Budi Astuti
ISI Yogyakarta

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

FENOMENA PERKEMBANGAN TARI NIRBAYA KARYA SETYASTUTI Kurnia Rahmadhani; Rina Martiara; Budi Astuti
Joged Vol 18, No 2 (2021): OKTOBER 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v17i2.6349

Abstract

ABSTRAKTari Nirbaya karya Setyastuti, merupakan sebuah karya tari yang terinspirasi dari ‘edan-edanan’. ‘Edan-edanan’ merupakan rangkaian upacara yang harus ada saat ritual upacara temanten agung di Kraton Yogyakarta. Proses terciptanya tari Nirbaya diawali saat Setyastuti melihat secara langsung rangkaian upacara perkawinan yaitu ‘edan-edanan’ dalam prosesi pernikahan GBPH Cokroningrat, yaitu putra Sri Sultan Hamengkubuwana IX. Keberadaan ‘edan-edanan’ dalam upacara temanten agung Kraton Yogyakarta merupakan sebuah ritual adat yang berfungsi sebagai penolak bala. Figur yang unik yang bertugas sebagai cucuk lampah dan diperankan oleh abdi dalem khusus yang dipercayai dapat mengusir hal-hal gaib yang dapat menganggu acara. Nirbaya dalam bahasa Jawa yang artinya ora ana alangan; ora ana bebaya (tidak ada halangan; tidak ada bahaya), sehingga kata Nirbaya dapat diterjemahkan sebagai sesuatu untuk menolak bahaya atau menghalau dari yang sifatnya negatif. Ditarikan oleh sepasang penari laki-laki dan perempuan, dengan tidak melupakan esensi gerak tari gaya Yogyakarta yang dirancang dengan nuansa komikal yang diwarnai gerak-gerak improvisasi.Terinspirasi dari tradisi itulah, tari Nirbaya diciptakan untuk mewakili Daerah Istimewa Yogyakarta dalam rangka Festival Tari Nusantara pada tanggal 31 Desember 1989. Dalam perspektif fenomenologi penelitian ini menampakkan sebuah fenomena kondisi faktual di masyarakat, setelah tari Nirbaya dipentaskan di Jakarta menampakkan tari Nirbaya tetap difungsikan untuk keperluan upacara pernikahan dan berkembang sampai sekarang. Dalam berbagai peristiwa tersebut menampakkan unsur gerak improvisasi, menyebabkan terjadinya perubahan sesuai dengan kreativitas penarinya. Perubahan yang mencolok adalah pada gerak improvisasi, pelaku, pola lantai, penari, rias dan busana sehingga bentuk penyajiannya mengalami perubahan.ABSTRACTNirbaya dance by Setyastuti, is a new dance work inspired by 'edan-edanan'. 'edan-edanan' is a series of ceremonies that must be present during the ritual of the temanten agung ceremony, especially at the Yogyakarta Palace. The creation process of the Nirbaya dance began when Setyastuti saw firsthand the series of wedding ceremonies, namely 'edan-edanan' in the wedding procession of GBPH Cokroningrat, the son of Sri Sultan Hamengkubuwana IX. The existence of 'edan-edanan’ in the ceremony of temanten agung Kraton Yogyakarta is a traditional ritual that functions as a repellent to disaster. The unique figure who serves as a cucuk lampah and is played by the abdi dalem, specifically becomes the figure of a lunatic who is often called 'edan-edanan' '. This figure portrays a figure as ‘edan-edanan’ just acting, but not crazy. It is the form of a madman that is believed to be able to ward off magical things that can interfere with the event. According to Setyastuti, 'edan-edanan' is a unique figure, when a dance is made it looks interesting without forgetting the nuances of classical dance in Yogyakarta style and the nuances of the rituals of the great temanten ritual in the Yogyakarta Palace. Inspired by this tradition, Setyastuti finally created the Nirbaya dance in the framework of the Festival Tari Nusantara in Jakarta representing the Special Region of Yogyakarta on December 31, 1989. Nirbaya is in Javanese which means ora ana alangan; ora ana bebaya (no obstruction; no danger), so that the word Nirbaya can be translated as something to reject danger or drive away from negative things. Danced by a pair of male and female dancers, not forgetting the essence of Yogyakarta-style dance movements designed with comical nuances tinged with improvised movements. In a phenomenological perspective, this research shows a phenomenon of factual conditions in society, after the Nirbaya dance was staged in Jakarta, it shows that the Nirbaya dance is still used for the purposes of wedding ceremonies and is developing until now. In various events, the elements of improvisational motion are seen, causing changes to occur according to the creativity of the dancers. The striking changes are in the improvisation movement, actors, floor patterns, dancers, make-up and clothing so that the form of presentation changes.
Dokumentasi Tari Tradisional Budi Astuti
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 11, No 1 (2010): Juni 2010
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v11i1.499

