This Author published in this journals
All Journal JOGED
Waode Muriani Ekasari Virno Bolu
Program Seni Tari, Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

BAWINE: KARYA TARI YANG TERINSPIRASI PADA CITRA PEREMPUAN BUTON Waode Muriani Ekasari Virno Bolu
Joged Vol 13, No 2 (2019): OKTOBER 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (676.307 KB) | DOI: 10.24821/joged.v13i2.3598

Abstract

Bawine dalam bahasa Buton berarti perempuan. Karya tari ini terinspirasi dari sosok perempuan Buton yang ditulis dalam buku Perempuan dalam Khabanti yang sangat ingin melakukan segala sesuatu sesuai dengan keinginannya tetapi dibatasi oleh aturan tradisi yang tidak membolehkan wanita bekerja, bersekolah, dan menentukan jodohnya sendiri. Karya ini juga dikaitkan dengan keadaan perempuan Buton saat ini yang bebas menentukan jalan hidup dan memilih hak untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Tari Bawine ditarikan oleh tiga penari wanita yang masing-masing memiliki peran masing-masing. Penari pertama menggambarkan perempuan yang masih terkungkung, penari kedua menggambarkan wanita tradisi yang menjadi pisau bedah untuk ke luar dari aturannya, dan penari ketiga menggambarkan perempuan dari generasi sekarang yang bebas menentukan pilihannya. Bawine is a Buton language which means female. This dance work is inspired by the female figure of Buton written in the book Perempuan in Khabanti, who is keen to do everything with his desire but is limited by traditional rules that do not allow women to work, go to school, and determine their own soul mates. This work is also associated with today's women who are free to determine the way of life and choose the right to continue their education at a higherlevel. Bawine dance is danced by three female dancers who each have their roles / characters. 1) dancers who describe their constraints, 2) dancers who describe traditional women who become scalpels to get out of their rules, and 3) dancers who describe women who have been associated with the present who are free to make their choices.