This Author published in this journals
All Journal JOGED
Yohanes Surojo
ISI Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KESENIAN BANGILUN SAMIGALUH : KAJIAN KEHADIRAN DAN PERUBAHAN BENTUK PENYAJIANNYA Yohanes Surojo; Bayu Puji Santosa; Winarsi Lies Apriani
Joged Vol 18, No 2 (2021): OKTOBER 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v17i2.6347

Abstract

RINGKASANPenelitian dengan judul “Kesenian Bangilun Samigaluh Kajian Perubahan Bentuk Penyajiannya" ini menganalisis bentuk perubahan seni pertunjukan khususnya kesenian Bangilun. Mengapa “perubahan bentuk” perlu diteliti, sebab kesenian tari ini unik sekali koreografinya berbeda dengan tarian lainnya. Keunikan tarian ini terletak pada konsep dasar gerak tari yang didasarkan syairnya. Gerakan tari muncul setelah ada apa syair lagunya. Sesuai dengan fungsinya dahulu syair lagu yang disusun untuk kepentingan dakwah dan isinya ajaran hidup manusia telah lebih dulu ada dari pada gerak tarinya. Dalam penelitian ini ditemukan perubahan sistim dan bentuk sajian yang dijiwai dengan jiwa zaman sekarang di mana durasi waktu garapan antara 1 sampai 2 jam, sudah jarang ditampilkan 7-8 jam (semalam suntuk) seperti pada masa kehadiran di masa lalunya. Perbedaan zaman masyarakat pendukungnya yaitu masyarakat Samigaluh sekarang ini sudah berada di kategori masyarakat maju namun tetap menjunjung tinggi budaya gotong royong di pedesaan. Hal ini menjadi kekuatan budaya yang menempatkan kesenian Bangilun tetap pada seni tontonan dan seni tuntunan di tengah masyarakatnya. Di samping itu perubahan bentuk penyajiannya yang tetap unik adalah koreografi gerak tidak bisa lepas dari bentuk syair lagunya. Berubahnya koreografi geraknya sebatas panjang pendeknya lagu dan cara menyambungkannya, sehingga sampai saat ini belum pernah terjadi antara gerak dan musik berjalan sendiri, mereka masih saling ketergantungan.ABSTRACTThe research with the title: "The Art of Bangilun Samigaluh, a Study of Changes in the Form of Presentation" is a study that analyzes the changing forms of performing arts, especially Bangilun art. Why "changes in form" need to be investigated, because this dance art is unique, the choreography is different from other dances. The uniqueness of this dance lies in on the basic concept of dance movements based on their poetry. Dance movements appear first because of what the lyrics of the song look like. In accordance with their function, the song lyrics that were composed for the benefit of da'wah and the contents of the teachings of human life have existed before the dance movements. In this study, it was found that the changes in the system and form of the dish were imbued with the spirit of today where the duration of cultivation was between 1 and 2 hours, it was rarely shown 7-8 hours (all night) as in the past. The difference in the times of the supporting community is that the Samigaluh community is now in the category of advanced society but still upholds the culture of gotong royong in rural areas. This has become a strong cultural force that places Bangilin art in the art of spectacle and art of guidance among its people. Besides that, the change in the form of presentation that remains unique is that the motion choreography cannot be separated from the form of the song's lyrics. The changes in the choreography of the movement are limited to the length of the song and the way to connect it, so that until now it has never happened between motion and music that runs alone, they are still interdependent
PERANAN SENI PERTUNJUKAN BARIKAN QUBRO DALAM MENDUKUNG PARIWISATA KEPULAUAN KARIMUNJAWA KABUPATEN JEPARA JAWA TENGAH Surojo Surojo; Iqbal Satrio Wicaksono
Joged Vol 10, No 1 (2019): APRIL 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.565 KB) | DOI: 10.24821/joged.v10i1.2806

Abstract

Tulisan ini memaparkan tentang peranan pertunjukan Barikan Qubra dalam mendukung pariwisata di Karimunjawa. Barikan Qubra semula adalah upacara adat bulanan, di mana setiap penduduk Karimunjawa membuat sesaji tumpeng kecil, telur, garam, kacang ijo,  dan cabe merah. Sesaji ini diletakkan di perempatan desa (sekarang sudah menjadi di tengah kota), dengan maksud sebagai ungkapan rasa syukur warga atas panen ikan setiap hari, harapan keselamatan setiap warganya, dan agar dijauhkan dari gangguan penyakit.  Adat Barikan Qubra dilaksanakan setiap hari Kamis Wage menjelang Jumat Pon. Namun 5 tahun belakangan ini dijadikan sekali dalam setahun. Pemerintah desa dengan segenap simpatisan budaya membentuk panitia penyelenggara dengan konsep pergelaran budaya yang lebih besar. Setelah dilaksanakan pertama kali di tahun 2015 dan mendapat tanggapan positif dari seluruh elemen masyarakat, maka ujicoba  ini dijadikan event penting di setiap tahunnya, guna meningkatkan kedatangan wisatawan. Barikan Qubra yang dahulu sebagai upacara adat kini dikemas sebagai seni pertunjukan arak-arakan yang menarik, namun tidak meninggalkan nilai ritual mereka. Arak-arakan atau pawai upacara Barikan Qubra menjadi hal yang ditunggu-tunggu setiap tahunnya. Pawai Barikan Qubra dilaksanakan dari perempatan desa menuju pelabuhan atau dermaga di mana para nelayan  beraktivitas mencari ikan. Tidak hanya sampai di situ, puncak acara pertunjukan berakhir di Alun-alun desa Karimunjawa di mana para warga dan pengunjung menjadi satu dengan wisatawan. Gunungan yang dibuat dengan ukuran besar menjadi rebutan para pengunjung yang hadir. Masyarakat percaya, apabila mendapatkan bagian dari gunungan tersebut, mereka akan mendapat banyak berkah dari Tuhan. This paper presents the results of research on the role of the Barikan Qubra show in supporting tourism in Karimunjawa. The original Qubra was a monthly traditional ceremony, in which every Karimunjawa resident made small cone offerings, eggs, salt, green beans and red chili. These offerings are placed at the village intersection (now in the middle of the city), with the intention of expressing gratitude for waraga for harvesting fish every day and being kept away from diseased diseases and the safety of every citizen.   Indigenous Barikan Qubra which is held every Thursday Wage before Friday Pon, the past 5 years are made once a year. The village government with all cultural sympathizers formed an organizing committee with the concept of a larger cultural performance. After being implemented in 2015 received a positive response from all elements of society, the trial was made an important event every year, to increase tourist arrivals. Baring the Qubra which used to be a traditional ceremony is now packaged as an interesting performing art but does not abandon the value of their rituals.   Indigenous Barikan Qubra which is held every Thursday Wage before Friday Pon, the past 5 years are made once a year. The village government with all cultural sympathizers formed an organizing committee with the concept of a larger cultural performance. After being implemented in 2015 received a positive response from all elements of society, the trial was made an important event every year, to increase tourist arrivals. Baring the Qubra which used to be a traditional ceremony is now packaged as an interesting performing art but does not abandon the value of their rituals.