Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Historiography

Pembelajaran jarak jauh pada mata pelajaran Sejarah di SMA Islam Terpadu Pesantren Nururrahman Kota Depok Sausan Huwaida; Muhammad Fakhruddin; Humaidi Humaidi
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 2, No 3 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (560.641 KB) | DOI: 10.17977/um081v2i32022p409-420

Abstract

This research aims to describe the planning, implementation, and supporting and inhibiting factors in distance learning in history subjects at the Integrated Islamic Senior High School Nururrahman Islamic Boarding School Depok City. The research method used in this research is a qualitative method with a case study approach. Data collection techniques used in this study consisted of observation, interviews, and documentation. The results of the study concluded that distance learning planning, especially in history subjects, was good, in terms of the objectives to fulfill children's educational rights, support for personnel from the school and from outside the school, and the existence of a curriculum, division of tasks for teachers and other staff employees, as well as the availability of facilities. and adequate infrastructure. Furthermore, in the implementation of learning, the history teacher conveys material using the lecture and discussion method, inserts videos, and provides infographics at the end of the lesson so that students who are left behind in the zoom class can receive and understand the material as a whole at the meeting that day. Submission of material by history teachers to students has been carried out optimally, interactively, and teachers are able to explore and utilize digital-based learning media. The supporting and inhibiting factors in distance learning in history subjects are divided into 2, namely internal and external factors.  Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang perencanaan, pelaksanaan, dan faktor pendukung serta penghambat dalam pembelajaran jarak jauh pada mata pelajaran sejarah di SMA Islam Terpadu Pesantren Nururrahman Kota Depok. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa perencanaan pembelajaran jarak jauh terutama pada mata pelajaran sejarah sudah baik, dari segi tujuan untuk pemenuhan hak pendidikan anak, dukungan personel dari pihak sekolah maupun dari luar sekolah, dan adanya kebijakan kurikulum, pembagian tugas guru dan staf karyawan lainnya, serta ketersediaan sarana dan prasarana yang sudah memadai. Selanjutnya, dalam pelaksanaan pembelajarannya, guru sejarah menyampaikan materi menggunakan metode ceramah dan diskusi sudah baik, menyelipkan video, serta memberikan infografis diakhir pembelajaran sehingga peserta didik yang tertinggal materi di kelas zoom dapat menerima dan memahami inti materi secara keseluruhan pada pertemuan pada hari tersebut. Penyampaian materi oleh guru sejarah kepada peserta didik telah dilakukan secara optimal, interaktif, dan guru mampu mengeksplorasi serta memanfaatkan media pembelajaran berbasis digital. Adapun faktor pendukung dan penghambat dalam pembelajaran jarak jauh pada mata pelajaran sejarah terbagi menjadi 2 yaitu faktor internal dan eksternal.
Perkembangan kuliner Tionghoa di Batavia 1915-1942 Widya Putri; Djuanaidi Djuanaidi; Humaidi Humaidi
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 2, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1017.682 KB) | DOI: 10.17977/um081v2i22022p181-192

Abstract

This article aims to examine the development of Chinese culinary in Batavia in the period 1915-1942. The research method uses historical research methods with five stages consisting of topic selection, heuristics, verification, interpretation, and historiography. The sources used in this study used primary and secondary sources from interview data. The evolution of Chinese culinary in Batavia could not be separated from the migration of Chinese people to Batavia which is mostly carried out by men because of the absence of Chinese women, these men married local women. As a result of this intercultural marriage, it causes assimilation and acculturation in the culinary field. Chinese people get local influence in the culinary field, and otherwise. Especially, since the massive Dutch colonialism, the Chinese in overseas did not only accept local elements but also Dutch influence. Likewise, the Dutch accepted the Chinese influence in their eating culture. One form of Chinese culinary influence that is quite inherent in Batavia occurs in the Betawi ethnicity. Penulisan artikel ini bertujuan untuk mengkaji perkembangan kuliner Tionghoa di Batavia pada kurun waktu 1915-1942. Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah dengan lima tahapan terdiri dari pemilihan topik, heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Sumber yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan sumber primer maupun sekunder juga dibantu dengan data wawancara. Perkembangan kuliner Tionghoa di Batavia tidak lepas dari migrasi orang Tionghoa ke Batavia yang kebanyakan dilakukan oleh para lelaki Tionghoa karena tidak adanya perempuan Tionghoa para lelaki ini menikah dengan wanita setempat. Akibat adanya pernikahan beda budaya ini menyebabkan asimilasi maupun akulturasi dalam bidang kuliner. Orang Tionghoa mendapat pengaruh lokal dalam bidang kuliner, begitu pula sebaliknya. Apalagi sejak masifnya kolonialisme Belanda, orang Tionghoa di tanah rantau tidak hanya menerima unsur lokal namun juga pengaruh Belanda. Begitu pula orang Belanda menerima pengaruh Tionghoa dalam budaya kulinernya. Salah satu bentuk pengaruh kuliner Tionghoa yang cukup melekat di Batavia terjadi pada etnis Betawi.
Hubungan dan pemikiran para perwira Batak pada masa Revolusi hingga Liberal tahun 1945-1959 Rafida Dwikaneta; Humaidi Humaidi; Sri Martini
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 3, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um081v3i12023p29-43

Abstract

This research uses historical method with descriptive-narrative approach and aim to describe the history of the relationship between Batak officers in the Indonesian military during the Revolution to the Liberals in 1945—1959. The results showed that Batak officers were involved in many conflicts, especially in the 1950s, which Ulf Sundhaussen called the Trial and Trial Era. The conflict between the Batak officers involved various events, including the ReRa Hatta incident, the 17 October 1952 incident, Nasution became the Army Chief of Staff for the second time, the Lubis incident, and finally the PRRI rebellion. Differences in educational and religious backgrounds did not really matter to the Batak officers at that time. That means, the Batak officers at that time showed that they prioritized their idealism over their fellow tribesmen. In fact, Batak customs are closely related to the family contained. However, many Batak officers who became leaders in the Army showed that they had a work ethic and morals, in accordance with traditions.Penelitian ini menggunakan metode historis dengan pendekatan deskriptif-naratif yang bertujuan untuk mendeskripsikan sejarah hubungan dan pemikiran para perwira Batak dalam militer Indonesia pada masa Revolusi hingga Liberal tahun 1945—1959. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para perwira Batak banyak terlibat konflik, terutama pada tahun 1950-an, yang disebut Ulf Sundhaussen sebagai Era Coba-Coba. Konflik para perwira Batak ini meliputi berbagai peristiwa, antara lain ReRa Hatta, Peristiwa 17 Oktober 1952, Nasution menjadi KSAD kedua kalinya, Peristiwa Lubis, hingga puncaknya pada pemberontakan PRRI. Perbedaan latar belakang pendidikan maupun agama tidak terlalu menjadi masalah bagi para perwira Batak masa itu. Itu artinya, perwira Batak masa itu menunjukkan mengutamakan idealismenya dibandingkan kekerabatan sesama sukunya. Padahal, adat Batak terkenal dengan kekeluargaan yang erat. Bagaimanapun, perwira Batak banyak yang menjadi pemimpin dalam Angkatan Darat menunjukkan bahwa mereka memiliki etos kerja dan moral, sesuai dengan ajaran adatnya.