Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

GUA TOGI BOGI, HUNIAN BERCIRI MESOLITIK DI NIAS (PERBANDINGAN DENGAN SITUS GUA TOGI NDRAWA) Ketut Wiradnyana
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 9 No 18 (2006)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1911.651 KB) | DOI: 10.24832/bas.v9i18.341

Abstract

Togi Bogi's one of the caves which located up to the hill around 75 metres from the surface of the sea. There was also an archaeological remains such as artefact and ecofact inside it, that had the same characteristics which was found in Togi Ndrawa’s cave. From the excavation, it’s found mollusk and other lithics that described the culture of the megalithic’s area. The result of the dating analysis using radiocarbon method on the mollusk and cinder indicated the activities at Togi bogi's cave, Nias was about on 4960 ± 130 BP untill 950 ±110 BP
SISTEM PENGUBURAN DI TANAH KARO DARI MASA PRASEJARAH HINGGA KINI Ketut Wiradnyana
Forum Arkeologi VOLUME 24, NOMOR 3, NOVEMBER 2011
Publisher : Balai Arkeologi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3009.804 KB) | DOI: 10.24832/fa.v24i3.303

Abstract

Paradigma Perubahan Evolusi Pada Budaya Megalitik di Wilayah Budaya Nias Ketut Wiradnyana
Kapata Arkeologi Vol. 11 No. 2, November 2015
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v11i2.289

Abstract

The culture area of Nias covers an island, which is Nias Island, and is divided into a number of culture sub-areas. Every culture sub-area consists of several villages, each with its distinct cultural elements. This discussion is aimed at understanding the differences of Nias culture from one village to the others, whether or not they are from one genealogy. The inter-village differences are not merely related to temporal aspect but also to cultural values, social structures and social functions. For that reason, description of cultural elements becomes the main phase, before they are interpreted. Depiction of differences of cultural elements from one village to the others, with structural and functional aspects as their background, will reflect the external and internal factors in an evolutionary cultural change. Therefore the inter-village cultural differences in Nias belong to a paradigm of evolutionary change like what was meant by Talcott Parsons.Wilayah budaya Nias itu meliputi satu pulau yaitu Pulau Nias. Di dalam wilayah budaya dimaksud terbagi atas subwilayah budaya. Pada sebuah subwilayah budaya, terdiri dari beberapa perkampungan, yang masing-masing  memiliki unsur-unsur budaya yang berbeda. Berkenaan dengan itu, tujuan pembahasan ini di antaranya adalah memahami perbedaan kebudayaan Nias antarperkampungan, baik di dalam satu genealogi ataupun tidak. Perbedaan antarkampung dimaksud tidak hanya berkaitan dengan aspek waktu tetapi juga, nilai budaya, faktor struktur sosial dan fungsi sosialnya. Berkenaan dengan itu maka uraian unsur kebudayaan menjadi tahapan utama, untuk selanjutnya diinterpretasikan. Gambaran perbedaan unsur kebudayaan antarkampung dengan aspek struktur dan fungsi yang melatarbelakanginya akan menggambarkan faktor eksternal dan internal pada sebuah perubahan evolusioner kebudayaan. Berkenaan dengan itu maka  perbedaan kebudayaan antarkampung di Nias merupakan  sebuah paradigma  perubahan evolusioner seperti apa yang dimaksud oleh Talcott Parsons.
ARTEFAK NEOLITIK DI PULAU WEH: BUKTI KEBERADAAN AUSTRONESIA PRASEJARAH DI INDONESIA BAGIAN BARAT Ketut Wiradnyana
Naditira Widya Vol 6 No 1 (2012): April 2012
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (430.363 KB) | DOI: 10.24832/nw.v6i1.79

Abstract

Abstrak. Hinga kini peninggalan artefak masa neolitik di Indonesia bagian barat sangat sulit ditemukan, sehinggasejumlah ahli arkeologi meragukan adanya aktivitas pendukung budaya Austronesia di kawasan ini. Namun, kapakbatu yang ditemukan di situs Loyang Mendale dan Loyang Ujung Karang menunjukkan karakteristik morfologis danteknologi alat batu neolitik. Berdasarkan jenisnya yang berupa kapak lonjong, kapak persegi dan belincungmenunjukkan aktivitas kebudayaan prasejarah Austronesia pernah berlangsung di Pulau Weh. Fakta tersebutmenguatkan asumsi adanya migrasi masyarakat pendukung budaya Austronesia ke Pulau Weh. Oleh karenamasih terbatasnya data pembabakan kronologis prasejarah di Pulau Weh, maka penelitian ini dilakukan denganmembandingkan karakteristik kapak batu yang ditemukan di kawasan Indonesia bagian barat lainnya. Hasil kajianini menunjukkan bahwa Pulau Weh memiliki posisi geografis strategis yang potential sebagai daerah kunjungan danlingkungan yang menguntungkan untuk lokasi pemukiman. Di lain pihak, kapak batu Pulau Weh menunjukkankarakteristik yang khas berupa perkawinan morfologi dan teknologi antara kapak lonjong dan kapak persegi.
BUDAYA PRASEJARAH PADA BUKIT KERANG PANGKALAN, AKAR PLURALISME DAN MULTIKULTURALISME DI PESISIR TIMUR PULAU SUMATERA Ketut Wiradnyana
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 2, No 2 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 2 JUNE 2010
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.463 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v2i2.221