Abstract

Documentation of Traditional Dance. Tari merupakan seni sesaat, oleh karena itu dibutuhkan dokumentasiyang baik yang dapat merekam seluruh gerak dan aktivitas yang menyeluruh, sehingga suatu saat dapatdirekonstruksikan kembali. Sistem pendokumentasian secara tertulis atau pencatatan tari telah dilakukan sejakjaman dahulu. Sistem pencatatan tari sebagai salah satu cara mendokumentasikan tari masih dilakukan hinggasekarang. Namun demikian sistem pencatatan tari yang dilakukan oleh seniman satu dengan seniman lainnya ataudaerah satu dengan daerah lainnya, berbeda-beda. Terlepas dari kekurangan dan kelebihannya, perlu dipikirkansistem pencatatan tari yang bisa dipahami oleh semua kalangan sehingga bisa dipakai sebagai bahasa komunikasiyang sifatnya universal. Notasi laban bisa dijadikan alternatif sistem pencatatan tari karena mampu merekam detaildetailposisi dan gerak yang paling lembut dan rumit dari setiap bagian tubuh. Kemajuan teknologi memungkinkansistem pendokumentasian tari melalui perekaman gerak secara visual sangat bermanfaat untuk mendukung danmelengkapi dokumentasi tertulis.
Bedhaya Sumreg Keraton Yogyakarta Budi Astuti; Anna Retno Wuryastuti
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 13, No 1 (2012): Juni 2012
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v13i1.513

Abstract

Penemuan jejak masa lalu atas keberadaan suatu bentuk budaya, merupakan suatu fenomena yang sangat bernilai. Hal ini dapat melengkapi upaya menelusuri jejak masa lalu dengan ditemukannya susunan materi gerak untuk visualisasi teks tarinya. Namun demikian tafsir kebudayaan atas penemuan jejak masa lalu tersebut tidak bisa meninggalkan faktor kesejarahannya. Dalam kajian teks bedhaya Sumreg ini diketahui susunan materi gerak Bedhaya Sumreg dan keterkaitan makna sumreg dengan pola lantai dan pola gendhing pengiringnya. Pola-pola gendhing yang ditampilkan secara struktural tetap menggunakan tata aturan baku yang sampai sekarang lazim disebut dengan lampah bedhayan. Bedaya yang dianggap pusaka ini diungkapkan tidak hanya materi tekstualnya saja tetapi juga mencakup materi kontekstualnya.Kata kunci: bedhaya Sumreg, tari Yogyakarta, tari pusaka.ABSTRACTBedhaya Sumreg of Yogyakarta Palace. The discovery of the past existence traces of a culture is trully a valuable phenomenon. This may complete the efforts to trace the past with the discovery of the structure of motion for the textvisualization of a dance. However, the interpretation of culture on the discovery of traces of the past cannot abandon the historical factor. The textual study of Bedhaya (traditional dance) Sumreg has identifi ed the motional structure of Bedhaya Sumreg and the linkage of Sumreg meaning with the fl oor pattern and gendhing (the accompanied music). Thepatterns of gendhing structurally shown remain applying predefi ned set of rules, commonly known as lampah bedhayan (rules in dancing). Bedhaya (traditional dance) is considered a heritage and is revealed not only its textual material but also the contextual one.Keywords: bedhaya Sumreg, Yogyakarta dance, dance heritage.
ANALISIS KOREOGRAFI TARI SETABEK DI KABUPATEN MUSI BANYUASIN SUMATERA SELATAN Widya Yuli Sartika; Rina Martiara; Budi Astuti
Joged Vol 22, No 2 (2023): OKTOBER 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v22i2.11276

