Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Rerahsa Tri Anggoro
Joged Vol 7, No 1 (2016): APRIL 2016
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.705 KB) | DOI: 10.24821/joged.v7i1.1592

Abstract

Rerahsa merupakan sebuah karya tari kelompok yang ditarikan tujuh orang penari putra. Tari ini merupakan penuangan ide serta kreativitas dari rangsang kinestetik dan rangsang gagasan yaitu pengalaman empiris penata yang pernah berproses dengan tuna daksa sehingga menginspirasi penata untuk mengangkat tokoh pewayangan yaitu Gareng dengan dasar gerak yaitu gerak tidak wajar (cacat) dalam dasar tari tradisi Jawa gaya Yogyakarta. Fokus karya ini lebih kepada esensigerak cacat dan lebih memainkan ekspresi. Alasan penata mengambil tokoh Gareng karena Gareng ini merupakan salah satu simbol contoh kepemimpinan yang dapat memberikan contoh baik kepada generasi penerus saat ini, karena cacat fisik bukanlah hal yang memalukan, justru dapat memotivasi hidup untuk menjadi lebih baik. Menurut penata, dari masa ke masa seorang pemimpin sudah tidak lagi memiliki watak/sifat seperti tokoh Gareng, sehingga menjadi salah satu motivasi penata untuk menggarap karya Rerahsa ini.Pada karya ini terdiri dari 3 adegan. Pada introduksi penata membicarakan Gareng sebagai abdi/pamong. Pada adegan 1 lebih fokus kepada studi gerak gareng dengan berbagai karakter, sedangkan adegan 2 membicarakan 3 poin, yaitu Gareng yang lupa akan titahnya sebagai pamong, membicarakan ketika Gareng menjadi Raja, dan imajinasi Gareng terhadap wanita pujaannya yaitu Dewi Saradewati. Pada adegan 3, penata membicarakan sosok Gareng yang kembali ke perenungan dan berintrospeksi diri.Diharapkan dengan adanya karya cipta tari ini, masyarakat dan penonton dapat mengerti dan memahami bahwa janganlah memandang orang sebelah mata, jangan melihat dari segi fisik, namun lihatlah orang dari hatinya, sebagaimana yang digambarkan oleh sosok Gareng ini.  Rerahsa is a group dance work which danced by seven male dancer. This dance is the way of pouring ideas and creativity from kinesthetic stimuli and notion stimuli, namely the idea of empirical experience by the stylist who ever proceed with the disabled so as to inspire the stylist to lift the puppet characters named Gareng, as the basic of the unnatural motion (defects) in basic Javanese traditional dance, Yogyakarta’s style. The focus of this work is the essence of defects motion and plays more expressions. The stylist takes Gareng as one of the leadership symbols that can provide a good example to the next generation nowadays, to show that a physical disability is not a shameful thing; it can motivates our life to be better. According to the stylist, a leader nowadays has no longer Gareng characteristics, thus becoming one of the stylist motivations to work on this Rerahsa work.This work consists of three scenes. In the introduction, the stylist indicates Gareng as servants / officials. Scene one is focusing on the study of Gareng’s motion with various characters, while the second scene is talking about three points. The first one is when Gareng who forgot his position as officials, the second one is when Gareng became a king, and the last one is about Gareng imagination against his female idol, goddess Saradewati. In the third scene, the stylist discusses Gareng who returns to self-reflection and introspection.Hopefully by this dance artworks, the public and the audience can see and understand to do not judge the book from the cover, do not judge someone by the physical looking, but look at their heart, as is illustrated by the figure of Gareng. 
Optimasi User experience Pada Platform Website Pemuda Sabilul Khoir Menggunakan Analisis Heatmap Hakim, Lukmanul; Tri Anggoro; Mochamad Taufiqurrochman Abdul Aziz Zein
Joutica Vol 10 No 2 (2025): SEPTEMBER
Publisher : Universitas Islam Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30736/jti.v10i2.1450

Abstract

User experience (UX) merupakan elemen krusial dalam pengembangan website, mencakup seluruh aspek interaksi pengguna, mulai dari tampilan antarmuka hingga kenyamanan dalam menjelajahi situs. Penelitian ini bertujuan mengoptimalkan UX pada website Pemuda Sabilul Khoir melalui analisis heatmap dengan menggunakan alat bantu Hotjar. Pemilihan website ini didasarkan pada minimnya evaluasi berbasis data selama pengembangannya, yang menyebabkan perbaikan selama ini hanya didasarkan pada asumsi. Analisis heatmap berfungsi untuk memvisualisasikan area interaksi pengguna seperti bagian yang sering diklik, digulir, maupun diabaikan. Hasil analisis membantu mengidentifikasi kelemahan desain antarmuka dan elemen yang kurang optimal. Dengan menggunakan Hotjar, peneliti dapat mengevaluasi efektivitas Call to Action (CTA), struktur konten, serta navigasi situs berdasarkan perilaku pengguna secara langsung. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pendekatan berbasis data melalui heatmap efektif dalam mengarahkan perbaikan UX yang lebih tepat sasaran. Perubahan desain yang dilakukan berdasarkan data interaksi pengguna mampu meningkatkan kenyamanan dan partisipasi pengguna. Hasil ini diharapkan dapat menjadikan website Pemuda Sabilul Khoir sebagai media informasi dan komunikasi yang lebih efektif, fungsional, serta mudah diakses sesuai kebutuhan pengguna.
PENINGKATAN KEMAMPUAN BAHASA ASING UNTUK PERHOTELAN BAGI PELAJAR SMK MUHAMMADIYAH 1 MOYUDAN Tri Anggoro
Jurnal Berdaya Mandiri Vol. 7 No. 3 (2025): JURNAL BERDAYA MANDIRI (JBM)
Publisher : Universitas PGRI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jbm.v7i3.7736

Abstract

SMK Muhammadiyah 1 Moyudan in Sleman Regency, Yogyakarta, is a vocational education institution focusing on the hospitality sector. However, students from grades X to XII face challenges in mastering English, particularly speaking and listening skills, which are crucial in this industry. These limitations can affect their confidence in communicating with foreign guests and hinder their readiness to enter an increasingly globalized workforce. To address this issue, a practice-based training program has been implemented to improve students' English-speaking skills. This program includes awareness sessions on the importance of English in the hospitality industry and interactive simulations with professional scenarios involving native English speakers. Findings from a one-sample paired t-test on 36 participants of the community service program showed an increase of 3.28 points in students' understanding of the importance of English proficiency in the hospitality industry, with a significance level of 1%. This indicates that the community service activity successfully enhanced participants' awareness of the importance of English in the hospitality sector. Keyword: English, Community Empowerment, Vocational Training, Hospitality