AbstrakKemajuan teknologi informasi dan mulai “membaiknya” tingkat perekonomian rataratapenduduk Indonesia, ikut meningkatkan kuantitas serta kualitas kehidupan mereka.Pertumbuhan dan kecanggihan gadget kadang tidak memberi kesempatan bagi penggunanyauntuk menggunakan dan menikmati kecanggihan tersebut. Baru beberapa saat gadget canggihtersebut dimiliki dan belum semua aplikasi yang tertanam di gadget tersebut digunakan,sudah datang dan muncul seri baru yang lebih canggih dengan aplikasi yang lebih beragamdan menghibur. Televisi dengan materi audiovisualnya yang juga semakin menghibur danmemanjakan mata penontonnya seakan tidak mau kalah untuk menyuguhkan budaya glamour,konsumtif, instan, dan sekali lagi menghibur. Demikianlah bangsa ini dalam setiap detik denyutnapas hidupnya tiada henti dijejali dengan hiburan, hiburan, sekali lagi hiburan yang dangkal,artifisial, dan semu. Ketika dunia Barat mencapai kemajuan bangsanya melalui proses revolusiindustri bangsa Indonesia mencapai dan memperoleh kemajuan hanya pada tingkat penggunadan pola pikir konsumtif. Tidak berlebihan ada pernyataan yang menyebutkan bahwa bangsaIndonesia ini sudah terjajah untuk ketiga kalinya. Dijajah oleh industri kapitalisme globaldengan teknologinya sehingga budaya, kearifan lokal, nurani serta olah rasa dan pikiran darimanusia Indonesia semakin tergerus. Bahkan untuk disebut sebagai intelektual yang ilmiahrakyat dari bangsa ini harus mengerti dan memahami bahasa mereka, sebaliknya bangsaBarat tersebut dengan leluasa berkeliaran di negeri ini dengan berbagai kepentingan tidakdiharuskan mengerti, memahami, dan berbicara dalam bahasa Indonesia. Budaya malu, tepaselira, saling memahami, dan menghargai dalam memaknai perbedaan juga semakin hilangdalam kehidupan bermasyarakat dan juga dalam bernegara. Gagap teknologi, bukan dalamartian tidak mampu menggunakan dan mengoperasikan hasil kemajuan teknologi, tetapi lebihpada ketidakmampuan dalam memanfaatkan kemajuan teknologi tersebut secara cerdas,beretika, dan bertanggung jawab. Inilah fenomena budaya yang sedang terjadi di negara yangmemiliki falsafah Pancasila dengan semboyannya Bhinneka Tunggal Ika. Virtual Reality: Hyperconsumerism, Hypertext, Hypermedia, Hypereality. Advancesin information technology and started “improving” the average rate of the economy ofIndonesia’s population, helps to improve the quantity and the quality of their lives. But thegrowth and sophistication of gadgets sometimes do not provide an opportunity for users touse and enjoy the sophistication. New gadgets while it is held, and not all applications areembedded in the gadget is used, has come and appear more sophisticated new series with amore diverse applications and entertaining. Television with audio-visual materials are alsomore entertaining and pleasing to the eye as if the audience does not want to lose to presentthe glamor culture, consumerism, instant and once again entertaining. Thus this nation inevery second breath of life relentless beats crammed with entertainment, amusement oncemore entertainment shallow, artificial and superficial. When the western world nation achieveprogress through the industrial revolution of the Indonesian nation reach and make progressonly at the level of the user and consumer mindset. No exaggeration there is a statement that says that the Indonesian nation has been occupied for the third time. Colonized by globalcapitalism with the technology industry to culture, local wisdom, conscience and if the heartsand minds of the Indonesian people increasingly eroded. Even for the so-called scientificintellectual people of this nation should know and understand their language, otherwisethe western nations to freely roam the country with a variety of interests are not requiredto understand, comprehend spoken in Indonesian. Culture of shame, tepo seliro, mutualunderstanding and respect of understanding of the difference is also getting lost in the societyand also in the state. Stuttering technology, not in the sense of not being able to use andoperate the result of advances in technology, but rather the inability to take advantage ofthe technological advances in intelligent, ethical and responsible.It’s a cultural phenomenonthat is happening in a country that has a philosophy of Pancasila with the motto of Unity inDiversity.