Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Paradigma dan Metode Pendidikan Anak dalam Perspektif Aliran Filsafat Rasionalisme, Empirisme, dan Islam Mohammad Siddiq; Hartini Salama
Jurnal Pendidikan Agama Islam Al-Thariqah Vol. 3 No. 2 (2018): Jurnal Pendidikan Agama Islam Al-Thariqah
Publisher : UIR Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (758.785 KB) | DOI: 10.25299/althariqah.2018.vol3(2).2308

Abstract

Memahami realitas paradigma pendidikan yang beragam dalam kebudayaan manusia sama saja dengan memahami eksistensi manusia itu sendiri. Setiap paradigma menunjukkan tujuan serta bagaimana proses penyelenggaraan pendidikan dilaksanakan di masyarakat. Kajian literatur (studi pustaka) ini berupaya untuk memahami bagaimana Pendidikan anak itu ditinjau dari aspek paradigma dan metode pendidikan anak dalam perspektif aliran rasionalisme dan empirisme serta perbandingannya dengan paradigma pendidikan anak dalam pandangan Islam yang ditinjau dari Al-Qur’an dan sosial historis. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa Empirismemelihat manusia lahir seperti kertas kosong (tabula rasa) yang memosisikan anak sebagai objek pendidikan. Adapun Rasionalisme melihat manusia lahir dengan membawa potensi (innate knowledge) yang memosisikan anak menjadi subjek dari pendidikan. Berbeda dengan pendidikan dalam perspektif Islam yang memandang anak sebagai makhluk Allah SWT yang diberikan segenap potensi akal untuk mengenali penciptanya.
TINDAK TUTUR DAN PEMEROLEHAN PRAGMATIK PADA ANAK USIA DINI Mohammad Siddiq
KREDO : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Sastra Vol 2, No 2 (2019): JURNAL KREDO VOLUME 2 NO 2 TAHUN 2019
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (564.427 KB) | DOI: 10.24176/kredo.v2i2.2868

Abstract

Manusia dilahirkan di dalam dunia sosial dimana mereka harus bergaul dengan manusia lain yang ada disekitarnya. Sejak awal hidupnya seorang individu sudah bergaul sosial dengan orang terdekat, meskipun bentuknya masih satu arah, seperti orang tua berbicara dan bayi hanya mendegarkan saja. Dalam perkembangan hidup selanjutnya, bahasa diperoleh sedikit demi sedikit. Pada saat yang sama individu tersebut dibawa ke dalam kehidupan sosial di mana terdapat rambu-rambu perilaku kehidupan. Sebagian dari norma-norma ini tertanam dalam bahasa sehingga kompetensi anak tidak hanya terbatas pada pemakaian bahasa (laguage usage)  tetapi juga penggunaan bahasa (language use). Dengan kata lain, anak harus pula menguasai kemampuan pragmatik. Penelitian tindak tutur pada anak usia dini yang ditinjau dari aspek pragmatik ini berfokus pada aspek lokusi, ilokusi dan perlokusi, disamping itu melihat pula bagaimana pemerolehan pragmatik yang mencakup (1) perolehan niat komunikatif dan pengungkapan bahasanya, (2) pengembangan kemampuan bercakap dengan segala urutannya, dan (3) pengembangan piranti untuk membentuk wacana yang kohesif.
Profesionalisme Militer pada Pemerintahan Soeharto dan Abdurrahman Wahid Mohammad Siddiq
Madani Jurnal Politik dan Sosial Kemasyarakatan Vol 11 No 1 (2019): Februari 2019
Publisher : Universitas Islam Darul Ulum Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (839.481 KB) | DOI: 10.52166/madani.v11i1.1267

Abstract

The reforms that rolled out in 1998 were one of the important momentum in the history of civil-military relations in Indonesia. The thick political and bureaucratic culture of military domination in the 32 years of Soeharto's reign with Dwi The function of his ABRI turned to Abdurrahman Wahid's government which put forward civilian supremacy especially in terms of politics and bureaucracy to be interesting to discuss. This study is a comparison of the role of the military during the Soeharto government and Abdurrahman Wahid's administration with a historical social qualitative approach. The findings indicate that the New Order government regime tended to be authoritarian in that the power rested on one President who was able to control military power to maintain power, whereas during Abdurrahman Wahid's administration system tended to shift towards a more democratic regime. Through this study, it can be concluded that in the transition to a democratic regime, restructuring the role of the military in political life is an important prerequisite that must be carried out.
Etnografi Sebagai Teori Dan Metode Mohammad Siddiq; Hartini Salama
Kordinat: Jurnal Komunikasi antar Perguruan Tinggi Agama Islam Vol 18, No 1 (2019): Jurnal Komunikasi Antar Perguruan Tinggi Agama Islam
Publisher : Kopertais Wilayah I DKI Jakarta dan Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kordinat.v18i1.11471

