Lupi Anderiani
Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Surakarta

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Musik Panting di Desa Barikin Kalimantan Selatan: Kemunculan, Keberadaan dan Perubahannya Lupi Anderiani
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 17, No 3 (2016): Desember, 2016
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1220.137 KB) | DOI: 10.24821/resital.v17i3.2229

Abstract

Panting is a musical practice of South Kalimantan, Indonesia. The term "Panting" itself either the name of a plucked-lute instrument and of a musical ensemble. Such ensemble emerged ca the 1980s among the Barikin people of South Kalimantan. This study, using the ethnomusicological approach which is emphasized on fieldwork, is aimed to examine the emergence and change of Panting music. Based on the analysis, it appears that the emergence of Panting music is primarily caused by a creative act of its pioneer in response to the existing musical practices. The music is undergoing a number of changes in terms of the functions of music, performance, construction of panting instrument,  and pattern of transmission. These changes are mainly due to the personal desire of the musicians as well as the allowances of surrounding cultural circumstances.Panting merupakan sebuah praktik musik yang berasal dari Kalimantan Selatan, Indonesia. Istilah “Panting” memiliki dua arti, yakni, pertama, sebagai nama sebuah instrumen berdawai yang dimainkan dengan cara dipetik; dan, kedua, nama dari sebuah ansambel musik. Musik Panting muncul sekitar tahun 1980-an. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnomusikologis dengan menekankan pada kerja lapangan, bertujuan untuk menelaah kemunculan dan perubahan musik Panting. Berdasarkan analisis, terlihat bahwa musik Panting terutama muncul sebagai hasil laku kreatif seniman pelopornya dalam menanggapi praktik-praktik musik yang sudah ada. Dalam perjalanannya musik ini mengalami sejumlah perubahan, yakni dalam hal fungsi musik, bentuk penyajian, konstruksi instrumen, dan pola transmisi. Perubahan ini terutama disebabkan oleh keinginan personal para musisinya dan juga kondisi lingkungan kultural yang memungkinkan.