Baharuddin Baharuddin
IAIN Pontianak

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Komunikasi Orang Tua dalam Pembinaan Akhlak Anak Baharuddin Baharuddin
Raheema Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : PSGA LP2M IAIN Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.128 KB) | DOI: 10.24260/raheema.v4i2.1179

Abstract

Komunikasi orang tua dalam pembinaan akhlak anak sebagai berikut: Pertama, bentuk komunikasi yang ditemukan meliputi perintah ada yang keras, perintah melalui gambaran dan sekedar ungkapan biasa, perintah ada yang kaku (tidak kompromi, pelayanan langsung berupa hal yang diperlukan, pelayanan satu arah, komunikasi person yang diberikan orang tua ada yang rumit, kelompok kecil, kelompok besar, melalui garis besar (global). Kedua, proses komunikasi yang ditemukan diantaranya mengikuti kebiasaan di kantor, ada yang mengikat anak untuk bergaul, ada yang dengan cara keras seperti informasi, perintah dan ajakan dan ibu yang paling banyak melakukan komunikasi. Melihat komunikasi yang efektif dalam pembentuk akhlak remaja harus secara serius dilakukan secara baik dan maksimal sehingga hasil akan aplikasi dalam masyarakat ketika mereka berinteraksi ditengah-tengah masyarakat dapat berjalan dengan baik dan sesuai agama Islam.
ANAK DAN PEREMPUAN DALAM PELINDUNGAN KEKERASAN RUMAH TANGGA Baharuddin Baharuddin
Raheema Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : PSGA LP2M IAIN Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (481.062 KB) | DOI: 10.24260/raheema.v6i2.1517

Abstract

Children are a very valuable asset, then maintain, protect and provide good education, both religious and social education that is good and right. So they grow and develop into a good child and become the light of parents, family, religion and society. The primary and first education starts from the family because all the children know from new birth are only parents and close family, then the surrounding environment. This is also one of the main factors determining the good and bad character and morals of children. Children are basically pure human beings who have just been chosen. But the reality is certainly there are still many children who do not get their rights, they do not get a proper education, there is no care, no care and other rights. Every child has the right to receive care from both parents, this is so that the child's mentality can develop properly. If the child is not well educated, deviant behaviors will arise, from this disobedient behavior law violations will emerge. We have to protect this child as well as possible. Nowadays, women are also often we with a lot of abuse and violence at home so that women must become priority to be protected so that they get legal protection properly. Keywords: Women, Children, Protection, Violence, Protection Anak merupakan harta yang sangat berharga, maka pelihara, lindungi dan berilah pendidikan yang baik, baik itu pendidikan agama dan sosial kemasyarakatan yang baik dan benar. Sehingga mereka tumbuh kembang menjadi anak yang baik dan menjadi cahaya orang tua, keluarga, agama dan masyarakat. Pendidikan utama dan pertama itu dimulai dari keluarga karena yang anak kenal dari baru lahir cuma orang tua dan keluarga dekatnya, selanjutnya baru lingkungan sekitarnya. Ini juga salah satu faktor utama menentuka baik buruknya akhlak serta moral anak. Anak pada dasarnya adalah manusia yang masih suci yang baru diliharikan. Namun kenyataannya yang pasti masih banyak anak yang tidak mendapatkan hak-haknya, ia tidak mendapatkan pendidikan yang layak, tidak ada yang mengasuh, tidak mendapat perawatan dan hak-hak lainnya. Setiap anak berhak mendapat asuhan dari kedua orang tuanya, hal ini agar mental anak dapat berkembang secara baik. Jika anak tidak dididik secara baik maka akan timbul perilaku-perilaku menyimpang, dari perilaku menyipang ini akan muncul pelanggaran-pelanggaran hukum. Hal ini anak harus kita lindungi sebaik-baik mungkin. Dewasa ini juga perempuan juga sering kali kita dengan banyak pelecehan dan kekerasan dirumah tangga sehingga perempuan harus menjadi perioritas untuk dilindungi sehingga mereka mendapatkan perlindungan hukum secara baik dan benar. Kata Kunci: Perempuan, Anak, Pelindungan, Kekerasan, Perlindungan
Interaksi Sosial dalam Pelayanan Akademik dalam Kehidupan Pendidikan Tinggi Ditinjau dari Teori Interaksionisme Simbolik Baharuddin Baharuddin
Jurnal Al-Hikmah: Jurnal Dakwah Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/al-hikmah.v11i2.849

