisik juga terjadi ditandai dengan adanya perubahan pola sikap atau perilaku. Masyarakat Kota Serang menjadi lebih terbuka terhadap masuknya unsur budaya asing. Juga lebih toleran terhadap perbedaan kebiasaan antar etnis yang beragam dalam masyarakat heterogen. AbstractThe aim of this research is to describe the colonial urban in Serang, Banten during the Dutch colonial era (19th – 20th century), based on historical remains and material culture as well. By conducting archaeological method (surface survey) and interview (oral history) it is found that there was a rapid and significant change in residence areas then, especially in zoning the urban areas and function of buildings. Generally, Serang was divided into three zones: residential, office, and commercial. Along with that zoning, there were also changes in the architecture of buildings, combining both local and European styles, called Indische style. It is seen in the form of high-rise buildings, thicker walls with joglo style for the roof, terraces or corridors along the building or outside the building. Beside physical changes, there were also non-physical changes in term of behavioural patterns. The inhabitants of the city became more open to foreign culture and more tolerant in building relationship with other heterogeneous ethnic groups.
KEARIFAN LOKAL BERDASARKAN TINGGALAN BUDAYA DI SITUS PARUMASAN CIAMIS Lia Nuralia
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 3, No 1 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 1 MARCH 2011
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5313.835 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v3i1.271

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan menginventarisasi tinggalan budaya di Situs Parumasan Ciamis yang berhubungan dengan aspek kearifan lokal pada masyarakat tradisional yang tinggal di sekitar situs. Fokus kajian ditujukan pada tinggalan budaya materi dan non materi dalam konsepsi budaya masa lalu, termasuk pengelolaan lahan yang disakralkan dan yang lebih bersifat profan bagi masyarakat sekitar, yang diterapkan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Penelitian ini menggunakan metode penelitian budaya, dengan pendekatan arkeologis secara deskriptif dan penalaran induktif. Cara pengumpulan data dilakukan dengan survei atau pengamatan langsung terhadap Situs Parumasan. Untuk memahami lebih jauh pandangan masyarakat terhadap keberadaan Situs Parumasan, dilakukan pula wawancara dengan Juru Kunci Parumasan dan masyarakat setempat. Hasil penelitian menunjukkan adanya kearifan lokal berdasarkan tinggalan arkeologis, makna ritual keagamaan, dan upacara adat di antaranya terjaganya kelestarian alam dan keberlangsungan hidup yang nyaman dan aman. AbstractThe purpose of this research is to make an inventory of cultural heritages in the site of Parumasan in Ciamis that has a relationship to the local wisdom of traditional community that lives around the site. The foci are material and non-material cultural heritage that lived in old times, including sacred-land management and a more profane ones that applied to their daily life. The author has conducted a cultural research method with archaeological approach, either desciptively or inductively. Data were obtained by surveying or observing Parumasan site. Interview with juru kunci (key person) of Parumasan was also perfomed in order to get data about the perspective of the site from the community’s point of view. The result is that there is local wisdom based on archaeological heritage, religious rites and adat ceeremony resulting in conservation of the nature as well as a peaceful life.
KALIGRAFI ISLAM PADA DINDING MASJID KUNA CIKONENG ANYER-BANTEN: KAJIAN ARTI DAN FUNGSI Lia Nuralia
Berkala Arkeologi Vol 37 No 1 (2017)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (696.792 KB) | DOI: 10.30883/jba.v37i1.82

Abstract

The aim of this paper is to understand the meaning and function of Islamic calligraphy (Arabic calligraphy) on the walls of the Cikoneng ancient mosque, Anyer-Banten. Descriptive with interpretation method is used to make the systematic description. Islamic calligraphy is found on the upper walls of the Cikoneng mosque inside the men's and the women's prayer room, consist a quotations of the Holy Qur'an and the Hadist of the Prophet. The conclusion is that Islamic calligraphy as decoration contains meaning and function through nonverbal language, which is adapted to the social conditions of Cikoneng society in the Dutch era.