Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

City Branding Ambon City Of Music Sebagai Folk Identity Music Di Maluku Aksa Noya
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 21, No 3 (2020): Desember 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v21i3.4488

Abstract

The article of city branding on Ambon City of Music discusses the legalisation of folk music identity in Maluku. By using the qualitative research method with a case study approach. Data obtained were primary data in the field, and the secondary data were obtained from various media. Data was collected by doing direct interviews and essential documents. Ambon City of Music is an iconic branding that becomes the identity for the people of Maluku. The people of Maluku have music DNA so that it is worth mentioning as a City of Music. It can be seen through the selection of Ambon city as a City of Music by UNESCO in October 2019. Ambon City has become a new identity to introduce the musical culture of the Maluku people. Music is used as social capital in creating peace, while the acculturation of the folk music genre is a symbol of community identity in Maluku. The author argues that the branding of Ambon City of Music itself elevates the dignity of folk music identity. The people of Maluku are known as having the highly musical skills, singing, and experts in playing traditional instruments, such as tifa, totobuang, bamboo flute, tahuri, etc. The recognition by UNESCO strengthens the musical identity of the people of Maluku in the world. Ambon city branding is a legitimation of Maluku folk identity in music and singing and a city of peace because of the music, with the result of the people of Maluku collectively having an awareness of primordial relations.
Model Strategis Co-Cultural Masyarakat Sipil (Studi Kasus dalam Penyelesaian Konflik Batas Tanah Negeri Pelauw, Dusun Ori Dan Negeri Kariu di Maluku Tengah) Noya, Aksa
Jurnal Ilmu Komunikasi Pattimura Vol 1 No 1 (2022): Jurnal Ilmu Komunikasi Pattimura
Publisher : Department of Communication Science, University of Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/JIKPvol1iss1pp84-100

Abstract

Artikel ini akan mengekplorasi model Strategis Co- Cultural (Komunikasi budaya), penulis melihat urgensi kajian ini yang pertama, penelitian ini melihat komunikasi budaya yang berorintasi pada nilai sejarah dan budaya adat istiadat; kedua, penulisan ini melihat konflik antara masyarakat negeri Pelauw, dusun Ori dan negeri Kariu yang secara geografis memiliki wilayah yang sama, sehingga ketiga wilayah yang bertikai ini tidak berbeda secara budaya. Rekonsiliasi terpadu dalam penyelesaian konflik tanah antara Negeri Pelauw, Dusun Ori dan Negeri Kariu tergolong konflik masyarakat sipil, sehingga memerlukan intervensi yang melibatkan kerjasama berbagai pihak, sebagai wewenang pemerintah dan masyarakat itu sendiri. Dalam hukum positif melalui peraturan daerah Kabupaten Maluku Tengah No. 04 tahun 2017 merumuskan bahwa Saniri negeri merupakan mitra dari pemerintah negeri. Dapat dilihat bahwa pemerintah perlu memfasilitasi Komunikasi antar lembaga adat (saniri negeri) agar dapat bersinergi dalam menyelesaikan masalah antar Negeri Pelauw, dusun Ori dan Negeri Kariu. Narasi asal-usul identitas inilah yang harus menjadi modal budaya dan spiritual untuk menciptakan sense atau rasa kolektif dari kedua pihak Tolok ukur efektivitas keberhasilan komunikasi budaya apabila masyarakat negeri Pelauw, dusun Ori dan negeri Kariu, mengedepankan yang nilai budaya yang berorientasi pada kesadaran sejarah, kesadaran hukum dan kesadaran akan kemanusiaan. Kesadaran akan kemanusiaan memiliki peran penting demi mewujudkan hukum demokarasi di Maluku. Penelitian ini akan menggunakan metode kualitatif, dengan melihat kasus pertikaian dan cara penyelesaian yang dilakukan oleh pemerintah, dan masyarakat. Teknik pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara, dokumentasi wacana media. Begitupun penawaran konten komunikasi budaya yang lebih efektiv dan efisien dalam penyelesaian konflik batas tanah Negeri Pelauw, Dusun Ori dan Negeri Kariu.
Pembuatan E-Magazine Digitalk Sebagai Media Informasi Di Era Digital Yuniar Sakinah Waliulu; Noya, Aksa; Indriyati, Intan
Media Pengabdian Kepada Masyarakat ( MPKM ) Vol. 2 No. 02 (2025): Media Pengabdian Kepada Masyarakat (MPKM)
Publisher : Rey Media Grafika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Komunikasi menjadi landasan dalam pengembangan kreativitas. Dalam konteks penulisan kreatif, komunikasi berfungsi sebagai sarana untuk menyampaikan gagasan dengan cara yang menarik, imajinatif, dan bermakna. Penulisan kreatif tidak hanya sekadar menulis cerita, puisi, atau esai, tetapi juga tentang bagaimana penulis dapat membangun hubungan emosional dengan pembaca. Majalah merupakan salah satu media komunikasi massa yang berusaha menyampaikan pesan kepada khalayak dengan sangat terperinci karena memiliki karakteristik yang berbeda dari media cetak lainnya. Karakteristik dari majalah dapat dilihat dari isi pesan yang disajikan sebuah majalah. Dalam penyajian pesannya, majalah menyajikan pesannya lebih mendalam, memiliki nilai aktualitas lebih lama, gambar atau foto yang lebih banyak dan memiliki sampul sebagai daya tarik. Adapun tujuan pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat melalui penerbitan e-magazine ini yakni (1) dapat memenuhi kebutuhan informasi masyarakat mengenai topik bagaimana menjadi content creator di era digital; (2) dapat mengerti dan memahami serta memanfaatkan media sosial dengan tepat; (3) dapat mengerti dan mengetahui tentang perkembangan teknologi dan digital; (4) memberikan panduan komprehensif dan inspirasi bagi para pemula untuk menjadi content creator, baik individu maupun perusahaan, dalam menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang di era digital dan (5) membantu pembaca memahami tren terkini dalam dunia produksi konten, menawarkan strategi efektif untuk meningkatkan kualitas dan jangkauan audiens, serta memperkenalkan teknologi inovatif yang dapat digunakan dalam berbagai platform. Pembuatan majalah online ini dimulai dari Januari - Maret 2025 di Kota Ambon.
Polemic of Religious Intolerance among Indonesian Users on YouTube Nur Aida Kubangun; Muhammad Tarmizi Kubangun; Aksa Noya
JSW (Jurnal Sosiologi Walisongo) Vol. 9 No. 2 (2025)
Publisher : Faculty of Social and Political Sciences - UIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jsw.2025.9.2.25590

Abstract

Digital space has now become a medium for contestation and competition, including in the field of religion, in the context of Indonesia's multireligious society. YouTube is one of the social media that has become a digital space that can give rise to polemics of intolerance in religious harmony in Indonesia. The aim of this study is to find out the polemic of religious intolerance on YouTube channels. Using qualitative methods and a netnographic approach, data collection was carried out using YouTube media with content that is in accordance with the orientation of this study, namely the polemic of religious intolerance. The results show that there are 15 YouTube channels that upload 20 video contents about religious debates, responses to the uploaded videos show various comments from netizens who claim the truth of their respective religions. The implications of claims regarding religious truth often manifest in intolerance, conflict, hatred, and even war. This study is expected to contribute to the prevention of religious intolerance and support religious moderation in order to achieve a more harmonious and tolerant religious life.