Abstract

Interaksi sosial secara global memberikan gambaran bahwa dalam dunia pendidikan maupun masyarakat luas diperlukan pemahaman yang baik dalam pencapaian kehidupan serta kebaikan bersama. Secara global interkasi yang terbangun dalam dunia pendidikan baik itu dosen, mahasiswa dan karyawan harus serasi sesuai tujuan dari pendidikan tersebut. Pendidikan merupakan upaya pencerdasan masyarakat serta anak bangsa, kedepannya dalam pendidikan ditanamakan aspek yang berkaitan dengan ilmu yang mempelajari makna hubungan antara manusia satu dengan yang lainnya tidak melihat pada perbedaan tetapi mengedepankan persamaan. Metode serta strategi harus tepat digunakan dalam memberikan arahan pada peserta didik. Dalam hubungan masyarakat luas banyak hal-hal yang tidak jelas diungkapkan secara kata-kata (lisan) berangkat dari hal tersebut teori interaksionisme simbolik yang ada harus dipahami sehingga tidak terjadi salah komunikasi atau interkasi terbangun berjalan kurang baik. Simbol-simbol dari kehidupan harus dijabarkan secara baik sehingga terlihat secara utuh sehingga terbangunlah hubungan yang harmonis dengan sesama manusia, terutama dalam melayanani mahsiswa yang memerlukan bantuan secara cepat dan tepat dilakukan, dalam hal ini penulis melayani mahasiswa yang mau membuat transkip nilai baik sementara maupun transkip nilai akdemik (transkip nilai akhir) setelah ujian skripsi selanjutnya dimasukkan dalam data alumni.
Asimilasi Sosial Muallaf Tionghoa di Kecamatan Pontianak Barat Kota Pontianak Baharuddin Baharuddin
Jurnal Al-Hikmah: Jurnal Dakwah Vol 11, No 1 (2017)
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/al-hikmah.v11i1.821

Abstract

This research aims at describing a social assimilation of Tionghua muallaf (converted Muslim) residing in West Pontianak County, Pontianak City of West Kalimantan. There are several important findings of this work with regards to the Tionghua muallaf including; Social Condition Group of Tionghoa Muallaf In West Pontianak District, Assimilate Process of Tionghoa Muallaf After Entering Islam, and Resistances Group of Tionghoa Muallaf.The social condition of the muallaf suggests that they convert to Islam due to several reasons including their new marital life, receiving hidayah (guidance) from Allah, having knowledge about Islam before converting to Islam, having seen the benefits and changes in their life such as satisfaction, peace, prosperity, patient, high respect to gifts from Allah and wanting to have a better life and clean heart in life.The converting process includes through religious clerics, the local offices of religious affair (Kantor Urusan Agama), extended parents and respected public figures; the assimilation process of the Tionghua muallaf shows that the Tionghua muallaf have not had better social relationships with their Muslim neighbors, not been courageous enough to practice their Islam in public sphere, not done better assimilation within their new communities and not decided their direction of their new life with Islam; the discussion of constraining issues of the Tionghua muallaf to indicate that they practice close relationships within them, do not have jobs, do not have good motivations of life due to their lacks of hard work courage, they are low respect to their opportunities and self-capabilities, selfish and less public care, good communication, less understanding of their new life, do not have enough time to study Islam due to the limitation of available teachers, practice Islam with instant hopes, think about economic benefits in all activities and are less involved in both formal and informal religious support institutions.Based on the above findings the work proposes some important recommendations including (1) it is important to encourage/develop a better relationship model; (2) it is also important to encourage/develop an Islamic and based-on-Qur’an-and-Hadist environment for the Tionghua muallaf; (3) if there are any problems and issues related to practicing Islam the muallaf should soon ask Islamic clerics and teachers; (4) it is important to give guidance and care to the muallaf having low courage to maximally practice their new religion; and (5) there should be a call to practice harmonic life within the Tiongoua muallaf with better daily interaction, care and hospitality.