Ambo Asse Ajis
Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

RAMNI—ILAMURIDESAM: KERAJAAN ACEH PRA-SAMUDERA PASAI Ambo Asse Ajis
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 20 No 2 (2017)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/bas.v20i2.280

Abstract

Dalam catatan sejarah dari Arab dan Cina pada abad IX--XIII Masehi menyebutkan dua nama kerajaan di ujung utara pulau Sumatera, yaitu Ramni (Ramin) dan Ilamuridesam (Lamuri). Bagaimana perkembangan dan kondisi dua kerajaan yang tergambarkan dalam catatan asing tersebut? Dengan mengetahui gambaran kedua kerajaan tersebut diharapkan dapat melengkapi sejarah Aceh yang selama ini tidak menyebutkan eksistensi keduanya. Metode yang digunakan untuk mengungkap sejarah tersebut adalah dengan menganalisis catatan asing yang menceritakan tentang Ramni dan/atau Ilamuridesam (Lamuri). Simpul-simpul informasi yang diperoleh dari data tersebut digunakan sebagai bahan untuk menggambarkan perkembangan dan kondisi kedua kerajaan tersebut. Hasil analisis data yang telah dilakukan menunjukkan bahwa Kerajaan Ramni merupakan kerajaan awal di Aceh dan masyarakatnya masih menyembah berhala. Nama Kerajaan Ramni kemudian diubah oleh Raja Rajendracola I menjadi Ilamuridesam karena beberapa alasan. Dalam catatan asing tersebut juga tergambar bahwa Ilamuridesam merupakan lokasi penting dalam jalur perdagangan internasional di Selat Malaka dan penduduknya beragama Hindu.
TINJAUAN KESEJARAHAN PANAI BERDASARKAN SUMBER TERTULIS Ambo Asse Ajis
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 21 No 1 (2018)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.389 KB) | DOI: 10.24832/bas.v21i1.320

Abstract

Panai disebutkan pada prasasti Tanjore (1030 M), Nagarakertagama (1365 M) pupuh XIII bait 1, dan catatan perjalanan berbahasa Armenia, berjudul ―Nama Kota-Kota India dan Kawasan Pinggiran Persia” (sekitar tahun 1667 M). Sumber tertulis di atas tidak menjelaskan kedudukan Panai sebagai kerajaan atau sekadar bandar saja. Tujuan penulisan ini adalah melihat kedudukan historiografi Panai berdasarkan tiga sumber tertulis di atas dan memberi perspektif baru atas kedudukan Panai sebagai sebuah kerajaan atau hanya bandar dagang. Metode yang digunakan adalah kualitatif- deskriptif dengan memanfaatkan data-data tertulis seperti prasasti, kitab lama, dan catatan perjalanan kuna. Panai selain sebagai bandar perdagangan juga berkembang sebagai kerajaan dengan penguasa setempat yang diakui oleh Sriwijaya, Malayupura, Colamandala, dan Majapahit.