Ign. Krisna Nuryanta Putra
Jurusan Pedalangan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Wayang Beber Priangan: Alih Wahana Cerita Lutung Kasarung ke dalam Wayang Beber Hanggar Budi Prasetya; Haryanto Haryanto; Retno Dwi Intarti; Ignasius Krisna Nuryanta Putra; Fujidiana Ignaningratu
PANGGUNG Vol 33, No 1 (2023): Nilai-Nilai Seni Indonesia: Rekonstruksi, Implementasi, dan Inovasi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1601.398 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v33i1.2473

Abstract

Wayang beber merupakan salah satu genre wayang yang telah lama ada di Indonesia. Dibandingkan dengan genre wayang yang lain, wayang ini tergolong kurang berkembang. Sebagian besar literatur wayang beber membahas wayang beber Remeng Mangunjaya dan Jaka Kembang Kuning. Wayang beber masih memungkinkan dikembangkan dengan mengalihwahanakan cerita atau folklor lokal yang berkembang, salah satunya folklor Arya Kamandaka atau Lutung Kasarung. Tulisan ini bertujuan untuk menunjukkan proses alih wahana dari buku cerita Lutung Kasarung ke dalam wayang beber priangan dengan lakon Arya Kamandaka. Untuk mewujudkan ini, pengkarya menggunakan teori alih wahana dan teori ruang waktu datar (RWD). Teori alih wahana diterapkan untuk mengalihwahanakan cerita dari (wahana) buku ke dalam (wahana) wayang. Teori ruang waktu datar (RWD) diterapkan dalam mewujudkan cerita ke dalam bentuk wayang beber. Berdasarkan kedua teori ini telah berhasil dibuat wayang beber yang menceritakan kisah Arya Kamandaka kedalam tiga gulungan, setiap gulungan terdiri atas 4 sekuen. Cerita yang ditampilkan dalam wayang beber ini terlalu datar, kurang ada konflik, sehingga kurang menarik untuk dipertunjukkan. Penelitian ini menyarankan untuk dilakukan penelitian lanjutan untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan ini. Kata kunci: Wayang Beber Priangan, Arya Kamandaka, ruang waktu datar
Perancangan Naskah Wayang Beber Lakon Kamandaka Fujidiana Ignaningrattu; Ign. Krisna Nuryanta Putra; Hanggar Budi Prasetya; Retno Dwi Intarti; Hariyanto Hariyanto
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 1 (2023): Vol 17, No 1 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ringkasan Penelitian ini merupakan naskah wayang beber  lakon Kamandaka. Wayang ini merupakan alih wahana cerita rakyat Lutung Kasarung kedalam wayang beber. Teori alih wahana digunakan untuk mewujudkan alih wahana cerita rakyat Lutung Kasarung ke dalam bentuk pertunjukan wayang beber. Berdasarkan teori ini berhasil dibuat naskah pertunjukan untuk pertunjukan karya beber tiga gulungan beber. Kata Kunci: Wayang Beber Priangan; Kamandaka; Banyak Catra.  Abstract. The purpose of this research is to make script for Kamandaka story of Wayang Beber. This design of wayang is a transformation from Lutung Kasarung folklór into wayang beber. The creator has used ‘alih wahana theory’. This theory was used to create and transform Lutung Kasarung folklór into wayang beber. As with the final result, the creator could make script for 3 rolls of wayang beber for Kamandaka story. Keywords: Wayang Beber Priangan; Kamandaka; Banyak Catra.
Keprakan dalam Pertunjukan Wayang Gaya Yogyakarta: Studi Kasus Pementasan Ki Hadi Sugito Putra, Ign. Nuryanta; Prasetya, Hanggar B.; -, Sunyata
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 15, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v15i2.853

