ABSTRAK“Ligas” merupakan koreografi kelompok yang ditarikan oleh penari laki-laki dan perempuan. Karya ini terispirasi dari pengamatan penata terhadap keadaan agraris masa kini di pulau Belitung. Keadaan petani ladang terlihat sangat miris, karena gagal panen yang terjadi di tahun 2019 akibat kemarau dan pencemaran lingkungan dari pertambangan. Pertambangan yang semakin marak membuat tanah dan air di pulau Belitung menjadi tercemar. Garapan tari kontemporer ini, berakar dari budaya Melayu Belitung, yang mengangkat dilematis perjuangan hidup petani dalam mengais bulir-bulir padi jenis Gogo. Tipe karya garapan ini adalah tari Dramatik, dengan mode simbolis. Karya ini terdiri, introduksi yang menggambarkan situasi bumi yang awalnya subur hingga menjadi gersang. Adegan 1, menggambarkan aktivitas bercocok tanam di ladang. Adegan 2, terjadi konflik lahan pertanian menjadi rusak akibat pertambangan. Adegan 3, petani berusaha memperbaiki keadan dengan sekuat tenaga. Ending, seluruh penari melakukan pesta panen padi sebagai rasa syukur dengan menari Sepen secara berpasang-pasangan. ABSTRACT “Ligas" was a group choreography that is danced by male and female dancers. This work was inspired by stylist's observations of the current agrarian situation in the Belitung area. Farmers looked very concerned because the harvest failure that occurred in 2019 due to drought and environmental pollution that occurred due to mining activities. Contemporary dance arose from the Belitung Malay culture which raised the dilemma of farmers' life struggles in scavenging grains of Gogo rice. This type of work was a Dramatic dance, with a symbolic fashion. This work consists of an introduction that illustrated the situation of a fertile earth to become arid. Scene 1, described farming activities in the field. Scene 2, a conflict in agricultural land became damaged due to mining. Scene 3, the farmer tried to improve his condition with all his strength. Ending, all dancers hold a rice harvest party as a thanksgiving by dancing in half in pairs.