Abstract

RINGKASANTari Setabek merupakan tari penyambutan tamu yang menjadi ciri khas dari Kabupaten Musi Banyuasin Sumatera Selatan. Tari ini ditarikan oleh 10 orang penari yang terdiri dari 1 orang penari utama (pembawa tepak), 2 orang penari dayang penabur bunga, 4 orang penari pengiring, 2 orang pembawa tombak (laki-laki), dan 1 orang pembawa payung (laki-laki). Untuk menganalisis, dipakai pendekatan koreografi. Analisis pendekatan koreografi meliputi aspek bentuk, teknik, dan isi serta aspek tenaga, ruang dan waktu. Ketiga konsep tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh. Pemahaman analisis koreografi terdiri dari prinsip-prinsip kebentukan yang meliputi kebentukan, variasi, repetisi, transisi, rangkaian, dan klimaks. Struktur tari Setabek terdiri dari 3 bagian berdasarkan pola iringan, pola gerak, dan pola lantai, yaitu Jebo Maro (pembuka), Bedundai (inti), dan Karang Buri (penutup). Secara koreografis dapat disimpulkan bahwa ragam gerak yang spesifik pada tari Setabek adalah motif tabek dan motif lambaian, karena motif tersebut sering muncul atau dilakukan berulang kali dan juga sebagai motif penghubung antara gerakan yang satu dengan yang lainnya. Dari analisis struktur, tari Setabek memiliki 6 kalimat gerak dan 18 frase. Jumlah keseluruhan motif yang ada pada tari Setabek yaitu 128 motif yang terdiri atas 11 jenis motif dari 123 jumlah motif putri dan 5 jenis motif dari 5 jumlah motif laki-laki dengan 10 pola lantai yang digunakan. Dari struktur ini terlihat secara kebentukan bahwa tari Setabek merupakan tari yang bertemakan penyambutan tamu yang bisa dilihat dari gerakannya yang mencirikan penghormatan. Secara teknik gerak-gerak dalam tari Setabek ini memiliki kecendrungan bergerak sejajar dengan torso dan gerakan yang dilakukan juga tidak terlalu luas atau lebar, kebanyakan gerak yang dilakukan bergerak secara lemah lembut dan mengayun, serta hal tersebut juga didukung dengan musiknya yang sangat lembut dan mengalir. Secara isi tari Setabek merealisasikan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat Musi Banyuasin, hal tersebut terlihat dari segi kostum, properti, dan lain-lain.ABSTRACTThis study analyzes the choreography of the Setabek dance in Musi Banyuasin Regency, South Sumatra. Setabek dance is a welcoming dance that is characteristic of Musi Banyuasin Regency, South Sumatra. This dance is danced by 10 dancers consisting of 1 main dancer (slap bearer), 2 flower-sowing dayang dancers, 4 accompaniment dancers, 2 spear bearers (male), and 1 umbrella carrier (male). To analyze, used a choreographic approach. The analysis of the choreographic approach includes aspects of form, technique, and content as well as aspects of energy, space and time. The three concepts are a unified whole. The understanding of choreographic analysis consists of the principles of formation which include formation, variation, repetition, transition, sequence, and climax. The structure of the Setabek dance consists of 3 parts based on the accompaniment pattern, movement pattern, and floor pattern, namely Jebo Maro (opener), Bedundai (core), and Karang Buri (cover). Choreographically, it can be concluded that the specific range of motion in the Setabek dance is the tabek motif and the waving motif, because these motifs often appear or are performed repeatedly and also serve as a connecting motif between one movement and another. From the structural analysis, the Setabek dance has 6 sentences of movement and 18 phrases. The total number of motifs in the Setabek dance is 128 motifs consisting of 11 types of motifs from 123 female motifs and 5 types of motifs from 5 male motifs with 10 floor patterns used. From this structure, it can be seen from the form that the Setabek dance is a dance with the theme of welcoming guests which can be seen from its movements that characterize respect. Technically the movements in this Setabek dance have a tendency to move parallel to the torso and the movements performed are also not too broad or wide, most of the movements performed are gentle and swaying, and this is also supported by the music which is very soft and flowing. The content of the Setabek dance realizes the values that exist in the Musi Banyuasin community, this can be seen in terms of costumes, properties, and others.