Abstract

Keprakan adalah bunyi yang dihasilkan oleh cempala tangan atau cempala kaki yang dipukulkan pada kotak wayang dalam pertunjukan wayang. Keprakan menjadi bagian dari karawitan pedalangan dan memiliki peran penting dalam membangun estetika pertunjukan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan memahami teknik dan pola keprakan dalam pertunjukan wayang. Data diperoleh melalui pengamatan pada dua puluh pertunjukan wayang yang dipergelarkan oleh Ki Hadi Sugito. Analisis musikal dilakukan dengan cara melihat hubungan antara keprakan dengan jenis gending dan suasana adegan yang diciptakan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa bunyi keprak memiliki dua fungsi utama, yaitu sebagai penanda atau aba-aba dari dalang kepada para pengrawit dan memberikan suasana dramatik sehingga pertunjukan terasa hidup. Pola keprakan terbentuk dari dua unsur yaitu neteg dan mlatuk. Dari dua pola ini berkembang pola permainan lainnya seperti mbanyu tumetes, ngeceg, nisir, nduduk, dan geter. Keprakan in Yogyakarta Wayang Style: A Case Study on Ki Hadi Sugito’s Wayang Performance. Keprakan is the sound produced by hand or foot cempala slapped on the puppets box in a wayang performance. Keprakan becomes part of the music for wayang and has an important role in building a performing aesthetic. This study aims to describe and understand the keprakan techniques and patterns in wayang performance. The data are obtained through observations on twenty of Ki Hadi Sugito’s  wayang performances. The musical analysis is done by looking at the relationship between keprakan with the musical types and the created atmosphere scene. Based on this study, it can be concluded that the keprak sound has two main functions, namely as signs or clues from the puppet master to the musicians, and to provide a dramatic atmosphere. Keprakan pattern is formed of two elements, namely neteg and mlatuk. Of these two patterns produce other patterns such as mbanyu tumetes, ngeceg, nisir, nduduk, and geter.
Wayang Beber Priangan: Alih Wahana Cerita Lutung Kasarung ke dalam Wayang Beber Hanggar Budi Prasetya; Haryanto Haryanto; Retno Dwi Intarti; Ignasius Krisna Nuryanta Putra; Fujidiana Ignaningratu
PANGGUNG Vol 33 No 1 (2023): Nilai-Nilai Seni Indonesia: Rekonstruksi, Implementasi, dan Inovasi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v33i1.2473

Abstract

Wayang beber merupakan salah satu genre wayang yang telah lama ada di Indonesia. Dibandingkan dengan genre wayang yang lain, wayang ini tergolong kurang berkembang. Sebagian besar literatur wayang beber membahas wayang beber Remeng Mangunjaya dan Jaka Kembang Kuning. Wayang beber masih memungkinkan dikembangkan dengan mengalihwahanakan cerita atau folklor lokal yang berkembang, salah satunya folklor Arya Kamandaka atau Lutung Kasarung. Tulisan ini bertujuan untuk menunjukkan proses alih wahana dari buku cerita Lutung Kasarung ke dalam wayang beber priangan dengan lakon Arya Kamandaka. Untuk mewujudkan ini, pengkarya menggunakan teori alih wahana dan teori ruang waktu datar (RWD). Teori alih wahana diterapkan untuk mengalihwahanakan cerita dari (wahana) buku ke dalam (wahana) wayang. Teori ruang waktu datar (RWD) diterapkan dalam mewujudkan cerita ke dalam bentuk wayang beber. Berdasarkan kedua teori ini telah berhasil dibuat wayang beber yang menceritakan kisah Arya Kamandaka kedalam tiga gulungan, setiap gulungan terdiri atas 4 sekuen. Cerita yang ditampilkan dalam wayang beber ini terlalu datar, kurang ada konflik, sehingga kurang menarik untuk dipertunjukkan. Penelitian ini menyarankan untuk dilakukan penelitian lanjutan untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan ini. Kata kunci: Wayang Beber Priangan, Arya Kamandaka, ruang waktu datar
Wayang Beber Priangan: Alih Wahana Cerita Lutung Kasarung ke dalam Wayang Beber Prasetya, Hanggar Budi; Haryanto, Haryanto; Intarti, Retno Dwi; Putra, Ignasius Krisna Nuryanta; Ignaningratu, Fujidiana
PANGGUNG Vol 33 No 1 (2023): Nilai-Nilai Seni Indonesia: Rekonstruksi, Implementasi, dan Inovasi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v33i1.2473

Abstract

Wayang beber merupakan salah satu genre wayang yang telah lama ada di Indonesia. Dibandingkan dengan genre wayang yang lain, wayang ini tergolong kurang berkembang. Sebagian besar literatur wayang beber membahas wayang beber Remeng Mangunjaya dan Jaka Kembang Kuning. Wayang beber masih memungkinkan dikembangkan dengan mengalihwahanakan cerita atau folklor lokal yang berkembang, salah satunya folklor Arya Kamandaka atau Lutung Kasarung. Tulisan ini bertujuan untuk menunjukkan proses alih wahana dari buku cerita Lutung Kasarung ke dalam wayang beber priangan dengan lakon Arya Kamandaka. Untuk mewujudkan ini, pengkarya menggunakan teori alih wahana dan teori ruang waktu datar (RWD). Teori alih wahana diterapkan untuk mengalihwahanakan cerita dari (wahana) buku ke dalam (wahana) wayang. Teori ruang waktu datar (RWD) diterapkan dalam mewujudkan cerita ke dalam bentuk wayang beber. Berdasarkan kedua teori ini telah berhasil dibuat wayang beber yang menceritakan kisah Arya Kamandaka kedalam tiga gulungan, setiap gulungan terdiri atas 4 sekuen. Cerita yang ditampilkan dalam wayang beber ini terlalu datar, kurang ada konflik, sehingga kurang menarik untuk dipertunjukkan. Penelitian ini menyarankan untuk dilakukan penelitian lanjutan untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan ini. Kata kunci: Wayang Beber Priangan, Arya Kamandaka, ruang waktu datar
Prabu Bogadhenta dalam Lakon Bogadhenta Gugur oleh Ki Hadi Sugito: Sebuah Kajian Mitologi-Ritual Mikael Satrio Murbo Suseto; Aris Wahyudi; Ign. Krisna Nuryanta Putra
Wayang Nusantara: Journal of Puppetry Vol 6, No 2 (2022): September 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/wayang.v6i2.8037