Abstract

Memahami masyarakat manusia merupakan suatu upaya yang selalu menarik untuk dilakukan. Di tengah-tengah upaya tersebutlah, etnografi hadir. Etnografi ditinjau secara harfiah dapat berarti tulisan atau laporan tentang suatu suku bangsa. Ciri khas dari metode penelitian lapangan etnografi ini adalah sifatnya yang menyeluruh dan terpadu (holistic-integratif), deskripsi yang kaya (thick description) dan analisa kualitatif dalam rangka mendapatkan cara pandang pemilik kebudayaan (native’s point of view). Umumnya etnografi digunakan oleh sebagian peneliti untuk memahami kebudayaan lain (other cultures). Sedangkan, sebagian lain berpendapat bahwa etnografi telah menjadi alat yang fundamental untuk memahami masyarakat kita sendiri dan masyarakat multikultural di seluruh dunia. Dalam tradisi pengetahuan Islam, sejenis deskripsi etnografi dapat kita temukan dalam berbagai literatur, misalnya deskripsi kebudayaan yang ditulis Ibnu Battutah seorang pengembara (traveler), petualang (adventurer), dan pengamat (viewer) pada abad ke XIII dalam perjalanannya mengelilingi dunia dan berinteraksi dengan berbagai kebudayaan lain. Selain Ibnu Bathuthah, ada pula ilmuan muslim bernama Ibnu Khaldun, seorang filosof, ahli sejarah, dan politikus abad ke XIV yang pemikirannya terus digulirkan dan menjadi bahan kajian dalam berbagai diskursus pemikiran sosial politik kontemporer. Berangkat dari pengalaman dan pengamatannya yang tajam, Ibnu Khaldun merajut pikiran-pikiran kritis tentang hal-hal yang berkaitan dengan sistem kemasyarakatan dan kenegaraan berikut kritik-kritik inovatif terhadap cakupan sejarah sebagaimana tertuang dalam karya besarnya Muqaddimah yang merupakan pengantar dari kitab Al Ibar.
MANFAAT TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI DALAM METODE BERCERITA Mohammad Siddiq; Hartini Salama; Ahmad Juma Khatib
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol. 24 No. 2, Desember 2020
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32550/teknodik.v24i2.496

Abstract

Cerita atau dongeng semestinya berada pada posisi pertama dalam mendidik etika kepada anak. Mereka cenderung menyukai dan menikmatinya, baik dari segi ide, imajinasi, maupun peristiwa-peristiwanya. Jika hal ini dapat dilakukan dengan baik, cerita akan menjadi bagian dari seni yang disukai anak-anak, bahkan orang dewasa. Dalam hal pendidikan anak, khususnya tentang bercerita, penting bagi orang tua dan guru untuk memilih cerita dan cara penyampaian kepada anak-anak secara tepat. Perkembangan teknologi masa kini tentu dapat mendukung cara penyapaian cerita agar lebih menarik lagi bagi anak. Penelitian yang menggunakan pendekatan paradigma kualitatif dengan metode telaah pustaka (literature study) ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang bagaimana memilih cerita, dan bagaimana cara menyampaikannya pada anak dengan memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Berdasarkan kajian ini, dapat diketahui bahwa pemanfaatan TIK dalam mendukung penyampaian cerita sekurangnya memiliki dua aspek, yaitu efek visual dan efek audio. Oleh karena itu, pencerita hendaknya dapat mempelajari bagaimana merancang dan memanfaatkan TIK tersebut secara optimal untuk menyampaikan cerita.Stories or tales should be in the first position in educating ethics to children. They tend to like and enjoy it, in terms of the ideas, imaginations, as well as events. If this can be done well, story will be a part of the art that the children, and even the adults, love. In child education, especially in storytelling, it is important for parents and teachers to choose stories and ways of delivering them to the children properly. The development of today’s technology can certainly support the ways of storytelling to be more interesting to children. The objective of this research is to get understanding on how to choose stories and on how to deliver them to the children by using Information and Communication Technology (ICT). This research applies qualitative paradigm approach with the method of literature study. Based on this study, the use of ICT in storytelling has at least two aspects, namely visual and audio effects. Therefore, the storytellers should be able to learn how to design and use ICT to deliver stories optimally.