Abstract

AbstrakUpaya meningkatkan pemahaman masyarakat akan Pluralisme dan multikulturalisme di pesisir timur Pulau Sumatera dapat dilakukan dengan penyebarluasan hasil penelitian arkeologis. Metode penelitian arkeologis yang holistik dalam satu kawasan yang disertai pemanfaatan hasil penelitian arkeologis di kawasan lainnya melalui perbandingan data di antaranya akan memberikan informasi proses plural dan multikultural yang telah terjadi pada suatu masyarakat. Akar pluralisme dan multikulturalisme dari sejak masa prasejarah terungkap melalui hasil penelitian di Situs Bukit Kerang Pangkalan yang menunjukkan adanya migrasi yang disertai tiga budaya besar yang berlangsung di daerah tersebut yakni budaya prahoabinh, hoabinh dan pasca hoabinh. Data arkeologis pada situs-situs di sekitar Bukit Kerang Pangkalan menunjukkan adanya migrasi kelompok manusia beserta budayanya dari budaya besar lainnya, seperti budaya Neolitik dengan kapak persegi dan gerabahnya dan budaya Dongson dengan artefak perunggunya. AbstractDisseminating the result of archaeological research in the east coast of Sumatera would make a better understanding of pluralism and multiculturalism. A holistic archaeological approach and a comparative study were conducted in this research. We came into conclusion that the root of pluralism and multiculturalism traced back to prehistoric times was revealed through our research in the bukit kerang (kitchen midden) of Pangkalan. From this site we know that there was a human migration that brought three great cultures to the site: the pre-hoabinhian, the hoabinhian, and the post-hoabinhian cultures. Archaeological records from the vicinity has shown us that there were migrations of another human group who brought neolithic culture as well as bronze artifacts of Dongson culture.
MIGRASI AUSTRONESIA PROTOSEJARAH KE PULAU SAMOSIR DAN PERANNYA PADA KEBUDAYAAN DI WILAYAH SEKITARNYA Ketut Wiradnyana
Tumotowa Vol 1 No 1 (2018): Tumotowa
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/tmt.v1i1.8

Abstract

Samosir Island in the middle of Lake Toba, a central area of Toba Batak culture. Prehistoric cultural aspect that is very prominent in the Batak Toba culture is a megalithic culture in the form of ancestor worship concept, container graves and various shades of decorative patterns. variety of shapes, materials and decorative patterns have in common with shades of megalithic culture in Sulawesi. Based on the cultural pattern that develops and research results in the area of prehistoric Austronesian in the surrounding area indicate that migration to the island of Samosir in the period Austronesian protohistory. The indicated migration of Sulawesi in the early AD. Since the Toba Batak society plays an important role in the cultural assimilation with the surrounding area. it can be determined based on the study of archaeological and ethnographic approach through deductive reasoning eksplanatif.
PERKEMBANGAN RELIGI PRASEJARAH: TRADISI MASYARAKAT GAYO Ketut Wiradnyana
AMERTA Vol. 33 No. 1 (2015)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Keberadaan religi pada masyarakat Gayo sudah berlangsung sejak masa prasejarah. Pemahaman religi pada masa itu diketahui dari sisa aktivitas yang di antaranya masih dikenali dari sisa penguburan di Situs Loyang Mendale dan Loyang Ujung Karang. Pola penguburan dan bekal kubur di situs dimaksud merupakan hal yang paling jelas menunjukkan adanya konsep religi di masa Prasejarah. Di dalam prosesnya telah menunjukkan adanya perkembangan dari bentuk yang sederhana ke hal yang lebih kompleks, namun beberapa bagian dari religi lama tampaknya masih dianut hingga ke masa-masa kemudian. Untuk memahami perkembangan religi tersebut, maka identifikasi tinggalan arkeologis, baik yang berupa sisa penguburan kerangka manusia, artefak ataupun fitur menjadi pusat kajian. Dalam konsep religi akan dilakukan pendekatan etnoarkeologi, sehingga secara umum dapat dikatakan bahwa pemahaman akan religi menggunakan alur induktif yang merupakan bagian dari metode penelitian kualitatif. Sejalan dengan itu dilakukan juga wawancara mendalam dalam upaya mendapatkan konsep-konsep religi lama yang masih dikenal oleh masyarakat Gayo. Metode tersebut akan menghasilkan pemahaman religi dari masa prasejarah hingga kini dan beberapa bagian dari konsepsi lama yang masih dikenal masyarakat dalam konteks religi di masa kini. Kata Kunci: Penguburan, Konsep religi, Prasejarah, Tradisi Abstract. Prehistoric Religion Development: Gayo Communities Tradition. Religion lived out by Gayo communities has been practiced since the prehistoric period. The religion of that period is evidenced from remains of activities, among others from burial remains at Loyang Mendale and Loyang Ujung Karang Sites. Burial patterns and funeral gifts are the most apparent evidences of the existence of religion concept during the prehistoric period. The process shows a development from simple form to more complex ones, but some aspects of ancient religion can still be found in later periods. In an attempt to understand it, identification of archaeological remains in forms of burial remains such as human remains, artifacts, and features are used as the focus of study, and ethnoarchaeological approach will be employed in this study on the concept of religion. Thus, in general it can be said that this attempt to understand religion will use inductive flow, which is part of qualitative research method. Interviews will also be carried out to acquire concepts of ancient religions that are still recognized among the Gayo communities. This method will generate a comprehension on religions from the prehistoric period until nowadays, with ancient conceptions that are still known among contemporary communities. Keywords: Burial, Concept of religion, Prehistory, Tradition