This Author published in this journals
All Journal Agromet
E. Runtunuwu
Indonesian Agroclimate and Hydrology Research Institute

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

ANTHROPOGENIC CHANGES ON LAND COVER AND ITS IMPACT ON ACTUAL EVAPOTRANSPIRATION E. Runtunuwu
Agromet Vol. 21 No. 2 (2007): December 2007
Publisher : PERHIMPI (Indonesian Association of Agricultural Meteorology)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/j.agromet.21.2.12-26

Abstract

 Tulisan ini memaparkan perubahan distribusi vegetasi akibat kegiatan manusia serta dampaknya terhadap perubahan evapotranspirasi aktual di Monsoon Asia. Perbandingan antara vegetasi aktual dan potensial menjadi indikator dari dampak perubahan akibat kegiatan manusia. Kondisi vegetasi akual diidentifikasi dengan menggunakan citra satelit, sedangkan vegetasi potensial diekstrak dengan menggunakan data iklim. Dengan membandingkan distribusi vegetasi antara potensial dan aktual, ternyata bahwa perubahan banyak terjadi di India, China, Indonesia dan Malaysia. Selanjutnya, dengan menggunakan analisis neraca air dilakukan perhitungan evapotransipirasi aktual untuk kedua kondisi tersebut dengan menggunakan data iklim yang sama, tetapi dengan nilai albedo yang berbeda sebagai penciri perbedaan antara kondisi vegetasi potensial dan actual. Perubahan a E berkisar antara 0-12% per tahun. Nilai 0 untuk mencirikan daerah yang tidak mengalami perubahan akibat kegiatan manusia. Penurunan a E sebesar kurang dari 5% teridentifikasi di daerah yang mengalami perubahan dari evergreen broadleaf forest (seasonal) ke padi sawahataupun dari hutan subtropikal menjadi lahan pertanian, seperti yang terjadi di Shandong (China), Uttar Pradesh (India). Penurunan a E mencapai 9% teridentifikasi pada saat hutan sub tropis berubah menjadi padi sawah, seperti yang terjadi di Assam (India), serta Guangdong dan Guangxi (China). Penurunan sebesar 12% terjadi pada saat hutan tropis berubah menajdi lahan pertanian seperti yang terjadi di Kalimantan Selatan (Indonesia) and Pahang (Malaysia).