Abstract

AbstractThis study aims to discover the distinct characteristics of King Bogadhenta wayang character from a mythological-ritual perspective. Narratively, King Bogadhenta has supernatural power which cannot be found in other wayang characters. This unique supernatural power is his tears that can mutually revive King Bogadhenta himself, his wife, and his elephant. The process of his death actually shows his supernatural power, which other characters in wayang did not have. Referring to Baratayuda war as a ritual, Prabu Bogadhenta’s death has a particular significance in a mythological-ritual context. With the of ‘epic-ritual-myth’ and ‘laku-mantra-offering’ analysis, this study reveals that King Bogadhenta has performed Tantric rituals and he has Indra’s characteristics. His death becomes an offering in Baratayuda war ritual. When King Bogadhenta is killed by Arjuna, the son and reincarnation of Indra and also the manifestation of Shiva, King Bogadhenta’s death is perfected. In relation to the Baratayuda war as ritual, it means that King Bogadhenta has successfully achieved his ritual and life perfection. The perfection of the Baratayuda ritual cannot be accomplished by war victory; rather, King Bogadhenta, as a devotee of Shiva, was able to bring his god into existence and returned to his origin through his death in Tegal Kurusetra.AbstrakPenelitian ini bertujuan menemukan makna tokoh wayang Prabu Bogadhenta dalam perspektif mitologi-ritual. Dikisahkan Prabu Bogadhenta memiliki kesaktian yang tidak dimiliki oleh tokoh wayang lainnya. Kesaktiannya yaitu air mata yang dapat saling menghidupkan antara Prabu Bogadhenta, istri, dan gajah miliknya. Berdasarkan peristiwa kematiannya didapatkan persoalan mengenai kesaktiannya yang tidak dimiliki oleh tokoh lain dalam tradisi wayang. Selain itu, mengacu pada perang Baratayuda sebagai sebuah ritual maka kematian Prabu Bogadhenta memiliki makna tersendiri dalam konteks mitologi-ritual. Data penelitian diperoleh dengan melakukan transkrip rekaman audio Lakon Bogadhenta Gugur sajian Ki Hadi Sugito, pengamatan terhadap lakon-lakon yang memiliki hubungan dengan tokoh Prabu Bogadhenta, wawancara, dan studi pustaka. Hasil penelitian berdasarkan konsep ‘epik-ritual-mite’ dan konsep ‘laku-mantra-sesaji’ menunjukkan bahwa Prabu Bogadhenta melakukan ritual Tantrik dan memiliki aspek Indra. Kematiannya menjadi aspek sesaji dalam ritual perang Baratayuda. Prabu Bogadhenta gugur di tangan Arjuna sebagai putra dan reinkarnasi Indra, sekaligus sebagai manifestasi Syiwa yang mampu menyempurnakan Prabu Bogadhenta. Mengacu pada perang Baratayuda sebagai ritual, maka Prabu Bogadhenta telah berhasil dalam ritualnya dan mencapai kesempurnaan hidup. Kesempurnaan ritual Baratayuda tidak dicapai dengan kemenangan, namun Prabu Bogadhenta sebagai pemuja Syiwa mampu menghadirkan dewa yang dipujanya dan kembali kepada dewa asal-muasalnya yaitu Indra melalui kematiannya di Tegal Kurusetra.
Karakter Cablaka pada Tokoh Bawor dalam Pakeliran Gaya Banyumasan Lakon Wahyu Windu Wulan Slamet Sakti Hidayat; Hanggar Budi Prasetya; Ign. Krisna Nuryanta Putra; Krystiadi Krystiadi
Wayang Nusantara: Journal of Puppetry Vol 6, No 2 (2022): September 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/wayang.v6i2.12366

Abstract

AbstractThis study aims to scientifically prove the cablaka characteristics of Bawor character in Banyumasan wayang performance Wahyu Windu Wulan play presented by Ki Sugino Siswocarito. This study tries to see how the cablaka characteristics of Bawor character is reflected in the play. For the purpose, cablaka concept is used. The results have proven that when the puppet master presents Bawor character, he employs the techniques. Its cablaka characteristics are reflected through the depiction of living environment which is far from royal etiquette; namely in terms of the character’s behaviors, opinions, way of thinking, and way of communication with others, the other characters’ opinions about the character, other characters’ reactions to the character, and the character’s reactions to other characters who are honest, innocent and childish. The cablaka characteristics of Bawor character in wayang performance is evident from the language used, such as using rough, spontaneous, straightforward ngapak dialect giving the impression of being impolite and rude, but also serious, funny, pleasing and comical.Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan secara ilmiah mengenai karakter cablaka tokoh Bawor dalam pakeliran gaya Banyumasan lakon Wahyu Windu Wulan sajian Ki Sugino Siswocarito. Masalah utama yang diajukan dalam penelitian ini adalah bagaimana karakter cablaka tokoh Bawor tercermin dalam lakon tersebut. Untuk menjawab pertanyaan yang diajukan, langkah pertama yang dilakukan yaitu studi pustaka, dilanjutkan pengumpulan data, pengambilan sampel data. Langkah selanjutnya adalah transkripsi ucapan dalang dilanjutkan analisis menggunakan konsep cablaka. Berdasarkan hasil analisis, terbukti bahwa pada saat dalang menampilkan tokoh Bawor, karakter cablaka tercermin melalui gambaran lingkungan kehidupannya yang jauh dari tata krama keraton; perilaku, pendapat mengenai dirinya sendiri, jalan pikiran tokoh, cara tokoh lain berbicara dengannya, pendapat tokoh lain tentangnya, reaksi tokoh lain terhadap tokoh, dan reaksi tokoh terhadap tokoh lain yang menunjukkan sifat jujur, lugu, dan murni seperti anak-anak. Karakter cablaka tokoh Bawor dalam pakeliran terlihat melalui bahasanya yang menggunakan dialek ngapak dan kasar, ceplas-ceplos (‘spontan’), thok melong (‘tanpa basa-basi’), lugas yang terkesan tidak memiliki sopan santun dan kurang ajar; mbloak (‘serius tapi lucu’), dablongan (‘seenaknya sendiri’); dan sifatnya yang suka mbanyol (‘melawak’).
Struktur Lakon Murwakala Ki Awin dan Ki Redi Suta Yasa: Sebuah Perbandingan Sakti Sedono; Aris Wahyudi; Ign. Krisna Nuryanta Putra
Wayang Nusantara: Journal of Puppetry Vol 6, No 2 (2022): September 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/wayang.v6i2.13460

Abstract

AbstractThis study aims to find similarities and differences in dramatic structures of Murwakala play by Ki Awin and Murwakala play by Ki Redi Suta Yasa. Dramatic structure model by Bakdi Sumanto is used in the analysis. The results of the study show that there are similarities and differences between the Murwakala play by Ki Awin and by Ki Resi Suta Yasa. The similarities are story movement, several character names, identical characters and themes. While the differences lie in the number of story movements, number of scenes, number of characters, and character names. The differences indicate that the Betawinesse Murwakala play by Ki Awin has developed and changed, leading to a more complex narrative than the Surakarta Murwakala play by Ki Redi Suta Yasa.AbstrakPenelitian ini bertujuan menemukan persamaan dan perbedaan struktur dramatik lakon Murwakala Ki Awin dan lakon Murwakala Ki Redi Suta Yasa. Data penelitian ini berupa rekaman audio-visual lakon Murwakala Ki Redi Suta Yasa dan lakon Murwakala hasil wawancara dengan Ki Awin. Konsep struktur dramatik model Bakdi Sumanto digunakan dalam analisis. Untuk mencapai hasil yang diinginkan metode komparasi sebagai strategi analisis digunakan dalam tulisan ini. Adapun langkah awal yang dilakukan adalah studi pustaka dan wawancara untuk menentukan point of view penelitian dan menentukan data. Data terpilih lalu dideskripsikan dalam bentuk balungan lakon. Langkah terakhir adalah membandingkan lakon Murwakala Ki Awin dan Ki Redi Suta Yasa. Unsur yang dibandingkan dalam penelitian ini ialah alur, tokoh, dan tema. Hasil penelitian menunjukkan antara lakon Murwakala Ki Awin dan Ki Resi Suta Yasa terdapat persamaan dan perbedaan. Adapun persamaan dari keduanya yaitu dalam hal pergerakan cerita; beberapa nama tokoh; tokoh identik; dan tema. Sedangkan perbedaannya terletak pada jumlah pergerakan cerita, jumlah adegan, jumlah tokoh, dan nama tokoh. Munculnya perbedaan menunjukkan bahwa lakon Murwakala Ki Awin dari Betawi telah mengalami perkembangan dan perubahan ke arah cerita yang lebih kompleks dibanding lakon Murwakala Ki Redi Suta Yasa dari Surakarta.